BERBICARA tentang mainan Tamiya, memang tidak ada habisnya. Mainan ikonik era 1990-an ini tetap eksis hingga kini. Bahkan, kini balap Tamiya atau mini 4WD sudah masuk dalam cabang olahraga.
Balapan Tamiya begitu menarik. Tak heran bila banyak pehobi yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi mini 4WD impian. Terlebih, setelah dinyatakan menjadi salah satu cabang olahraga.
Tak hanya remaja dan pemuda, pecintanya banyak juga yang berasal dari orang-orang dewasa. Di Kota Probolinggo, ada Endi Suhendri Sain.
Pria 40 tahun ini mengaku menyukai Tamiya sejak masih kecil. Namun, baru benar-benar muncul kembali ketita masa Pandemi Covid-19 pada 2020. Merasa bosan karena tidak dapat keluar rumah, Endi iseng membeli Tamiya untuk mengisi waktu senggang.
Warga Jalan HOS Cokroaminito, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, ini juga “meracuni” anaknya yang masih kecil untuk turu menyukai Tamiya. Dengan tujuan, menjauhkan sang anak dari candu gadget. Menurutnya, bermain Tamiya dapat mengasah kreativitas otak anak.
“Awalnya, ketika pandemi cari kegiatan, karena tidak bisa keluar rumah. Alhasil, beli Tamiya sekalian ngajak main anak-anak,” ujarnya.
Setelah dua tahun Endi menekuni hobi Tamiya, di Kota Probolinggo, berdiri sebuah toko yang menyediakan beragam Tamiya. Termasuk spare part dan sirkuit sebagai ajang uji coba balapan.
Adanya toko ini membut para pecinta Tamiya di Kota Probolinggo, berdatangan. Mereka sering ngumpul di toko ini dan menjajal Tamiya kesangannya. Dari sini juga kemudian berdiri komunitas pecinta Tamiya. Endi termasuk di dalamnya.
Seiring berjalannya waktu, Distrik Mini 4WD sering menggelar lomba balapan Tamiya. Endi juga sering mengikuti. Bahkan, turut mewakili komunitas Tamiya Probolinggo, berlomba di sejumlah kota. Pada 23 Juni 2024 lalu, ia bersama komunitasnya meraih juara 2 Kejurprov di Kota Probolinggo.
Endi bersama dua anaknya juga sering memenangkan lomba yang digelar Distrik Probolinggo. Menurutnya, dua kali dalam sebulan biasanya Distrik Probolinggo, menggelar lomba untuk komunitas pecinta Tamiya. “Tim saya ada tiga orang. Saya bersama dua anak saya. Biasanya kami ikut lomba kalau weekend,” jelas Endi.
Endi memang sengaja mengajak kedua putranya ikut bertanding. Mereka berperan mengadu kecepatan Tamiyanya di lintasan. Sedangkan, Endi bagian merakit. “Kalau untuk lomba besar, saya yang merakit. Anak-anak belum bisa, karena sulit. Paling mereka ikut buat ngelepas aja, jadi racer,” katanya.
Hobi serupa ditekuni oleh Dimas Nuzul, 29. Warga Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo ini, mengaku menyukai Tamiya sejak kecil. Namun, baru benar-benar menekuni hobinya secara serius ketika bekerja di sebuah toko Tamiya Kota Probolinggo.
Dari sana, Nuzul mulai hobi balap Tamiya bersama teman di komunitasnya. Saat sedang tidak bekerja, sering ikut lomba keluar kota. Bahkan, kerap mendapat undangan bergabung dengan tim luar kota. “Kalau tidak ada job, sering ikut lomba juga. Kadang dikontak teman komunitas luar kota untuk gabung tim mereka, misal kurang personel gitu," terang Nuzul.
Nuzul juga mengaku sering mendapat orderan merakit Tamiya. Karena itu, ia merasa makin asyik menekuni hobinya. Katanya, jika ditekuni, hobi Tamiya cukup menguntungkan. (mg/rud)
Hanya Koleksi Tamiya Siap Balap
Hobi balap Tamiya, tidak selalu membuat semua orang tertarik mengoleksinya. Ada yang hanya menyimpan beberapa mini 4WD yang dianggap paling bagus.
Seperti dilakukan Endi Suhendri Sain. Ia mengaku tidak banyak mengoleksi Tamiya. Hanya beberapa saja, itu pun hasil rakitan sendiri. Tamiya yang dirasa sudah tidak enak dimainkan, akan dijual.
Kini, Endi mengaku memiliki enam unit Tamiya jenis Standart Tamiya Box (STB) dan empat Tamiya jenis side dumper. Ada juga sejumlah Tamiya yang belum dirakit dan masih berbentuk sparepart.
“Kalau Tamiya, kami punya sedikit. Yang kurang enak, kan dijual. Sedangkan yang berbentuk sparepart banyak, tapi tidak dirakit semua,” jelasnya.
Meski harga Tamiya ini tidak terlalu mahal, namun, kata Endi, beberapa peralatan seperti dinamo, dan sparepart untuk merakit Tamiya, jika ditotal bisa mencapai belasan juta rupiah. Bahkan, ia tak segan memesan barang dari luar kota, bila di Probolinggo, kesulitan mendapatkanya.
“Tidak bisa dibeli sekalian, harus dicicil. Kemarin untuk persiapan lomba beli ban dan alat-alatnya, habis Rp 13 juta. Sebenernya tidak mahal kalau untuk Tamiyanya, sparepart kecil-kecilnya itu yang lumayan,” kata Endi.
Sama halnya dengan Endi, Dimas Nuzul juga mengaku tak banyak mengoleksi Tamiya. Saat ini hanya memiliki empat unit Tamiya yang sering dijadikan andalan dalam perlombaan. Di antaranya, satu unit jenis STB dan tiga unit jenis Tamiya Side dumper. Ada juga yang masih berupa sparepart, belum dirakit. “Saat ini yang sering dipakai cuma empat, yang lain belum terakit. Dirakit saat mau lomba saja. Kalau yang empat ini sudah dirasa tidak enak," jelas Nuzul.
Cuaca Juga Bisa Pengaruhi Kemenangan
Meski terlihat menyenangkan dan menggiurkan, ternyata hobi balap Tamiya tidak mudah. Selain harus pintar-pintar mencari strategi agar menang, proses merakit Tamiya juga tidak gampang.
Seorang pemula pasti merasa kesulitan dalam merakit Tamiya. Karena itu, tak jarang mereka mencari para perakit yang sudah andal. “Biasanya, kalau pemula kan takut buat merakit. Pembeli biasanya langsung minta rakitin di toko,” ujar Dimas Nuzul.
Persaingan balap Tamiya juga tidak sesederhana kelihatannya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Bahkan, kata Endi Suhendri Sain, salah satu faktor kemenangannya saat berlomba adalah keberuntungan.
Meski telah dipersiapkan dengan baik serta melalui latihan yang maksimal, banyak hal yang mempengaruhi mobil menjadi kurang enak saat dalam perlombaan. Bahkan, cuaca juga mempengaruhi.
“Ada banyak faktor yang mempengaruhi, bahkan suhu cuaca juga berpengaruh. Ada dinamo yang lebih kenceng kalau suhunya dingin, ada yang maunya panas. Latihan mobilnya enak, eh di lomba bisa tidak enak,” ujarnya.
Meski begitu, para pehobi menganggap semua ini merupakan tantang yang harus mereka pecahkan. Meski sudah berumur, Endi mengaku belum ada keinginan untuk berhenti menggeluti hobinya ini, sebelum dapat kejuaraan nasional.
“Tamiya bukan mainan anak-anak sebenarnya, karena susah harus mikir terus. Niatnya mau seneng-seneng, makin pusing. Tapi, sampai sekarang masih suka, karena punya hobi harus sampai mentok. Kalau bisa sampai kejurnas,” kata Endi. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando