MATAHARI berada persis di atas kepala biasanya membuat seseorang malas untuk keluar. Tapi bagi seorang pemancing, terik matahari yang menyengat dan suara gemercik air adalah panggilan alam yang tak bisa ditolak. Inilah yang dirasakan angler saat berburu nila di sungai.
Salah satunya adalah Anjas. Pria 36 tahun asal Pohsangit Probolinggo ini punya hobi memancing, terutama sungai. Beberapa lokasi sungai di Probolinggo dan Pasuruan, sudah pernah dia sisiri. Misinya sederhana namun menantang: hunting spot memancing terbaik di sepanjang aliran sungai.
Menemukan tempat yang tepat tidak pernah sejelas kelihatannya. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai, membelah semak belukar. Setiap belokan sungai menawarkan teka-teki baru.
Ada bagian sungai dengan arus yang terlalu deras, ada pula yang terlalu dangkal hingga dasar sungainya terlihat jelas. Spot seperti itu memang indah dan itu semakin membuatnya penasaran untuk mencari ikan, khususnya nila.
Bagi pemancing seperti Anjas, memancing di sungai tentu punya kelebihan dan kelemahan. Kata dia, setiap sungai menyimpan populasi ikan nila berukuran di atas rata-rata—atau yang biasa disebut nila babon monster. Makin besarikan apabila lokasi sungai jarang dikunjungi orang atau bahkan benar-benar masih “perawan”
Pria satu anak ini menyebut, tak melulu air sungai yang kencang memiliki banyak ikan. Begitu pula sungai yang pelan. “Semuanya tergantung hoki-hokian juga. Kita sebagai angler harus yakin saat berangkat,” katanya.
Anjas biasanya berangkat menggunakan motor. Anjas mengaku, dia cukup menyusuri sungai kecil atau muara. Bila menemukan spot menarik, Anjas cukup menjulurkan jorannya. Mencari tempat teduh lalu memasang umpan.
Menemukan spot mancing juga gampang-gampang susah. Tidak ada petunjuk jalan, bahkan sinyal seluler minim juga dia terabas. “Biaanya sendirian, tetapi kalua ada teman yang mau ikut, ya monggo,” katanya.
Saat menyisiri sungai inilah yang menjadi kenikmatan tersendiri bagi Anjas. Merasakan desir air. Joran yang dibawa juga cukup tegek (joran tanpa reel, red) ukuran 4,5. Umpannya, Anjas biasa membawa lumut yang dia cari sendiri.
“Untuk memancing di sungai, cukup tegek saja karena kita bisa berada di tepian. Bagaimana dengan ikan? Biasanya saya hanya memakai feeling saja. Tapi saya jarang tak bawa ikan saat pulang. Ha…ha…ha…”
Semakin jarang sungai dikunjungi orang, Anjas akui semakin besar potensi ikan yang dia dapat. Kebanyakan nila tapi kadang-kadang juga dapat wader. Jika beruntung, Anjas bisa mendapat belasan sampai puluhan ekor. Tapi jika sedang apes, Anjas pernah sama sekali tak membawa ikan.
Walau begitu, Anjas tak pernah menyerah. Meskipun tak dapat ikan, anjas mengaku tak akan kapok untuk mengunjungi kembali spot yang dia datangi.
“Itu artinya hanya kurang beruntung saja. Sungai di Indonesia ini populasinya masih banyak, termasuk nila,” bebernya.
Supaya terus beruntung, Anjas juga punya resep mujarab tiap kali mancing di sungai. Selain membawa umpan lumut, dia biasanya berangkat memancing setelah pukul 14.00. “Nila itu sulit gondola di rentang waktu pukul 10.00-14.00. Tapi di atas pukul 14.00, Nila biasanya mencari makan,” bebernya.
Anjas juga tak soal jika dia harus berangkat sendirian. Tapi bukan berarti bila ada kawannha yang mau ikut, dia tak membolehkan. “Saya kalau mancing itu kan biasanya siang hari dan rata-rata teman-teman masih bekerja,” beber Anjas.
Tapi biasanya Anjas selalu “dikuntit” kawannya bila mancing saat weekend. Apalagi jika kawannya tahu akan spot baru yang sudah pernah dikunjunginya, terdapat banyak nila. “Bahkan kalau tempatnya nyaman, bisa ramai yang ikut,” bebernya.
Semua hasil mancing yang Anjas dapat, selalu dia bawa pulang. Jika dapat banyak, Anjas selalu berbagi ke tetangga maupun kawannya. Nila biaanya digoreng atau dibumbu rujak. “Paling nikmat jika nemu babon monster. Ikannya besar dan dagingnya banyak,” beber Anjas.
Maka tak heran saat Anjas ditanya, spot mana saja yang dia kunjungi, dia sudah hafal. Terutama di wilayah Pasuruan dan Probolinggo. “Asyiknya mincing di sungai itu kan bisa eksplore, tidak seperti di kolam. Safety juga karena bukan di perairan seperti laut,” beber Anjas. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid