AYAM laga merupakan ayam jago atau jantan yang memiliki kekuatan fisik, daya tahan terhadap pukulan, mental, serta akurasi pukulan yang baik. Ayam ini juga dikenal memiliki karakter pejuang. Mempunya sifat pantang menyerah dan tangguh dalam bertarung. Ayam jenis ini salah satu hobi yang banyak digemari oleh masyarakat.
Ayam laga tidak hanya dianggap sebagai hewan peliharaan. Namun, juga menjadi simbol kejantanan, keberanian, dan kehormatan. Namun, tidak semua ayam laga kualitasnya baik. Ada beberapa jenis ayam yang dianggap sebagai yang paling mematikan, karena memiliki kecepatan, kekuatan, ketangkasan, dan teknik pukulan luar biasa.
Jenis-jenis ayam aduan yang paling mematikan, di antaranya ayam shamo. Ayam asal luar negeri ini seakan dilahirkan memang khusus untuk bertarung. Bahkan, ada kontesnya sampai tingkat nasional. Ayam shamo berasal dari Jepang. Ada juga yang berasal dari Eropa.
Selanjutnya, ayam burma. Ayam asal Myanmar ini menyerupai ayam kampung. Ada juga ayam Philipine. Ayam ini dikenal karena kecepatan gerakannya saat bertarung.
Kemudian, ayam siam. Ayam yang memiliki karakteristik pantang menyerah dalam pertarungan. Serta, ayam pakhoy, merupakan hasil persilangan antara ayam Malaysia dan ayam Bangkok, Thailand. Ayam pakhoy memiliki teknik permainan yang agresif dalam mengejar lawan.
Selanjutnya, ayam pama. Ayam ini merupakan hasil persilangan antara ayam petarung birma dengan ayam bangkok. Ayam pama memiliki ukuran tubuh yang tidak terlalu besar. “Yang paling umum sekarang ayam di Indonesia pama dan pakhoy,” ujar salah satu pehobi ayam petarung, Fathullah, 41.
Dua ayam ini banyak digemari, kata Fathullah, karena memiliki keunikan. Jeunikannya itu disukai para pehobi. Keunikannnya ada pada cara bertarungnya. Meski ayamnya kecil dengan berat 2 sampai 2,5 kilogram, pukulannya akurat sembari berlari. Identik dengan memukul bagian leher dan kepala. Jika terkunci oleh lawannya, dengan pintarnya bisa meloloskan diri.
Namun, di balik keunikan cara bertarung, perawatannya tidak mudah. Bagi pemula disarankan untuk tidak memlihara ayam jenis ini. Jika dipaksakan dan salah perawatan, karakteristik ayam ini akan hilang.
Menurutnya, jenis pakhoy memiliki gaya bertarung brutal. Jika terkena pukulannya secara terus menerus, lawannya akan lemas. Akurasi dan pukul lawannya akan berkurang. “Perawatannya (pakhoy) harus benar-benar menguasai. Kalau pakhoy sama dengan ayam bangkok pada umumnya,” ujar warga Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan ini.
Menurutnya, ayam petarung memiliki nilai ekonomi tinggi. Banyak orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi mendapatkan ayam aduan favorit. Bagi pehobi, harga mahal bukan masalah. Terpenting bisa memiliki ayam incaran.
Bahkan, bagi yang benar-benar pehobi, tak segan mendatangkan langsung dari peternak luar negeri. Salah satunya dari Thailand.
Seperti dilakukan Fathullah. Pria yang akrab disapa Pak O ini juga beternak ayam petarung jenis pama dan pakhoy. Di tiga kandangnya, ia mengembangbiakkan ratusan ayam laga jenis pama dan pakhoy. Di sana terdapat pejantan, indukan, dan anakannya.
Katanya, semua ayam pejantan dan betinanya impor. Harganya tidak main-main. Harga pejantan atau disebut pacekan mencapai antara Rp 60 juta sampai 100 Rp juta per ekor. Harga indukannya sama. “Semuanya, untuk beli ayam sekaligus membangun tiga kandang menghabiskan dana Rp 1 miliar lebih,” katanya.
Katanya, tidak sembarangan memilih ayam laga untuk diambil keturunannya. Harus dipastikan memang juara. Darah juara itu akan menurun ke anakannya. Memiliki darah dengan nyali kuat dan mental tidak mudah menyerah.
Intinya, dipastikan trah ayamnya jelas. Dibuktikan dengan adanya hitam di atas putih tentang prestasi yang pernah diraih. Termasuk surat-surat importnya. Bila semuanya lengkap, maka harganya juga akan terdongkrak.
Anakan ayam dengan usia 1 bulan saja, kata Pak O bisa dibanderol Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu. Semakin usia bertambah, harganya juga akan makin terkerek. “Menghitung berapa bulan usia ayamnya. Misalkan usianya 6 bulan, maka Rp 800 ribu dikali 6 harganya,” jelasnya.
Dihitung secara matematik, bisnis ini begini menggiurkan. Namun, semua bisnis ada risikonya. Pak O mengaku pernah rugi sampai ratusan juta rupiah. Waktu itu ayamnya banyak yang mati kerena penyakit. “Ruginya puluhan sampai ratusan juta,” ujarnya.
Pehobi lainnya, Zainul Arifin, 26, menambahkan, semakin banyak prestasinya, ayam laga akan semakin diburu pehobi. Biasanya akan dikawinkan dengan indukan yang sama-sama dari trah juara saat usianya sudah menua. Dengan harapan menghasilkan ayam berkualitas dengan harga juga berkualitas.
“Kemarin saja, ayamku menang 1 kali dibanderol Rp 5 juta lebih,” ujar pehobi asal Kabupaten Probolinggo ini. Tak heran, banyak pehobi begitu memburu ayamberkelas. “Bisa memperoleh uang dari hobi. Mulai penjualan sampai prestasi ayam,” katanya. (zen/rud)
Tujuh Kali Sabet Juara Nasional
MENAMPILKAN ayam dalam ajang kontes butuh persiapan matang. Selain ayamnya harus memang benar-benar jago, perawatan tak boleh dikesampingkan. Dalam kompetisi ayam harus mengalahkan beberapa musuh, baru kemudian akan disebut juara.
Dalam laga, ayam yang berlaga akan ditentukan secara acak. Siapa pun lawannya harus dihadapi. Namun, bobot ayam dipastikan harus sama.
“Setelah mendaftar kan ditimbang dulu. Jika beratnya sekian akan dikumpulkan dengan ayam yang berat sama. Nanti juri memilih musuhnya secara acak. Meski ketemu musuh yang lebih tua jika beratnya sama, ya harus dilawan. Tidak boleh protes,” ujar Pak O.
Sistem kompetisinya, seperti sistem memperebutkan juara terbaik. Sistemnya pemenang akan lawan pemenang sampai juara terbaik. Yang menang dalam laga terakhir, itulah pemenangnya. “Tidak ada juara II dan III. Juaranya satu saja,” ujarnya.
Nominal pendaftarannya beragam. Tergantung kelas ringan apa berat. Kelas berat namanya predator. Pendaftarannya jutaan rupiah sampai puluhan juta.
Kelas ringan pendaftarannya ada yang Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu. Hadiahnya juga beragam. “Kalau dulu hanya mendapat piala dan piagam tok. Sekarang berubah, ditambah uang,” katanya.
Begitu ayam sudah bertarung, jalu kedua ayam dibungkus. Warnanya sesuai alat yang dipegang untuk juri. Misalkan ayam warna merah pukulannya masuk, juri akan menekan tombol merah. Jika lawannya biru dan pukulannya masuk, maka sebaliknya.
“Ayam yang mana pukulannya banyak dan masuk, itulah pemenangnya,” jelasnya.
Durasi ayam bertarung diberi waktu selama 20 menit. Karenanya, ayam yang diandalkan harus disiapkan matang-matang. Agar saat bertanding dalam kondisi fresh. Seperti mandi pagi dan olah fisik.
Latihan fisik ini, kata Pak O, tergantung jenis ayamnya. Misalnya, pakhoy loncat dan lari kliter, sedangkan pama hanya loncat-loncat.
Satu minggu sebelum berlaga, rutin mandi. Latihan fisik dilakukan setiap pagi selama 4 hari sebelum berlaga. Selama itu setiap pagi sarapan tomat dan gula aren. Tiga hari sebelum berlaga, ayam sudah diistirahatkan.
Sejumlah prestasi juga pernah diraih Pak O. Bahkan, tercatat sampai 7 kali juara kontes kelas nasional. Di antaranya, di Subabaya, Jogjakarta, dan di Kediri. “Sekarang lebih banyak waktu mengembangkan anakan dari pejantan yang sudah menang,” katanya.
Ia memastikan dalam kontes ini bukan ajang berjudi. Tapi, benar-benar mengadu ketangguhan ayam yang dikonteskan. “Di Pasuruan, tidak ada dari dulu. Adanya di luar kota. Di sini (Pasuruan) kalau judi banyak,” katanya.
Zainul Arifin menambahkan, persiapan ayam laga tergantung ayamnya. Jika ayamnya nafsu tarungnya keluar, segera dilakukan perawatan khusus Seperti mandi, jemur, jamu, dan lainnya. “Jika ayamnya masih loyo, jangan dulu, kasihan,” ujarnya.
Ciri-ciri ayam yang sudah siap tarung, di antaranya, warna kulit semuanya memerah dan berminyak. Bulu mengkilau, pergerakan agresif, dan sering berkokok. (zen/rud)
Editor : Ronald Fernando