Memang tidak semua orang menyukai golf. Mindset olahraga mahal masih tertanam di olahraga ini. Hanya bisa dinikmati oleh orang tertentu.
Tapi bagi para pelakunya, ini tak sepenuhnya benar. Mereka yang menyukai juga harus banyak berlatih dan belajar. Tapi jika sudah kadung nyemplung, akan sulit untuk keluar.
Biasanya pehobi golf lebih dulu mempelajarinya sebelum terjun menekuni golf. Seperti Muhammad Nawawi, 47. Awal mula dia menyukai golf dengan melihat jurnal edukatif golf di YouTube.
“Bagi pemula awalnya iseng-iseng melihatnya di internet. Kemudian menyukainya,” ujar warga Jalan Sultan Agung, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo ini.
Setelah tertarik, Nawawi yang juga menjabat sebagai ketua Komisi 1 DPRD Kota Pasuruan ini mendalami dengan membaca serta mempelajari teknik bermain golf.
Bisa dari kawan maupun dari streaming video. Hingg ajika sudah siap, kemudian dia meluncur ke lapangan.
Dia masih ingat, saat belajar langsung memukul bola golf di draving ring di Taman Dayu Pandaan.
Waktu itu dia dipandu pelatih golf profesional. “Saat turun pertama kali bermain golf di ajak main oleh almarhum Pak H Hasani, mantan Wali Kota Pasuruan,” ujarnya.
Apakah berlatih harus dengan kaum berduit? Menurutnya tidak juga. Namun bersama komunitas sesama pemain olahraga golf. Mereka dari berbagai kalangan yang berbaur di hobi yang sama
Kata Nawawi, biaya yang dikeluarkan untuk latihan itu relatif. Tergantung kemampuan fisik dan stamina pelakunya. Untuk awal latihan memukul 100 bola golf saja Rp 60.000.
Apabila fisik lebih fit bisa memukul 200 bola golf di draving ring. “Jika latihan di lapangan golf 18 hole dari yang termurah Rp 200 ribu sampai Rp 475 ribu tiap pemain atau golfer,” jelasnya.
Tak hanya harga yang relatif. Nawawi juga tak sepakat bahwa peralatan golf selalu mahal. Sebab banyak merk dan tahun pengeluaran produksinya. Meski dari yang paling murah Rp 4 juta sampai Rp 150 juta.
Begitu juga dengan bola golf. Tak harus baru. Pehobi bisa membeli yang second. Dari harga Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu per bola. “Sementara jika membeli bola yang baru dari harga Rp 75 ribu sampai Rp 175 ribu isi 3 bola,” katanya.
Nawawi memilih lapangan untuk latihan bisa dimana saja. Yang terpenting ada lapangan golf. Selain yang terdekat di Pandaan, dia juga latihan di Malang dan Surabaya.
Setiap latihan, satu flatnya terdiri dari 4 orang pemain atau golfer. Bergantung komunitasnya, seberapa orang jumlahnya tetap bisa bermain.
Soal biaya sewa lapangan, bisa urunan. Atau bergantian bayarnya. “Keduanya bisa dilakukan bergantung komitmen di antara pemain golf,” ujarnya.
Pehobi golf lainnya adalah Erwin Sudiro, 55. Kata dia, bermain golf membutuhkan konsentrasi, ketenangan dalam memukul bola. Inilah yang dia sukai dari golf. Penuh akan tantangan.
Setiap lapangan juga punya tingkat kesulitan berbeda-beda. "Seperti melewati kemiringan dan lainnya. Itu penuh dengan sebuah tantangan," katanya.
Selain itu juga dari segi jarak. Seorang golfer, harus tahu bagaimana Teknik memukul bola hingga seberapa perlu kekuatan saat memukul. Inipula yang membuat Erwin mau untuk bermain dan menjadikannya gaya hidup.
Erwin juga senada soal peralatan. Dia punya beragam. Ada yang murah bahkan ada yang mahal ratusan juta.
Namun dia tak sepakat, golf bukan karena mahalnya. Melainkan kecocokan menggunakan itu sendiri. Seperti Ketika memilih stik golf. Karena belum tentu yang mahal akan cocok saat digunakan.
Dia sendiri memiliki dua stik. Satu digunakan untuk latihan, satunya lagi untuk kompetisi. "Punya saya ini saja yang bintang 5 harganya 50 juta keatas," kata pria yang merupakan lawyer asal Kelurahan Tembokrejo, Kecamatan Purworejo ini.
Erwin sendiri terbiasa latihan di Malang. Memang teman-teman latihannya, kebanyakan dari kalangan hukum. Entah itu sesame pengacara, personel polisi dan lainnya. Namun ada juga dari kalangan lainnya, seperti kliennya.
"Kami bisa ngobrol-ngobrol bersama rekan lainnya. Letak seninya di sana sebenarnya," tandasnya.
Saat berlatih jelas olahraga ini tak bisa sendiri. Biasanya Erin berlatih empat sampai lima orang. Bahkan jika ada temannya yang mengajak, dua orang pun jadi.
Erwin mengaku, apabila jarang latihan, kemampuan memukul bola golf akan menurun. Saat bulan ramadan ini jarang latihan. Biasanya dihari biasa seminggu 3 kali latihan.
Dapat Banyak Relasi di Lapangan
Bermain golf harus memiliki ketekunan dan niat yang teguh. Selain itu juga memiliki waktu yang cukup. Agar latihannya lebih intens. Terutama bagi pemula. Olahraga ini juga bisa menambah teman hingga relasi.
Ini menjadi prinsip Muhammad Nawawi. Kata dia, jika ingin mengawali olahraga golf ini, pelaku harus memiliki niat yang teguh dan serius belajar dan berlatih. “Belajar secara rutin, sabar, teliti dan telaten berlatih,” ujarnya.
Dengan keseriusan berlatih dan rajin akan membuat pelakunya khususnya pemula, bisa melakukannya. Sehingga saat memainkan golf ini semakin muncul perasaan senang.
Apalagi setelah mempunyai peralatan golf sendiri dan mempunyai waktu yang cukup, bermain golf seperti kebiasaan yang menyenangkan.
Nawawi menekankan, jangan lantaran dianggap olahraga mahal, seseorang langsung enggan untuk menekuninya.
Walau sebenarnya golf memang butuh finansial. Kata dia, olahraga ini bisa ditekuni oleh siapa saja. “Kalangan karyawan atau karyawati swasta yang biasa-biasa saja ada,” ujarnya.
Tapi untuk menjadi professional, ini ditentukan sampai seberapa lama yang bersangkutan bisa mengadopsi teori bermain golf. Serta keterampilan saat berlatih dan bermain golf.
“Secara riil, saya belum tahu jumlah budget yang diperlukan, mengingat saya belum pernah menelitinya,” ujarnya sembari tertawa lebar.
Begitu juga dengan Erwin yak tak sepakat, golfer tidak identik dengan orang kaya. Dari kalangan orang biasa juga banyak yang menekuni hobi ini. Bahkan dari kalangan anak-anak juga ada.
Memang dari anak-anak mengarahnya jadi seorang atlet. Berbeda dengannya, menekuni ini hanya sekedar hobi saja. “Seperti saya yang bukan dari kalangan orang kaya,” ujar warga asli Jember ini.
Erwin dan Nawawi merasa, ada kesenangan tersendiri saat bermain golf. Selain membangun relasi antar seseorang, ada momen yang paling seru.
Golfer juga jangan mengandalkan gengsi. Misalkan, memakai peralatan murah saat berlatih di lapangan.
Begitupun jika bermain di lapangan, tak harus mengendarai mobil. Seperti yang Erwin lakukan. Saat berlatih bersama teman-temannya, dia memilih jalan kaki.
“Disana letak kesenangannya bermain golf ini,” ujarnya.
Caddy Bantu Pemain di Lapangan
Golf juga identik dengan olahraga yang didampingi caddy. Tapi itu semua juga tidak benar.
Sebab banyak pemain golf profesional dari kalangan bukan orang yang berada.
Ketika bermain, golfer tak harus didampingi caddy. Walau caddy sebenarnya perlu untuk membantu pemain.
Muhammad Nawawi menyebut, caddy bertugas membantu para pemain di lapangan. Sebab caddy dibekali pengetahuan dan bisa menjadi navigator. Seperti tentang jarak jauh, panjang dan lebar lapangan, arah angin, kontur lapangan. Caddy juga keterampilan membaca dan kondisi lapangan golf dan lainnya yang tidak dimengerti oleh setiap pemain golf.
Nawawi menjelaskan, caddy di tiap lapangan golf punya spesifik dan tantangan yang berbeda-beda. Caddy tidak selalu wanita. Sebab ada beberapa lapangan golf yang caddy-nya seorang pria.
Apakah bisa dilakukan tanpa caddy? Menurutnya bisa saja folfer bermain tanpa caddy. Namun seluruh peralatan disiapkan oleh pemain sendiri. Termasuk mengambil bola dan stik golf pemain sendiri, hingga mengitung jarak dan brigde sendiri.
Jika bermain tanpa caddy, maka pemain harus mempelajari kontur lapangan sendiri. Jika menemui ini, maka tidak diketahui berapa lama waktu seorang golfer menyelesaikan permainan dari hole ke 1 ke hole lainnya sampai akhir permainan 18 hole.
“Namun itu tidak umum dan belum pernah tahu dimana ada lapangan golf yang tidak menyediakan caddy,” katanya. Pertandingan golf profesional tingkat dunia saja pemainnya atau golfer juga tetap didampingi caddy.
Memang bedanya Ketika bermain tanpa caddy, harus membutuhkan waktu yang lama dan permainan jadi tidak nyaman dan tidak lancar. Apabila itu dilakukan pada saat turnament golf, bisa diyakinkan permaian golf bakal krodit, macet parah, dan tidak jalan turnament golfnya.
“Pada akhirnya lapangan golf itu jadi tidak laku dan tidak ada yang mau main golf di lapangan itu,” katanya.
Senada diungkapkan Erwin. Soal caydy, Erwin menyebut, bertugas sebagai pembantu mengarahkan saja.
“Jadi lebih ke sharingnya. Misalkan dalam beberapa pekan jaraknya sejauh mana dipukulnya akan sekeras mana. Dengan mereka sangat membantu,” ujarnya.
Tiap pehobi juga tak hanya sekedar bermain. Terkadang mereka juga mengikuti kejuaraan. Seperti Nawawi, dia pernah mengikuti event-event turnamen golf yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan event yang di adakan oleh pijak pengelola lapangan golf. Ini menjadi tolok ukur bagi para pehobinya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid