BANGIL, Radar Bromo-Teka-teki motif pembunuhan menantu oleh ayah mertuanya sendiri di Dusun Blimbing, Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi akhirnya terkuak. Tersangka murka lantaran korban melawan saat hendak digauli.
Kamis (2/11), kasus itu dirilis di Mapolres Pasuruan. Sang ayah mertua Khoiri alias Satir, 53 sudah memakai baju tahanan. Dia dikeler petugas kepolisian. Tangannya diborgol.
Wakapolres Pasuruan Kompol Hari Aziz menjelaskan, pendalaman tengah dilakukan atas pembunuhan yang dilakukan Khoiri terhadap menantunya.
Berdasarkan pendalaman yang dilakukan itu, terungkaplah motifnya. Tersangka tega membunuh korban, karena nafsu bejatnya tak kesampaian.
Tersangka marah, ketika korban melawan. Saat tersangka, hendak menodai menantunya yang tengah hamil 7 bulan itu. "Tersangka berusaha memperkosa menantunya. Namun, korban berusaha menolak. Hal itu membuat murka, hingga akhirnya berujung pada pembunuhan," ungkap Aziz.
Perwira polisi dengan satu melati di pundaknya itu menjelaskan, tersangka yang disebut-sebut doyan "jajan" itu, tak tahan untuk melampiaskan syahwatnya, ketika korban keluar dari kamar mandi.
Tersangka kemudian mendatangi korban. Saat korban berada di dalam kamarnya. Saat itulah, tersangka melecehkan korban.
Tak hanya mencium pipinya. Tapi, juga berusaha memperkosa korban yang tengah hamil itu.
Mendapat perlakuan asusila, membuat korban melawan. Korban bahkan sempat teriak. Hingga membuat tersangka panik dan ketakutan.
Tersangka kemudian buru-buru ke dapur. Ia mengambil pisau. Tersangka yang tengah disulut emosi, kembali mendatangi korban. Kemudian menggorok leher korban.
Sayatan di leher korban itu membuat korban bersimbah darah dan akhirnya meninggal dunia. Janin yang ada di dalam perut korban pun tak tertolong.
"Tersangka menggorok leher korban yang saat itu sedang istirahat atau tiduran. Sehingga, korban tak sempat melawan," jelasnya.
Kasatreskrim Polres Pasuruan, AKP Ahmad Doni meyakinkan, tersangka melancarkan aksinya dalam keadaan sadar. Tidak ada pengaruh minuman keras. Bahkan, tidak ada gangguan kejiwaan yang melanda.
"Tapi, kami berencana untuk mengecek kejiwaannya. Sementara ini, tidak ada kondisi yang mengarah pada gangguan kejiwaan dialami tersangka," papar dia.
Di sisi lain, Khoiri mengaku, tega untuk menodai korban, lantaran tak mampu menahan syahwatnya. Ia melakukan pembunuhan itu, karena terpengaruh minuman keras.
"Saya terpengaruh minuman. Sampai sekarang pun, masih terasa pengaruhnya. Saya terdorong nafsu. Mahal (saat ditanya kenapa tidak jajan, red)," beber dia.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, seorang menantu di Parerejo, Purwodadi dibunuh ayah mertuanya sendiri. Saat aksi keji itu terjadi, kondisi rumah sedang sepi.
Korban hanya berdua dengan tersangka. Sementara sang suami korban yang juga anak tersangka, tengah menjalani interview kerja. (one/mie)
Editor : Muhammad Fahmi