Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Meronce Manik, Menuntut Kreativitas dan Kesabaran

Inneke Agustin • Minggu, 2 Juni 2024 | 18:10 WIB
SIAP PAKAI: Kinanti Wulan Ramadhani, menunjukkan sejumlah hasil karyanya berupa stripe ponsel.
SIAP PAKAI: Kinanti Wulan Ramadhani, menunjukkan sejumlah hasil karyanya berupa stripe ponsel.

DI tengah kesibukan sehari-hari, semakin banyak orang yang mencari kegiatan yang bisa membantu mereka rileks dan mengekspresikan kreativitas. Salah satu hobi yang banyak digandrungi adalah meronce manik-manik.

Manik-Manik kali pertama ditemukan di Eropa pada masa Acheul sekitar 250.000 hingga 130.000 tahun sebelum Masehi. Manik-manik ini berbahan kulit kerang. Sementara teknik meronce merupakan bentuk seni yang dilakukan dengan cara merangkai objek benda menjadi satu kesatuan yang menarik dengan bantuan tali atau benang.

 

 

Kegiatan meronce sejatinya telah dikenal sejak zaman prasejarah. Para perempuan di zaman Neolithikum, diperkirakan telah menyukai perhiasan. Mereka menggunakan batu sebagai perhiasan atau aksesoris sebagai penanda kecantikan atau status sosial.

Di Kota Proboliggo, salah satu penggemar ronce manik-manik adalah Dwi Rizki, 34. Warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ini mengaku menyukai kegiatan ini sejak 2008. Sejak masih duduk di bangku kuliah.

MEJA KERJA: Meja kerja Kinanti Wulan Ramadhani, meronce penuh dengan manik-manik dan peralatan meronce.
MEJA KERJA: Meja kerja Kinanti Wulan Ramadhani, meronce penuh dengan manik-manik dan peralatan meronce.

“Karena dulu juga suka asesoris. Beli-beli terus, lama-lama mikir kenapa tidak buat sendiri saja. Akhirnya coba bikin sendiri,” katanya.

Awalnya, Dwi mengaku kesulitan dalam merangkai manik-manik. Tak jarang tangannya tergelincir saat meronce yang mengakibatkan manik-manik terlepas dari benang. “Memang butuh kesabaran dan keuletan. Terutama untuk membentuk suatu motif, itu butuh imajinasi,” tuturnya.

 

 

Seiring dengan berjalannya waktu, Dwi memperluas wawasannya dengan cara menonton sejumlah tutorial di sosial media untuk membuat bentuk-bentuk unik dari rangkaian manik-manik. Terutama bentuk 3D, seperti dompet maupun tas.

TAS MANIK: Dwi Rizki, warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ketika membuat tas dari manik-manik.
TAS MANIK: Dwi Rizki, warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ketika membuat tas dari manik-manik.

“Membuat bentuk tiga dimensi semacam ini memang butuh waktu lebih lama dibandingkan dengan membuat seperti gelang atau cincin. Harus lebih ekstra pengerjaannya. Apalagi yang ada motifnya. Kadang baru ketahuan kalau salah, ketika sudah hampir jadi. Ya harus diulang, dilepas satu per satu. Makanya melatih kesabaran,” jelasnya.

Masuk 2018, Dwi mulai memperkenalkan karyanya ke khalayak ramai. Ia menjual sejumlah produk berbahan dasar ronce manik-manik. Seperti gelang, cincin, bros, stripe masker, dan sabuk. Pada masa pandemi Covid-19, masyarakat sedang banyak berburu stripe masker.

“Kalau sekarang, karena masa pandemi telah usai, masyarakat lebih banyak yang mencari cincin atau gelang. Terkadang ada ibu dan anak yang minta kembaran. Kalau untuk laki-laki juga ada peminatnya, tapi mayoritas minta warna hitam polos saja,” katanya.

Ide tak hanya datang dari Dwi. Terkadang, juga ada pembeli ada yang membawa contoh. “Tapi, kalau saya ada ide yang lebih bagus atau bahannya mungkin sulit didapat, akan saya sampaikan. Agar hasilnya lebih maksimal juga,” katanya.

 

 

Tak hanya itu, Dwi bahkan sering diundang menjadi pembicara dalam kegiatan pelatihan meronce manik-manik untuk komunitas ibu-ibu. Pada Festival Semipro 2023, Dwi tampil secara live untuk berbagi ilmu meronce pada para pengunjung di Alun-Alun Kota Probolinggo.

“Kendala yang banyak dijumpai ketika pelatihan, kadang ketika rangkaiannya hampir selesai, senarnya putus. Alhasil harus mengulang. Di sini letak ujian kesabaran dan keuletannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Dwi mengungkapkan, tak terkendala dalam membagi waktu antara hobi meronce dengan kegiatan lainnya. Karena, biasanya dilakukan setelah seluruh pekerjaan utamanya selesai. “Sambil nonton televisi atau bersantai, kecuali sedang ada acara atau pesanan dalam jumlah banyak, baru lembur,” katanya.

Pernyataan serupa disampaikan Kinanti Wilan Ramadhani. Remaja 14 tahun ini mengatakan, meronce butuh ketelitian dan kreativitas. Menuntut pehobi berpikir keras agar hasilnya maksimal. Namun, ia mengaku tidak mengambil ide dari mesia sosial. Melainkan lebih senang menuangkan ide kreatifnya sendiri ke dalam karyanya.

 

 

“Kalau lihat di internet ribet. Bolak-balik lihat. Lama mau selesai. Jadi, lebih enak merangkai sendiri, pilihan warna mana yang sekiranya bagus dan nyambung. Memang butuh waktu untuk mengasah kemampuan itu hingga menemukan proporsi yang tepat. Tapi, kalau sudah terbiasa, tidak kaku lagi. Butuh latihan dan kesabaran memang,” ujarnya. (gus/rud)

 

Diawali Coba-Coba

KINANTI Wulan Ramadhani, memang baru berusia 14 tahun. Namun, kemahirannya meronce manik-manik patut diacungi jempol. Siswi kelas VIII SMP Negeri 10 Kota Probolinggo, ini menggeluti hobinya sejak 2022.

“Waktu itu masih kelas VI SD. Coba-coba bikin asesoris dari manik-manik. Ternyata bagus dan lucu. Saya coba jual ke teman-teman, ternyata banyak yang suka. Akhrinya sampai sekarang senang bikin kerajinan manik-manik,” ujarnya.

Warga Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo ini mengatakan, manik-manik yang digunakan dari berbagai jenis, warna, dan ukuran. Ada yang mote pasir, kristal ceko, atau bentuk mutiara.

KERJA SAMA: Kinanti Wulan Ramadhani, meronce manik-manik ditemani ayahnya Erik Arfiyanto.
KERJA SAMA: Kinanti Wulan Ramadhani, meronce manik-manik ditemani ayahnya Erik Arfiyanto.

Warnanya juga beragam. Mulai dari glossy, pastel, dan doff. Harganya relatif murah, tapi yang jenis luxury, seperti bentuk karakter kartun, kata Kinanti, lebih mahal dan ukurannya besar.

“Begitu juga senar. Kami pakai dua jenis senar. Ada yang elastis untuk gelang dan cincin. Sementara, untuk stripe ponsel pakai yang tidak elastis. Kebanyakan bahan-bahan kami beli melalui online, sebab harganya lebih terjangkau dan pilihannya lebih banyak,” ujarnya ditemani ayahnya Erik Arfiyanto, 46.

Kinanti mengatakan, untuk membuat sebuah gelang membutuhkan tali elastis sepanjang kurang lebih 15 sentimeter. Hanya butuh waktu 8 menit untuk menyelesaikan satu gelang. Sebelum meronce gelang, Kinanti terlebih dahulu memberi kodokan atau stopper di ujung rangkaian agar manik-manik tidak berjatuhan.

“Baru kemudian diisi manik-manik sesuai keinginan. Sementara, untuk menyesuaikan ke ukuran tangan, nanti dibantu dengan menambahkan mata rantai gelang. Jadi, bisa diatur sendiri sesuai besar pergelangan tangan,” jelasnya.

Sementara, untuk cincin hanya butuh senar elastis sepanjang 8 sentimeter. Pembuatannya juga tak butuh waktu lama, hanya 5 menit. “Sedangkan untuk stripe ponsel kami tidak menggunakan benang elastis, melainkan yang nonelastis. Karena ponsel itu kan berat, kalau diberi yang elastis nanti khawatir putus,” ujarnya.

Sebagai orang tua, Erik mengaku membantu putrinya dalam meronce manik-manik. Bahkan, membelikan wadah khusus untuk menata manik-manik agar tak berserakan kemana-mana di meja kerja putrinya. Tampak manik-manik itu dikelompokkan berdasarkan jenis dan warnanya.

“Saya juga membantu sedikit ketika meronce, tapi memang tak secepat putri saya. Saya juga membantu menekan bagian kedokan dari gelang. Sebab, itu kalau kurang tekan bisa-bisa gelangnya lepas. Tapi, kalau pun lepas kami biasanya masih memberikan garansi perbaikan atau ganti baru, selama rusaknya tidak disengaja,” katanya.

Erik juga memastikan kewajiban anaknya untuk sekolah tetap terjaga, di samping terus menekuni hobinya. “Utamakan tugas sekolah dulu, nanti kalau selesai, bisa lanjut mengerjakan hobi meroncenya,” kata Erik. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#hobi #Manik #kerajinan