BANYAK jenis ayam yang dapat dipelihara sebagai binatang hias di rumah. Salah satunya ayam serama. Dengan ciri tubuh dada membusung serta ukurannya yang mungil, menjadikan ayam ini layak dipelihara. Baik untuk ternak atau hanya sekadar hobi.
Ayam serama sekilas hampir sama dengan ayam kate. Sama-sama memiliki ukuran kecil. Namun, jika dibandingkan dengan seksama, ukuran ayam serama lebih kecil.
Ukuran dewasa ayam jenis ini tingginya maksimal hanya 27 sentimeter dan bobot 500 gram. Membuatnya begitu unik dan menjadi daya pikat untuk penghobi ayam.
Salah satu pengobi ayam jenis ini adalah Rudy Romadhona, 36. Warga Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, ini hobi memelihara ayam sejak remaja. Namun, baru memelihara ayam serama sejak 2005 atau saat duduk di bangku SMA.
“Beberapa ayam sudah pernah saya pelihara. Mulai dari ayam kampung, bangkok, kate, dan terakhir ayam serama. Sampai sekarang masih tetap memelihara ayam serama,” katanya.
Menurutnya, ayam serama ini berasal dari Malaysia. Ciri khasnya mudah dikenali. Selain bentuk tubuhnya yang mungil, juga memiliki dada yang membusung. Karena itulah, banyak yang menyebutnya dengan ayam sombong atau ayam kapten.
Struktur tubuhnya juga unik. Kepala nyaris berada di punggung, mendekati ekor. Karena keunikan tubuhnya itulah, banyak yang memilih ayam serama sebagai hobi.
Pria yang hobi berolahraga basket ini memperoleh anakan serama dari sesama penghobi ayam. Ia mengaku tertarik dengan bentuk tubuh serama yang unik dan mungil. Karena itu, rela menjual ayam yang dipeliharanya, kemudian fokus memelihara ayam serama.
“Tidak memerlukan kandang yang luas. Anakan pertama saya peroleh dari teman yang sebelumnya sudah memelihara. Indukan aslinya dari Malaysia,” jelasnya.
Keunikan tubuh ayam serama tidak hanya sebatas menjadi daya tarik untuk dipelihara. Baik hanya untuk hobi ataupun untuk diternakkan. Ayam jenis ini juga kerap dilombakan atau kontes.
Kriteria yang menjadi tolok ukur ayam tersebut berkualitas atau unggul meliputi keunikan tubuh, struktur tubuh yang proporsional, dan memiliki warna bulu yang serasi. Selain itu yang jadi point tambahan penilaian adalah mental ayam tidak mudah kabur saat dipegang, malah membusungkan dadanya kemudian berkokok.
Rudy memelihara ayam serama sekadar hobi, sehingga hanya fokus melakukan pengembangbiakan. Melatih dan memberikan asupan pakan sendiri pada ayam serama yang dimilikinya, sehingga memiliki tubuh yang ideal. Saat ada kontes, selalu hadir untuk melihat sekaligus menambah wawasan perihal ayam serama.
Dengan demikian, ia tahu mana ayam yang tubuhnya baik untuk dikonteskan. Atau, hanya cocok untuk diternakkan.
“Ayam serama sering dikonteskan, panitia memiliki kriteria sendiri untuk menilai. Secara umum yang dilihat bentuk tubuh dan warna bulu. Serta, mental ayam, semakin sering membusung dianggap ayam pemberani. Jika sudah demikian harganya juga mahal,” ujarnya. (ar/rud)
Tidak Butuh Kandang Luas
KEUNGGULAN ayam serama juga terletak pada pemeliharaannya. Ukuran yang mungil membuatnya mudah untuk dikembangbiakkan. Tidak memerlukan kandang luas. Bahkan, bisa diternakkan dengan menggunakan kandang burung.
Rudy Romadhona mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat hendak memelihara ayam serama. Baik hanya untuk hobi atau memang sengaja diternakkan.
Pertama ukuran kandang. Idealnya ayam ini harus ditempatkan di kandang berukuran minimal 50 x 50 sentimeter. Kandang ini sudah dapat digunakan untuk pembesaran dan pengembangbiakan. “Ini rumah untuk ayam. Jika rumahnya nyaman, tentu pertumbuhan ayam juga baik,” ucapnya.
Sistem pemberian makan hampir sama dengan ayam pada umumnya. Pemberian pakan disesuaikan usia ayam. Pada usia 0 sampai 1 bulan ayam hanya diberikan pakan konsentrat. Sementara, pada usia 2 bulan pakan ditambah dengan jagung giling atau beras jagung. Pakan jenis ini begitu mudah diperoleh karena banyak yang menjual.
Pemberian makan dilakukan sebanyak 2 kali. Pagi dan sore. Sementara, air minum harus selalu tersedia dan setiap hari harus baru.
Selama pemeliharaan kebersihan tubuh ayam juga perlu diperhatikan. Agar tidak mudah terserang penyakit atau virus.
Ayam serama setidaknya harus dimandikan seminggu sekali. Setelah selesai dimandikan, dijemur sampai bulu mengering. Pengeringan ini dilakukan paling lama satu jam dengan paparan langsung cahaya matahari.
Saat ayam dijemur, kandang ayam turut juga dibersihkan. Dengan cara menyapu kotoran dan sisa bulu di kandang sampai bersih. Selanjutnya disemprot cairan desinfektan untuk mencegah adanya virus. Biarkan kandang dalam keadaan terbuka sampai sampai kering.
Agar ayam tetap bugar, ayam juga perlu dilepas di luar kandang. Dengan demikian, ayam akan memakan serangga atau biji-bijian yang ada dilingkungan sekitar. Serta, memakan mineral yang dibutuhkan untuk tubuh. Dengan demikian tubuh ayam lebih bugar.
“Yang paling penting saat memelihara ayam serama adalah asupan pakan, kebersihan tubuh, dan kandang. Juga beri vitamin khusus ayam. Bisa dibeli di toko pakan ayam,” tuturnya.
Ayam serama bisa dikawinkan saat sudah berusia 5 bulan. Ada 3 cara mengawinkannya. Mulai dengan cara alami yakni dengan memasukkan sepasang ayam jantan dan betina dalam satu kandang. Kemudian, dengan cara membantu saat perkawinan dengan memegangi si betina agar jantan mengawini betina. Terakhir, dengan kawin suntik.
Setelah betina berhasil kawin kemudian bertelur. Telur akan dierami selama 18 hari dalam suhu kamar. “Hasil dari perkawinan biasanya tergantung pada induknya. Jika gennya bagus, maka anaknya juga bagus,” bebernya.
Rudy menambahkan, ternak ayam serama juga cukup menjanjikan. Anakan ayam serama berkualitas, harganya sampai puluhan jutaan rupiah. Terlebih saat pernah menang kontes. Harganya juga akan melambung. Karena itu, ia tetap konsisten hingga sekarang memiliki 48 ekor ayam serama.
“Harga anakannya mulai Rp 100 ribu per ekor. Tergantung kualitas anakan. Kalau dewasa sepasang Rp Rp 500-700 ribu. Jika sudah pernah menang kontes harganya bisa mencapai Rp 10 juta, bahkan lebih,” ujarnya. (ar/rud)
Editor : Ronald Fernando