Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Touring Komunitas Motor, Silaturahmi yang Selalu Dinanti

Fuad Alyzen • Senin, 22 Januari 2024 | 00:15 WIB
SILATURAHMI: Yadi (tengah kaus kuning) dalam sebuah pertemuan komunitas touring.
SILATURAHMI: Yadi (tengah kaus kuning) dalam sebuah pertemuan komunitas touring.

DULU touring hanya dilakukan oleh pemilik motor gede (moge) atau Harley Davidson. Kini, pemotor jenis apapun, makin banyak yang sering melakukan perjalanan jauh. Bahkan, kegiatan ini menjadi media silaturahmi antarkomunitas.

Biasanya touring dilakukan setiap ada momen. Seperti anniversary club antardaerah. Juga sunmory club dan touring gabungan.

Tentunya masing-masing anggota memiliki aktivitas masing-masing.

Baik dari sebagai apapatur negeri sipil, karyawan swasta, dan pekerjaan lainnya. Karena itu, touring biasa dilakukan pada hari libur kerja.

“Zaman sekarang sudah tidak perlu mengadakan perkumpulan untuk melakukan touring. Cukup membuat janji melalui WhatsApp Grup, komunitas antardaerah,” ujar warga Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Yadi, 46.

LANJUTKAN: Yadi (kanan) bersama komunitasnya siap berangkat setelah beristirahat di salah satu hotel di Bali.
LANJUTKAN: Yadi (kanan) bersama komunitasnya siap berangkat setelah beristirahat di salah satu hotel di Bali.

Soal tujuan, tinggal disepakati bersama. Tujuan touring ke mana saja. Biasanya menuju komunitas yang memiliki acara. Baik di Jawa maupun ke luar Jawa.

Selama ini, Yadi mengaku melakukan touring bersama dikomunitasnya paling jauh ke Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dan Lampung.

Pernah juga ke Bali dan Sumatera. “Biasanya ke luar pulau,” ujar Anggota Komunitas N Max Club di Pasuruan ini.

Menurutnya, melakukan touring bisa merasakan kesenangan. Selain senang selama masa perjalanan melintasi daerah-daerah, juga bisa bersilaturahmi sesama penghobi touring antardaerah. Bisa merasakan kebersamaan dalam susah dan senang selama perjalanan.

“Nilai yang tidak bisa diperoleh dari kesenangan lainnya. Jika sudah perjalanan jauh dari rumah, kekompakan antarteman sangat erat,” katanya.

Pernyataan serupa disampaikan penghobi Touring lainnya, Dimas Kombo, 28. Menurutnya, dulu memang hanya pemilih motor gede (moge) yang sering melakukan touring. Namun, kini semuanya bisa melakukannya, tanpa harus menunggu mempunyai moge.

“Yang terpenting kebersamaan dan kekompakan antarteman di komunitas. Urusan kendaraan apa saja, Revo ya Revo semua,” katanya.

Menurutnya, di negeri ini banyak pecinta touring, sedangkan untuk membeli moge, harganya lumayan melangit. Karena itu, motor bebek, matik, dan semacamnya menjadi alternatif bagi pecinta touring.

 

Badan dan Motor Harus Prima

Kesehatan jiwa dan raga jelas perlu diperhatian ketika hendak touring. Begitu juga dengan kondisi motor yang hendak ditunggangi. Surat-suratnya juga harus dipastikan lengkap.

Selama touring, kata Yadi, jelas akan melintasi banyak daerah. Karena itu, setiap pemotor harus mematuhi aturan lalu lintas dan tidak merugikan sesama pengguna jalan. “Jangan lupa kelengkapan keselamatan berkendara harus diperhatikan,” ujarnya.

Selain kondisi motor dan keamanan lalu lintas, tubuh juga harus fit. Harus tahu bagaimana caranya menjaga kondisi tubuh tetap bugar selama perjalanan.

ISTIRAHAT: Yadi dalam sebuah perjalanan dan ketika beristirahat sejenak di Kediri.
ISTIRAHAT: Yadi dalam sebuah perjalanan dan ketika beristirahat sejenak di Kediri.
REHAT: Yadi berpose bersama sejumlah motor ketika beristirahat sejenak di Bali.
REHAT: Yadi berpose bersama sejumlah motor ketika beristirahat sejenak di Bali.

Salah satunya, bisa berhenti untuk istirahat makan atau minum setiap tiga jam sekali. Agar tidak kelelahan dan konsentrasi di jalan lebih stabil. “Biasanya kami menyebutnya rest dulu,” katanya.

Menurutnya, selama perjalanan juga banyak risiko yang harus dihadapi. Seperti hujan, trouble motor, dan mengantuk saat berkendara. Risiko inilah yang sering melanda saat touring.

Yadi pernah memiliki pengalaman buruk ketika touring. Motornya mendadak troubel pada malam hari di tengah hutan Baluran Banyuwangi.

Pernah juga terjatuh ketika menghindari kendaraan berbelok tanpa memberikan aba-aba atau lampu riting.

“Tapi, hal demikian langsung terbayarkan setelah melakukan rest. Sudah sampai di tujuan dan kumpul bersama teman, saling canda tawa. Ini yang berharga,” katanya.

 

Makin Senang Jika Bareng Keluarga

Mengajak teman ketika touring, sudah biasa. Berbeda rasanya jika bersama keluarga, istri dan anak.

Rasanya, akan lebih menyenangkan. Bisa fokus bersenang-senang tanpa memikirkan kondisi keluarga di rumah.

Dimas Kombo, 28, warga Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan mengaku sering melakukan touring bersama teman.

Terkadang juga mengajak keluarganya. Karena, harus melakukan perjalanan jauh cukup lama.  Bisa lebih dari seminggu.

“Biasanya mengajak keluarga jika melakukan touring dengan waktu yang lama. Dan, rasanya lebih lega. Karena tidak lagi memikirkan kondisi keluarga di rumah. Lebih fokus bersenang-senang,” ujarnya.

LUAR JAWA: Sejumlah anggota ketika melakukan perjalanan menuju NTB.
LUAR JAWA: Sejumlah anggota ketika melakukan perjalanan menuju NTB.

Senada disampaikan Yadi, 46. Ia juga kadang mengajak keluarganya untuk touring. Katanya, semakin menyenangkan.

Sebab, ada yang mengatur kesiapan dan lainnya. Selain bersama teman, juga bersenang-senang bersama anak istri. “Kesenangan jadi bertambah, selain melakukan touring,” katanya.

Namun, ada juga keluarganya yang menolak atau keberatan saat touring. Biasanya, penghobi yang seperti ini minta izin jauh-jauh haru kepada istrinya.

Bahkan, ada yang izin sejak sepekan sebelum berangkat. Tujuannya, juga harus jelas. “Perlahan coba komunikasi dengan istri atau orang tua. Kebanyakan diizinkan kok,” katanya.

Abdul Munip, 34, menambahkan, anak dan istri terkadang menjadi penghalang untuk touring bersama komunitasnya.

Karenanya, kadang perlu memberi nafkah yang lebih untuk mendapatkan izin. Terutama soal duit belanja. “Kita rayu. Selain memberi uang, setelah pulang dijanjikan oleh-oleh,” jelasnya. (zen/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#Nmax #touring #komunitas motor