PECINTA sepak bola benar-benar tak mengenal batas. Salah satunya terhadap klub asal Italia, Inter Milan. Termasuk di Probolinggo. Mereka tergabung dalam Inter Club Indonesia (ICI) Regional Probolinggo. Karena cinta, semua yang berkaitan dengan klub il Nerazzurri alias si biru hitam ini dikoleksi.
Setiap orang punya cara tersendiri dalam mengepresikan cintanya. Termasuk terhadap klub sepak bola pujaan. Seperti dilakukan Johan Dwi Angga dan Teguh Aris Setyawan dalam mencintai Inter Milan.
Ia kerap kerap mengoleksi jersey hingga ID Card resmi klub Inter Milan. Johan mengaku menjadi fans Inter Milan sejak masih berusia 11 tahun pada 1998. Ia menyukainya karena sejumlah pemain legendaris di dalamnya saat itu. Salah satunya Ronaldo Nazario dan Roberto Baggio.
Bahkan, Johan masih mengingat jersey Inter Milan pertama yang dibelikan sang ayah bertuliskan, Roberto Baggio. “Namun, lambat laun saya mengidolakan Javier Zanetti. Sebab, dia menjadi kapten dan dapat pemimpin yang baik,” ujar Ketua Bawaslu Kota Probolinggo ini.
Sejak kuliah di Malang pada 2007, Johan tergabung dalam ICI Malang. Setiap kali ada acara nonton bareng (nobar) Inter Milan, ia hadir.
“Nobar-nya kadang di luar kota, sebab kegiatan ICI memang tidak hanya di Malang. Bahkan, pernah saya berangkat nobar pukul 02.00 dan hujan. Tapi, karena sudah cinta, ya tetap berangkat,” katanya.
Berbagi waktu dengan tanggungjawabnya di kampus, Johan mengaku tak terkendala dengan hobi ini. “Meski nobar-nya hingga subuh, kalau paginya ada jam kuliah, ya tetap kuliah. Sebab, sudah menjadi tanggung jawab,” tambahnya.
Kesenangan fans Inter memuncak saat klub kesayangannya menyabet Piala Treble Winners pada 2010. Johan dan kawan-kawannya bahkan sempat membuat replika piala dari bahan kertas. Hal menggembirakan lainnya terjadi saat Inter Milan bermain dengan Timnas Indonesia pada 2012.
“Saat itu saya bahkan ditawarkan tiket oleh bapak dengan catatan skripsi harus selesai duluan,” ujarnya.
Sebagai fans Inter Milan dan tergabung di ICI Probolinggo, Johan memiliki ID Card resmi dari Milan. ID Card ini bisa didapat dengan cara mendaftarkan diri pada ICI regional setempat.
Pada 2017 fans Inter Milan di Indonesia tembus 8 ribu orang. Terbesar kedua setelah Italia sendiri. “Nantinya dikoordinir dari ICI Indonesia untuk secara kolektif mendapat ID Card tersebut dari Milan,” katanya.
Ada beberapa paket yang bisa diikuti untuk bisa mendapatkan ID Card. Mulai dari paket Primus Senior seharga Rp 975 ribu, Junior Rp 650 ribu, Secondo Rp 310 ribu, dan Terso Rp 220 ribu. “Setiap paketnya mendapat merchandise berbeda-beda. Mulai dari tas, kaus, gantungan kunci, dan stiker,” jelasnya.
Pecinta Inter Milan di Probolinggo, juga semakin menjamur. Terlebih setelah berdiri ICI Regional Probolinggo pada 2012. Anggotanya mencapai puluhan orang. Komunitas ini bukan sekadar tempat menyaksikan pertandingan bersama, tetapi juga sarana mempererat silaturrahmi.
“Kami rutin mengadakan nobar setiap pertandingan Inter Milan. Selain itu, kami juga mengadakan kegiatan sosial, seperti bakti sosial ke panti asuhan, gathering, buka bersama, futsal bersama,” ujar Ketua ICI Regional Probolinggo, Teguh Aris Setyawan.
Teguh mengaku menyukai klub biru hitam ini sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) pada 1996. Saat itu, ia mengoleksi banyak jersey dan poster Inter Milan. Sejauh ini atau sampai menikah, tetap cinta Inter Milan.
“Sebelum berkeluarga, dulu sering nobar hingga ke luar kota, seperti Jakarta. Sekali ke luar kota butuh budget Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Sekarang sudah berkeluarga, jadi ada pertimbangan lain,” katanya. (gus/rud)
Nama Anak Juga Berbau Inter Milan
DALAM mengepresikan cintanya, beragam barang yang berkaitan dengan Inter Milan dikoleksi. Termasuk sprei dan handuk pun bermotif klub pujaan. Salah satu yang paling berarga adalah ID Card resmi dari Milan.
Johan Dwi Angga mengatakan, bila memiliki ID card tersebut, member ICI mendapatkan sejumlah manfaat. Salah satunya mendapat harga spesial saat berbelanja merchandise Inter Milan melalui website resminya.
Selama menjadi pecinta Inter Milan, Johan banyak mengoleksi pernak-pernik Inter Milan. “Mulai dari sprei, handuk, jam, gantungan kunci, bahkan kacamata saya memilih yang berwarna biru hitam. Kalau jersey, setiap musim saya pasti beli untuk saya, istri, dan anak,” terangnya.
Tak hanya barang, bahkan nama sang anak pun Johan selipkan identitas Inter Milan. “Saya memang ingin nama anak saya ada nuansa Inter Milannya. Bila perempuan Nerrazzura, jika laki-laki Nerazzurri. Ternyata anak saya perempuan, sehingga saya beri nama Nerrazzura artinya bukan hanya biru hitam, tetapi juga penerang,” katanya.
Hal serupa juga dilakukan Teguh Aris Setyawan. Salah satu anaknya juga diberi nama dengan akses Inter Milan, yakni Beneamata. “Beneamata ini diambil dari kata La Beneamata, artinya yang tersayang,” kata Teguh.
Teguh mengaku saat ini lumayan sulit melakukan regenerasi pengurus ICI Probolinggo. Sebab, kebanyakan pengurusnya sudah berusia dan banyak kegiatan lain. “Butuh regenerasi, namun kembali lagi memang klub Italia ini tergantung prestasinya juga. Bila prestasinya sedang tinggi, biasanya mudah meregenerasi anggota,” terangnya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando