Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pegiat Literasi Jalanan Kota Pasuruan, Aktif Tularkan Semangat Membaca

Fuad Alyzen • Minggu, 8 Desember 2024 | 18:10 WIB
Photo
Photo

BANYAK cara untuk mengenalkan literasi atau gemar membaca kepada masyarakat. Salah satunya lewat perpustakaan jalanan. Para pegiatnya jelas hobi membaca dan mempunyai spirit, bahwa kegemaran membaca harus disebarluaskan.

Di Pasuruan, banyak bermunculan komunitas membaca. Komunitas ini mengajak masyarakat gemar membaca. Mereka juga menyediakan bahan bacaan gratis yang bisa dinikmati di tempat-tempat strategis.

Tak melulu di dalam ruangan, para pegiat ini malah lebih sering menyediakan bahan bacaan di ruang terbuka. Seperti di Taman Kota di Jalan Pahlawan Kota Pasuruan.

Salah pehobi Ilham Afrizal F, 28, mengatakan, komunitas perpustakaan jalanan menjadi alternatif untuk masyarakat gemar membaca. Sudah banyak yang menjadi bagian dari komunitas ini. Bahkan, sudah beberapa generasi.

Awalnya, anggotanya kata Ilham, hanya segelintir. Kini terus berkembang. Baik dari kaum Adam maupun Hawa.

“Awalnya ada aku sendiri lalu Ugik, Kewor, Kacer, Rijal. Sebagai penerus ada Putra, Kikik, Mas Eko, dan Yusron. Perempuan yang terlibat ada Mbak Re, Gamar, Riris, dan Galuh,” ujarnya.

GRATIS: Dua pengunjung berkomunikasi dengan salah seorang pegiat literasi jalanan yang menyediakan buku bacaan di Taman Kota, Kota Pasuruan.
GRATIS: Dua pengunjung berkomunikasi dengan salah seorang pegiat literasi jalanan yang menyediakan buku bacaan di Taman Kota, Kota Pasuruan.

Menurutnya, mereka sangat bersemangat dalam mengenalkan literasi. Meski setiap mereka mempunyai pendekatan berbeda perihal literasi, namun poin utamanya kecintaannya terhadap buku.

“Dulu hanya segelintir dan kini tambah banyak peminatnya. Caranya dengan mengajak berjejaring dan berliterasi mesti memerlukan keinginan dan hasrat dalam diri. Lalu diceritakanlah suatu hal yang mesti harus dibaca,” katanya.

Para pehobi ini sering ngumpul. Sepekan bisa lebih dari sekali. Kadang, juga diundang untuk mengisi sebuah acara. “Setiap Sabtu sore kalau tidak hujan, kami ngumpul. Kadang kami juga diundang untuk mengisi sebuah acara,” katanya.

Salah satu cara untuk mengenalkan literasi dengan mengajak seseorang berdiskusi. Menceritakan isi dunia yang membuatnya menarik.

“Perlahan ketertarikannya untuk mengetahui dunia lebih luas akan terpancing,” ujar pehobi lainnya, Asroful Anam, 28.

Namun, warga Desa Patalan, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, ini mengembangkan literasi jalanan di luar kota. Ia memilih melakukannya di Kota Surabaya. Katanya, di Kota Pahlawan, ini banyak aktivis yang menyukai literasi. “Saya pun tertular oleh mereka,” akunya. (zen/rud)

 

BERBAGI ILMU: Ilham Afrizal F (kanan), bersama sejumlah rekannya menyiapkan buku bacaan gratis di Taman Kota, Kota Pasuruan.
BERBAGI ILMU: Ilham Afrizal F (kanan), bersama sejumlah rekannya menyiapkan buku bacaan gratis di Taman Kota, Kota Pasuruan.

Ngumpul, Tak Hanya Bawa Buku

SELAIN buku yang dibawa saat berkumpul, para pegiat leiterasi jalanan juga kadang membawa peralatan lain. Salah satunya cukil. Jika berkumpul, kadang tak hanya membahas soal buku, namun bisa berbagi ilmu lain. Seperti cara bercocok tanam.

Ilham Afrizal mengatakan, selain buku, banyak di antaranya rekannya yang membawa cukil. Bila buku, biasanya yang dibawa buku filsafat, sastra, dan sainstek. Ada juga buku bacaan khusus anak-anak.

Setiap pegiat ini, kata Ilham, tak segan untuk saling meminjam buku. Terutama bila ada buku milik peserta yang bagus. Namun, tetap ada batasnya. “Boleh dipinjam dengan batas tertentu. Bukuku yang bagus banyak dipinjam teman,” katanya.

Sejumlah buku komunitas ini terpisah. Terbagi ke sejumlah anggota. Karena, perpustakaannya berjalan, ketika ada perkumpulan tinggal membawanya.

CARI DULU: Sejumlah pengujung mengamati sejumlah buku yang disiapkan Ilham Afrizal F, bersama sejumlah rekannya di Taman Kota, Kota Pasuruan.
CARI DULU: Sejumlah pengujung mengamati sejumlah buku yang disiapkan Ilham Afrizal F, bersama sejumlah rekannya di Taman Kota, Kota Pasuruan.

Saat perkumpulan, buku-buku ditata di halaman taman. Meski banyak yang menikmatinya, para pegiat ini tidak khawatir bukunya rusak karena dibaca orang lain. “Takut tidaknya mesti dijaga bersama, sebab sudah menjadi satu kesatuan berliteraksi,” katanya.

Asroful Anam menambahkan, jika memiliki komunitas, sudah pasti buku yang dimiliki akan dicuri temannya. Namun, dalam komunitasnya tidak ada istilah mencuri buku. “Istilahnya bukan mencuri buku, melainkan mencuri ilmu,” ujarnya sembari tertawa.

Selain membawa buku, biasanya sesama pehobi melakukan diskusi apa yang sudah dibaca. Dengan demikian, pemahaman tidak hanya diasah melalui membaca buku, namun diperdalam dalam dunia diskusi. (zen/rud)

  

SAMPAI MALAM: Ilham Afrizal F bersama sejumlah rekannya menyiapkan buku bacaan gratis di Taman Kota, Kota Pasuruan, sampai malam.
SAMPAI MALAM: Ilham Afrizal F bersama sejumlah rekannya menyiapkan buku bacaan gratis di Taman Kota, Kota Pasuruan, sampai malam.

Mampu Lahirkan Karya Tulis

TAK sedikit penggemar literasi menjadi penulis. Salah satunya Ilham Afrizal. Ia telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul k30z.

Katanya, k30z berarti chaos atau semrawut dan atau ketidakberaturan. Buku ini dibuat ketika masih duduk di bangku kuliah setelah munculnya penyakit meningitis pada 2018.

“Manfaatnya (menulis) mengurai gejolak isi kepala. Seperti halnya perut penuh, suatu hari mesti dikeluarkan juga,” katanya.

Buku hasil karyanya juga laku di pasaran. Namun, kata Ilham, tidak banyak. Ia mengaku minim dana untuk menerbitkannya. Maklum, ia menerbitkannya secara mandiri. “Dijual, tapi tidak banyak, minim dana,” katanya. (zen/rud)

Editor : Ronald Fernando
#pasuruan #membaca #literasi