BANYAK situs sejarah yang belum ditemukan di tanah Nusantara. Jejak peninggalan yang sudah ratusan tahun terkubur di dalam tanah. Bahkan, barang-barang yang pernah digunakan orang-orang terdahulu juga banyak yang bisa “digali.”
Di Pasuruan, ada sekelompok warga gemar mencari jejak peninggalan orang-orang terdahulu. Mereka membentuk komunitas dengan nama Penelusuran Jejak Sejarah Pasuruan (PJSP).
Sejauh ini, banyak barang-barang yang telah ditemukan. Mulai dari tungku zaman Majapahit, piring, tembok, bahkan senjata tajam zaman dahulu.
“Berawal dari rasa penasaran sejak awal belajar sejarah. Juga banyak yang buta sejarah. Bahkan, banyak mitos yang beredar. Dengan ini, kami mengetahui kehidupan nenek moyang dulu,” ujar Ketua Komunitas PJSP Bastian Andi Aveno, 42, soal latar belakang mereka menelusuri jejak sejarah.
Katanya, kehidupan manusia di tanah Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan, saat masih disebut tanah Nusantara. Termasuk di Pasuruan. komunitas ini penasaran dengan sejarahnya.
Komunitas ini cukup subur. Sejauh ini anggotanya mencapai 1.300 orang. Berasal dari berbagai profesi. Ada guru, dosen, bahkan dokter. Semuanya menyukai sejarah.
Bastian memastikan, mereka bukan arkeolog. Melainkan hanya pemerhati sejarah. Namun, aktivitasnya mencakup arkeolog. Mencari, mencatat, meneliti, dan menganalisis hasil temuannya.
Misalnya, penemuan keris. Dianalisis ditemukan digunakan pada era dan tahun berapa. Jika keris itu terbuat dari perunggu, berarti milik orang sebelum kerajaan Majapahit. Sebab, sebelum adanya besi, senjata tajam terdahulu terbuat dari perunggu.
Hal lainnya juga dikuatkan dengan model dan bentuknya. Bentuk serta model keris pada setiap zaman berbeda-beda. Pada zaman Kerajaan Doho, Singosari, Majapahit, era Song kerajaan di Cina, kata Bastian, motifnya berbeda. Begitu juga dengan barang-barang lainnya, seperti barang dapur tungku.
Bastian mengatakan, komunitasnya berhasil menemukan senjata berbahan perunggu di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Temuan ini diserahkan kepada Pemkab Pasuruan. Selain itu, juga ada sejumlah barang yang diserahkan kepada pemerintah.
“Tapi, kami tidak berani menyimpulkan. Ini berdasarkan pengetahuan yang kami pelajari. Hasilnya kami buat laporan, kemudian kami serahkan ke Pemkab Pasuruan,” jelas Bastian.
Menurutnya, hampir seluruh tanah Pasuruan sudah ditelusuri. Diperkirakan tinggal 30 persen yang belum. Hasilnya, juga banyak benda tua yang ditemukan.
Penelusuran pertama dilakukan ketika komunitas ini baru terbentuk pada 2021. Mereka memburu barang bersejarah di Kedawung, Kecamatan Grati. Di sana menemukan batu yang merupakan hiasan tempat tinggal zaman terdahulu.
Menggeluti hobi ini, kata Bastian, tidak bisa sembarangan. Harus memiliki sertifikat. Di komunitasnya, hanya empat orang yang memiliki sertifikat ahli cagar budaya.
“Punyaku sertifikat cagar budaya nasional. Memiliki keahlian. Sedangkan anggota lainnya, mereka yang menyukai sejarah lokal agar lebih mengenal kehidupan nenek moyang kita di tanah Nusantara,” ujarnya.
Dalam memburu barang-barang bersejarah ini, Bastian mengaku diawali dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya. Misalnya, di Pasuruan, pernah terjadi peristiwa dan tempat tinggalnya siapa. Contohnya, di perbatasan Kecamatan Gempol, Pasuruan, dan Sidoarjo.
Menurutnya, di sana lokasi awal berdirinya Kerajaan Majapahit yang dipelopori Raden Wijaya. Informasi ini kemudian di telusuri ke lapangan. Menggali informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Sebelumnya melakukan penelitian, dipastikan sudah mendapatkan izin dari pemerintah desa. “kami mulai penelitian di sana,” katanya.
Bendahara Komunitas PJSP Yudosuroso, 42, menambahkan, banyak barang yang ditemukan komunitasnya. Ada yang masih utuh, ada juga yang hancur. Ia mengatakan, sejumlah barang kini tersimpan rapi di rumahnya.
“Mau diteliti lagi boleh, hasil temuan barang-barang kuno ini,” ujar warga Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, ini.
Menurutnya, sejatinya benda-benda yang ditemukan lebih baik dimuseumkan. Sebab, jika dibiarkan di lokasi semula, akan hilang. Karena ada yang nilai jualnya cukup tinggi. (zen/rud)
Barang Temuan Ditawar Warga Prancis
BERTAHUN-TAHUN berburu, telah banyak barang koleksi Penelusuran Jejak Sejarah Pasuruan (PJSP). Ada puluhan benda. Sejauh ini tersimpan rapi di rumah bendahara komunitas.
Ketua Komunitas PJSP Bastian Andi Aveno, 42, mengatakan, komunitasnya tidak hanya mencari benda. Melainkan juga menganalisisnya. “Temuan itu kami jelaskan. Berdasarkan tahun dan digunakan pada eranya siapa,” katanya.
Misalkan tungku zaman Majapahit. Sesuai sejarah, tungku pada zaman itu bentuknya lingkaran dengan lubang di tengah. Diameternya sekitar 20 sentimeter dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter.
Selain tungku, Bastian mengaku, juga menemukan pagar, tembok, senjata seperti keris, tombak, pedang, dan lain sebagainya. Bahkan, juga ada emas dan uang zaman dulu. “Bukti fisiknya masih ada, hasil temuan kami. Cuman disimpan biar tidak dicuri orang. Karena bagi pecinta sejarah lokal, itu peninggalan leluhur kita,” jelasnya.
Jika dihitung, jumlahnya ada puluhan. Kini, semuanya masih tersimpan rapi. Katanya, barang-barang kuno ini sangat berharga. Bahkan, pernah ada yang nawar hingga ratusan juta rupiah. Baik warga lokal maupun luar negeri.
“Orang luar negeri kirim penawaran itu melalui e-mail. Kan e-mail itu digunakan untuk meng-uploud video aktivitas hasil temuan di YouTube. Ngakunya orang Prancis,” katanya.
Katanya, jika komunitasnya bersedia menjual, dipastikan banyak duit yang sudah didapatkan. Namun, ia menegaskan semua barangnya masih utuh. “Jika mau bukti, masih ada barang-barangnya,” katanya.
Bendahara Komunitas PJSP Yudosuroso, 42, menambahkan, situs-situs sejarah yang dicari komunitasnya jejak sejarah yang belum terungkap di suatu wilayah. “Meski menggunakan biaya sendiri, tapi dibekali senang, akhirnya jalan. Saat ikut pameran juga begitu,” katanya. (zen/rud)
Editor : Ronald Fernando