HOBI mengoleksi parfum mahal kini tengah menjadi tren di kalangan pecinta gaya hidup. Tak sekadar wangi, parfum dianggap sebagai simbol prestise hingga karakter dari seseorang.
Salah seorang penggemar parfum mahal di Kota Probolinggo adalah Diyan Mei Ikawati. Warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, ini mengoleksi puluhan botol parfum dari merek-merek ternama. Seperti Dior, Gucci, Hermes, Chanel, Coach, Victoria Secret, hingga Zara.
Kecintaannya pada parfum bermula dari keinginannya menemukan aroma yang unik dan bisa mencerminkan kepribadiannya. Diyan merasa parfum mahal memiliki keistimewaan tersendiri. Baik dari segi kualitas aroma maupun daya tahannya.
“Parfum itu bukan sekadar wangi, tetapi juga meninggalkan kesan. Bahkan, orang bisa mengenali kita dari aroma yang kita pakai,” ujarnya.
Harga parfum-parfum yang dikoleksi Diyan bervariasi. Harganya antara Rp 300 ribu sampao Rp 3 juta per botol berisi 100 mililiter. Meski terbilang mahal, Diyan mengaku puas karena parfum-parfum tersebut memiliki karakteristik unik dan berbeda.
Diyan mengaku lebih menyukai aroma-aroma floral, ketimbang aroma manis seperti permen.
“Menurut saya, aroma floral lebih memancarkan kesan elegan. Kalau aroma manis, seperti wangi permen atau buah, itu mungkin lebih cocok digunakan untuk anak-anak atau remaja,” katanya.
Dari semua koleksinya, parfum Dior J'adore Eau de Parfum (EDP) menjadi favoritnya. Menurutnya, parfum ini memiliki aroma yang mewah, feminim, dan elegan. Saat kali pertama disemprotkan, parfum ini memberikan wangi segar dan berkilau dari bergamot, melon, peach, pear, dan magnolia.
Sementara, pada heart notes, aroma bunga yang kaya dan feminim mulai muncul yang terdiri dari jasmine, rose, dan tuberose. Kemudian, pada base note lapisan dasar yang hangat dan sensual akan bertahan dari vanila, cedarwood, dan musk.
“Ini cocok untuk formal malam hari atau momen spesial, karena wanginya yang mewah dan tahan lama,” ujar perempuan 42 tahun ini.
Dalam perjalanannya sebagai kolektor parfum, Diyan juga mempelajari berbagai jenis parfum berdasarkan konsentrasinya. Parfum dengan konsentrasi tinggi, seperti pure parfum, memiliki aroma yang paling kuat dan tahan hingga 24 jam.
Sementara, eau de parfum (EDP), seperti yang sering digunakannya, memiliki aroma kuat yang bertahan 6-12 jam. Ada juga jenis yang lebih ringan, seperti eau de toilette (EDT), yang lebih cocok untuk penggunaan sehari-hari, karena baunya segar dan tidak terlalu menyengat.
“EDT biasanya saya gunakan di rumah atau untuk aktivitas santai, karena lebih ekonomis dan ringan," ujarnya.
Ada lagi eau de cologne (EDC) yang memiliki konsentrasi esensial antara 2 hingga 5 persen. Wangi EDC bertahan antara 2 hingga 4 jam. Terakhir ada body mist atau body spray yang memiliki konsentrasi minyak esensial kurang dari 1 persen. Ketahanannya pun kurang dari 1 jam.
“Ini biasa digunakan langsung ke badan untuk menyegarkan tubuh saja atau ada juga yang ditambahkan glitter di dalamnya, sehingga ketika disemprot ke badan bisa memberi efek kemerlap,” jelasnya. (gus/rud)
Mewakili Suasana Hati hingga Identitas Diri
MEMBELI parfum bukanlah keputusan yang dilakukan secara impulsif. Sebelum membeli, hendaknya selalu melakukan riset dan membaca ulasan tentang parfum yang ingin dibeli.
Diyan Mei Ikawati mengaku lebih suka membeli parfum langsung di outlet resmi.
“Di sana saya bisa mencium langsung aroma parfumnya dan berkonsultasi dengan staf untuk memilih parfum yang sesuai dengan selera saya,” ujar ibu tiga anak ini.
Langkah ini juga dilakukan untuk memastikan keaslian parfum yang dibeli. Ia mengaku khawatir membeli parfum palsu yang kualitasnya jauh berbeda meski harganya mirip.
Selain itu, Diyan memiliki kebiasaan menyemprotkan parfum di titik-titik tertentu. Alasannya, agar aromanya lebih tahan lama.
“Biasanya saya semprotkan di leher dan pergelangan tangan, karena area ini bisa membuat parfum lebih awet," katanya.
Dalam sebulan, satu botol parfum ukuran 100 mililiter biasanya masih cukup untuk digunakan sehari-hari. Terutama, karena ia membedakan parfum untuk aktivitas santai dan acara formal.
Bagi Diyan, koleksi parfum bukan sekadar soal mengikuti tren atau menunjukkan kemewahan. Namun, menurutnya, setiap parfum memiliki cerita dan karakter tersendiri yang bisa mewakili suasana hati, momen, hingga identitas dirinya.
“Parfum itu seperti seni. Setiap aromanya membawa pesan dan kesan yang berbeda. Itulah yang membuat hobi ini begitu menyenangkan,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando