Diduga Curi Uang, Santri di Pandaan Disiram Bensin

Jawanto Arifin • Dipublikasikan Selasa, 3 Januari 2023 | 16:18 WIB
INF saat dirawat di RS Mitra Sehat Medika Pandaan. Ia mengalami luka bakar 70 persen. (Polsek Pandaan for Radar Bromo)
INF saat dirawat di RS Mitra Sehat Medika Pandaan. Ia mengalami luka bakar 70 persen. (Polsek Pandaan for Radar Bromo)
PANDAAN, Radar Bromo - Dugaan penganiayaan santri oleh santri kembali terjadi. Gara-gara kesal uangnya dicuri, MAM, 16, nekat menyiramkan bensin pada temannya, INF, 13. Akibatnya, INF mengalami luka bakar sampai 70 persen.

Peristiwa itu terjadi di sebuah pondok pesantren di Karangjati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Sabtu (31/12) malam atau tepat di malam tahun baru, INF dilarikan ke IGD RS Mitra Sehat Medika Pandaan. Namun, karena mengalami luka bakar serius, korban dirujuk ke RSUD Sidoarjo.

Kanitreskrim Polsek Pandaan Iptu Budi Luhur menjelaskan, korban INF adalah warga Dusun Klabangan, Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Sementara, terduga pelaku MAM, 16, warga asal Lingkungan Kuti, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Pandaan.

Keduanya mondok di tempat yang sama di Desa Karangjati, namun beda kamar. INF pelajar SMP, sementara MAM adalah seniornya yang sudah SMA.

“Pelaku dan korban sama-sama anak di bawah umur. Mereka santri di pondok pesantren yang sama,” terang Budi.

Awalnya sekitar pukul 22.00, menurut Budi, korban disidang oleh ketua kamar di sebuah kamar di pondok pesantren setempat. Sebab, ketua kamar mendapat laporan dari pelaku bahwa korban telah mencuri uangnya beberapa waktu lalu.

Begitu selesai proses sidang, ketua kamar meninggalkan tempat itu. Saat itulah, pelaku masuk. Kemudian, dia ganti menginterogasi korban.

Saat itulah, pelaku menakut-nakuti korban. Pelaku mengatakan akan membakar korban. Namun, tidak sekadar menakut-nakuti, pelaku saat itu membawa botol air kemasan berisi pertalite atau bensin.



Pertalite itu didapat pelaku dari sisa-sisa bahan bakar di mesin pemotong rumput yang ada di pesantren. Kemudian, dimasukkan ke sebuah botol air kemasan.

Pertalite itu lantas disiramkan oleh pelaku ke tubuh korban. Setelah menyiramkan Pertalite, pelaku yang membawa korek gas lantas menyulut korek gas itu.

“Jadi, terlapor ini (pelaku, red) membawa korek api gas. Kemudian, korek api itu disulut apinya. Saat itulah, api menyambar tubuh korban yang sudah disiram Pertalite. Sehingga korban terbakar. Jadi tidak dibakar sebenarnya. Tapi tersambar api dari korek gas yang disulut oleh terlapor,” kata Budi.

Begitu tubuhnya terbakar, korban langsung berlari keluar kamar. Teman-temannya sesama santri yang mengetahui hal itu langsung membantu memadamkan api. Termasuk pelaku atau terlapor, ikut membantu memadamkan api yang membakar korban.

“Akibat kejadian ini, korban mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuhnya. Kini korban dirawat inap di RSUD Sidoarjo. Untuk kasusnya ditangani Satreskrim Polres Pasuruan. Terduga pelaku atau terlapor juga sudah diamankan di mapolres,” tegasnya.

Izuddin, pengasuh pondok pesantren tempat dugaan penganiayaan itu terjadi membenarkan peristiwa yang menimpa santrinya itu. Pihaknya pun menyayangkan kejadian itu.

“Kami kaget. Ini sungguh di luar kendali dan di luar sepengetahuan kami. Tentu kami sangat menyayangkan peristiwa ini,” ucap Gus Izzud, sapaan akrabnya.

Karena itu, pihaknya tidak tinggal diam. Malam itu juga setelah mengetahui peristiwa tersebut, pengurus pesantren langsung mengevakuasi korban dan membawahnya ke rumah sakit. Tepatnya ke IGD RS Mitra Sehat Medika di Pandaan. Setelah itu, korban dirujuk ke RSUD Sidoarjo.



Pigak pesantren juga melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Pandaan. Termasuk menghubungi orang tua korban dan pelaku.

“Kami langsung evakuasi korban ke rumah sakit. Kami juga yang laporan ke Polsek Pandaan atas kejadian ini,” tuturnya.

Keputusan itu diambil setelah proses klarifikasi dilakukan di internal pesantren atas dugaan penganiayaan itu. Malam itu juga, menurut Gus Izzud, pengurus pesantren melakukan klarifikasi pada terlapor atau pelaku.

Pada pengurus, pelaku mengaku kehilangan uang beberapa waktu lalu. Namun, hal itu tidak dilaporkan oleh pelaku pada kamtib pesantren.

Pelaku menelusuri sendiri siapa yang mencuri uangnya. Dari sana, pelaku mengetahui bahwa uangnya dicuri oleh korban. Hal itu lantas dilaporkan pada ketua kamar. Sehingga kemudian, ketua kamar menginterogasi korban.

“Aturannya sebenarnya harus dilaporkan ke kamtib. Tapi ini tidak dilakukan,” tuturnya.

Namun, pada pengurus pelaku mengaku tidak punya niat membakar korban sama sekali. Tujuannya hanya menakut-nakuti korban.

“Pelaku mengaku kesal pada korban karena uangnya dicuri beberapa waktu lalu. Niatannya menakut-nakuti saja, tidak ada unsur kesengajaan,” lanjutnya.



Pelaku sendiri adalah anak yatim, bapaknya meninggal. Hanya ibunya yang membiayai pendidikannya selama ini dengan berjualan dawet di Pasar Pandaan. Karena itulah, pelaku kesal uang kiriman ibunya dicuri.

“Pelaku ini anak yatim. Ibunya jual dawet di pasar. Dia kesal karena katanya ibunya setengah mati mencari uang, jualan dawet. Nangis dia cerita ibunya ini,” tutur Gus Izzud.

Setelah mengklarifikasi pelaku, pihak pesantren menurut Gus Izzud lantas mengamankan pelaku. Baru kemudian melapor ke Polsek Pandaan. Termasuk menghubungi orang tua pelaku dan korban.

Setelah laporan itu, petugas Polsek Pandaan menjemput pelaku ke ponpes pada Minggu (1/1) malam. Selanjutnya pelaku diamankan ke Mapolres Pasuruan.

“Anak-anak ini masih di bawah umur. Namun, bagaimanapun juga kami menyerahkan proses hukumnya pada pihak berwajib,” ucapnya. (zal/hn) Editor : Jawanto Arifin
santri pasuruan