VIRGIAWAN Liestanto atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Fals, merupakan seorang penyanyi, musisi, pencipta lagu, sekaligus kritikus yang melegenda di Indonesia. Kharismanya mampu memukau banyak orang. Tak sedikit pula yang berusaha menirunya.
Iwan Fals lahir di Jakarta, pada 3 September 1961. Gaya bermusiknya beraliran pop, rock, country, dan folk pop. Liriknya banyak menceritakan masa-masa kelam bidang politik di era 1970 hingga 1980-an.
Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya. Bahkan, para penggemar fanatiknya sampai mendirikan Yayasan Orang Indonesia atau OI pada 16 Agustus 1999. Yayasan ini tersebar di penjuru nusantara, bahkan ke mancanegara.
Di Kota Probolinggo, salah satu penggemarnya yang juga pendiri OI Surabaya adalah Yuwana Puspa Indra, 48. Warga Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, ini banyak mengoleksi barang-barang berkaitan dengan Iwan Fals. Salah satunya kaset pita yang mencapai ratusan keping.
Ratusan kaset itu tertara rapi di rak dekat ruang tamu rumahnya. Ada juga yang disimpan di kamar. Terutama kaset yang dianggapnya langka. Kecintaannya terhadap Iwan Fals berawal dari tak sengaja mendengar lagu Iwan dari temannya.
Awalnya, Yuwana mengaku tak mengenal musik Iwan Fals. Ia lebih menyukai penyanyi mancanegara, seperti Elvis Presley, Connie Francis, Debbie Gibson, Queen, Gun and Roses, Rolling Stone, The Beatles, Scorpions, dan Bon Jovi.
“Teman saya pasang lagu Terminal. Saya dengarkan, lha kok enak. Seketika seperti tersihir. Suaranya menohok sekali. Dengar liriknya yang ‘Aku datangi kamu lewat lagu. Kudatangi kamu.’ Saya merasa seolah ada malaikat lewat. Sejak itu, saya langsung jatuh cinta pada lagu-lagu Iwan Fals,” katanya.
Album lainnya yang berkesan bagi Yuwana adalah album debut Iwan Fals, Canda dalam Ronda.
Dalam album ini berisi empat lagu yang diambil dari album Canda dalam Nada yang semuanya dinyanyikan Iwan Fals dibantu oleh GM Selo (Gerakan Musik Seloroh). Juara lomba lawak mahasiswa yang anggotanya meliputi Pepeng, Krisna Abu, Bang Nana, Mas Taufik.
Dalam album Canda dalam Ronda, nama Iwan Fals masih ditulis dengan ejaan Iwan Fales pada kover albumnya.
Kovernya pun didukung oleh gambar karikatur ciptaan Dwi Koen dan Panji Koming, yang merupakan kartunis terkenal kala itu.
Yuwana juga mengoleksi album Iwan Fals lainnya, Perjalanan. Diketahui, Iwan Fals membuat album ini bersama bandnya yang saat itu bernama Amburadul. “Bisa dikatakan ini merupakan album pertama Iwan Fals,” katanya.
Iwan Fals merupakan salah seorang penggemar Bob Dylan. Di album ini dan album Belum Ada Judul, aroma Bob Dylan sangat kental. Dipadukan dengan suara Iwan yang khas dengan irama country ballads, makin menguatkan suasana lirik sosial yang disampaikan. “Karena Iwan suka Bob Dylan, saya akhirnya suka Bob Dylan juga. Pokoknya musik apa yang Iwan suka, saya suka,” kata Yuwana.
Tak hanya tiga album itu, Yuwana juga memiliki banyak koleksi album Iwan Fals lainnya. Di Antaranya, Sarjana Muda (1981), Barang Antik (1984), Aku Sayang Kamu (1986), Wakil Rakyat (1987), Antara Aku Kau dan Bekas Pacarmu, 1910 (1988), Mata Dewa (1989), Belum Ada Judul (1992), Anak Wayang (1994), Terminal (1994), Mata Hati (1995), Manusia Setengah Dewa (2004), 50:50 (2007), dan masih banyak yang lainnya.
Kaset-kaset itu didapatan Yuwana dari dalam kota maupun luar kota sejak 1999.
Yuwana tak segan untuk hunting kaset Iwan Fals hingga ke Pasar Loak Gembong, Surabaya. Untuk memastikan kualitas kaset tetap prima meski dibeli dari pasar bekas, Yuwana sengaja membawa walkman. “Jadi, langsung dicoba diputar di tempat. Kalau tidak seperti itu, khawatir kualitasnya buruk, bajakan, atau bahkan isinya tak sama dengan kovernya,” jelasnya.
Dalam membeli sebuah album, Yuwana bisanya membeli tiga keping. Satu kaset untuk pajangan lengkap dengan segelnya, satu kaset untuk diputar, sementara satunya lagi sebagai cadangan.
Ia mendapatkannya dengan harga bervariasi. Mulai Rp 5 ribu hingga termahal sekitar Rp 100 ribu per album. Sejauh ini semua koleksinya masih terawat. “Yang penting tempatnya dijaga agar tidak lembab. Itu saja,” katanya.
Bukan hanya kaset, Yuwana juga mengoleksi sejumlah majalah, buku, hingga poster konser Iwan Fals. Semuanya dikumpulkan sejak sebelum mengoleksi kaset. Sejumlah poster didapatkannya dari konser-konser yang pernah didatangi.
Yuwana juga mengklipping cuplikan-cuplikan khusus berita Iwan Fals. Potongan koran bekas ataupun majalah itu ditempel dalam sebuah buku khusus. “Jilid pertama ada 525 lembar dan jilid kedua 300-an lembar. Sekarang sudah masuk jilid ketiga. Masih berjalan entah sampai berapa lembar nantinya,” katanya. (mg/rud)
Editor : Jawanto Arifin