Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ayam Cemani, Banyak Diburu Ketika Bulan Sura, Begini Persiapan Pehobi di Probolinggo

Achmad Arianto • Minggu, 8 September 2024 | 17:10 WIB
TELATEN: Sumam menunjukkan salah satu ayam cemani jenis bulu walik. Bulunya berbeda dengan jenis lainnya.
TELATEN: Sumam menunjukkan salah satu ayam cemani jenis bulu walik. Bulunya berbeda dengan jenis lainnya.

AYAM cemani berbeda dengan ayam kebanyakan. Warga bulu dan tubuhnya hitam legam. Kondisi ini menjadi salah satu daya tarik bagi pehobi ayam. Tidak hanya untuk dipelihara dan diternakkan, ayam yang banyak dikaitkan dengan klenik ini juga kerap dikonteskan.

Ayam cemani merupakan salah satu jenis ayam yang masuk kategori unik. Biasanya tubuh ayam terdiri beberapa warna yang selaras. Namun, ayam jenis ini hanya memiliki satu warna, hitam legam. Tak ayal, ayam asal Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ini menjadi buruan pehobi ayam.

Salah satunya, Sumam, 51, warga Desa Selogudik Wetan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Sudah 20 tahun ia memelihara ayam cemani.

Awalnya, memiliki empat jenis ayam. Di antaranya, ayam kampung, ayam bangkok, ayam bekisar, dan ayam cemani. Setelah beberapa bulan memelihara sejumlah jenis ayam itu, rupanya Sumam kepincut dengan ayam cemani. Ia pun fokus memelihara satu jenis ayam, cemani. Yang lain dijual untuk membeli anakan ayam cemani.

“Dulu ada beberapa jenis ayam yang saya pelihara. Kemudian saya perhatikan setiap harinya kok ayam cemani lebih bagus. Dilihat dari warna dan bulu ditubuhnya terlihat lebih unik. Jadi jenis lainnya saya jual,” katanya.

Awalnya, Sumam hanya memelihara sepasang ayam dewasa dan 5 ekor anakan ayam cemani. Rupanya sejumlah ayamnya tumbuh dan berkembang biak. Hingga akhirnya memutuskan menambah kandang. Kandang kecil itu ditaruhnya di depan rumah.

Seorang montir ini mengatakan, ayam cemani termasuk jenis ayam unik. Seluruh tubuhnya berwarna hitam legam. Mulai dari ujung jengger hingga ceker, hitam. Darahnya merah pekat seperti Betadine. Keunikan inilah yang kemudian menjadi daya tarik kolektor untuk memeliharanya.

BULU BIASA: Sumam menunjukkan salah satu ayam cemani jenis bulu biasa. Jenis ini banyak diburu penghobi dan juga sering dikonteskan.
BULU BIASA: Sumam menunjukkan salah satu ayam cemani jenis bulu biasa. Jenis ini banyak diburu penghobi dan juga sering dikonteskan.

Ayam cemani dipelihara dengan beberapa alasan, mulai dari hobi dan konsumsi. Bahkan, ada yang sengaja beternak ayam cemani karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Banyak juga yang mencarinya untuk dikurbankan dalam acara selamatan atau kepentingan ritual lainnya. Karena itu, ayam cemani dikenal dengan sebutan ayam klenik.

“Kalau saya memang hobi memelihara dan ternak. Saat ini saya punya 30 ekor, baik yang dewasa maupun yang masih anakan. Ayam ini banyak yang mencari karena digunakan untuk selamatan. Saat masuk bulan Sura (Asyura/Muharam) banyak yang beli,” jelasnya.

Ayam cemani terdiri atas beberapa jenis. Di antaranya, cemani bulu biasa sama dengan ayam kampung, hanya berwarna hitam legam. Kemudian, ayam cemani bulu cemara, karena bentuk bulunya menyerupai daun pohon cemara. Serta, ayam cemani bulu walik dengan ciri khas bulunya yang mengarah ke atas.

“Ayam cemani ada tiga jenis dengan warna khas hitam legam. Jenis ayam ini biasanya juga dilihat dari warna lidahnya, meski warnanya sama hitam legam, tetapi lidahnya ada yang berwarna abu-abu,” ujar pehobi ayam cemani lainnya, Agus Hidayat, 41.

Warga Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, ini menyukai ayam cemani sejak masih SMA. Katanya, yang paling banyak dipelihara pehobi biasanya jenis ayam cemani bulu biasa dengan lidah hitam.

Alasannya, bulunya tampak bagus dan rapi dengan warna hitam legam yang cukup eksotik. Saat terkena cahaya matahari, warna hitamnya tampak berkilau keunguan.

“Cemani yang banyak dipelihara sebagai hobi, ayam cemani yang memiliki bulu biasa. Jenis ini juga sering dikonteskan. Jika sudah menang kontes, maka harganya juga akan naik,” ujarnya. (ar/rud)

 

AYAM CEMANI

  • Ayam cemani berasal dari Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Memiliki tubuh yang mudah dikenali karena memiliki satu warna hitam legam.
  • Ayam cemani terbagi menjadi tiga jenis. Meliputi ayam cemani bulu biasa, bulu cemara, dan bulu walik. Dengan warna lidah hitam dan abu-abu.
  • Pemeliharaannya sama seperti ayam pada umumnya alias tidak ada perlakuan khusus.
  • Pehobi ayam memelihara ayam cemani karena warna tubuhnya yang hitam legam. Namun, banyak orang percaya ayam cemani sebagai ayam klenik.

 

BANYAK DIBURU: Sejumlah ayam cemani peliharaan Sumam. Ayam cemani ini banyak diburu warga ketika memasuki bulan Sura.
BANYAK DIBURU: Sejumlah ayam cemani peliharaan Sumam. Ayam cemani ini banyak diburu warga ketika memasuki bulan Sura.

Bila Dijadikan Hiasan, Perawatan Harus Diperhatikan

PEMELIHARAAN ayam cemani tidak jauh beda dengan ayam pada umumnya. Hanya saat awal memelihara atau pindah kandang yang memerlukan sedikit adaptasi. Perlu cara khusus agar bisa kerasan di tempat dan  majikan baru.

Ayam akan merasa nyaman dengan kandang yang ditempatinya sejak ayam dibesarkan. Juga akan merasa nyaman dengan pemilik yang sering memberikan pakan dan membersihkan kandang. Ketika berada di kandang baru atau pemilik baru, akan berontak dan kabur. “Lingkungan atau kandang yang akan ditempati terlebih dahulu harus nyaman,” ujar Sumam.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan ketika memelihara ayam cemani. Pemberian pakan harus lebih diperhatikan. Harus diberi pakan bernutrisi bagus dan protein tinggi agar selalu sehat dan bobotnya ideal. Disesuaikan dengan usia ayam.

Saat usia pertumbuhan sampai 5 bulan diberi konsentrat. Ketika usianya di atas 5 bulan sampai dewasa, konsentrat dikombinasikan dengan beras jagung. Dengan perbandingannya 1:1. Pakan diberikan pada pagi atau sore. Agar ayam terhindar dari kegemukan yang mengakibatkan ayam menjadi malas.

LEGAM: Salah satu ayam milik Agus Hidayat, yang hitam legam. Termasuk jenggernya.
LEGAM: Salah satu ayam milik Agus Hidayat, yang hitam legam. Termasuk jenggernya.

“Pakan diberikan dua kali dalam sehari. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan dan bobot ayam lebih terjaga,” bebernya.

Agar tubuh ayam menjadi lebih terjaga, ukuran kandang ayam cemani juga perlu diperhatikan. Apapun bentuk kandangnya, yang terpenting muat. Untuk ayam dewasa idealnya, kandangnya minimal berukuran 5 kali tubuh ayam.

Berbeda dengan ayam yang hendak dikembangbiakkan. Kandang minimal berukuran 2 x 1,5 meter. Harus beralaskan tanah, agar ayam dapat kawin secara alami. Saat pembesaran, anakan harus dipisah ketika usianya sudah 4 bulan. Masukkan ke kandang berukuran 50 x 60 sentimeter sampai usia 6 bulan. Setelah itu dapat dipindahkan ke sangkar.

Saat sudah dewasa, ayam cemani harus dijemur secara rutin. Ini salah satu bagian yang tidak boleh dilewatkan dalam pemeliharaan dan perawatan. Sebab, sinar matahari sangat baik untuk kebugaran dan stamina ayam. “Mempercantik bulu serta membunuh bakteri dan virus yang ada di dalam sangkar ayam cemani,” ujar Agus Hidayat.

Penjemuran bisa dilakukan pada pukul 07.00 sampai pukul 10.00. Maksimal satu jam. Hindari menjemur pada tengah hari karena dapat membuat ayam dehidrasi yang akan membuatnya lebih mudah flu. Jika sudah demikian, ayam dehidrasi menjadi lebih banyak minum sehingga berpengaruh pada tubuh.

Bagian yang juga perlu diperhatikan dalam perawatan ayam cemani. Adalah mencuci bersih wadah pakan dan minum setiap kali selesai digunakan. Serta, mengganti air minum setiap pagi dan sore. Ayam juga perlu dimandikan saat kotor dan berbau. Namun, kemudian harus dijemur agar tidak sakit.

“Ayam cemani yang memang sebagai hobi atau hiasan, pakan, kandang, dan perawatan benar-benar harus diperhatikan. Berbeda dengan yang memelihara ayam untuk dikembangbiakkan. Asal ayam sudah kerasan dengan lingkungan dan pakan terpenuhi, maka ayam dapat kawin dengan alami,” ujarnya. (ar/rud)

Editor : Ronald Fernando