Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Keindahan dalam Tiap Sapuan Aldy yang Memulai Perjalanan Batik dari yang Tak Disangka

Muhamad Busthomi • Minggu, 10 Desember 2023 | 19:18 WIB
MENDUNIA: Kebaya batik buatan Aldy yang memenangkan fashion show di Thailand.
MENDUNIA: Kebaya batik buatan Aldy yang memenangkan fashion show di Thailand.

Perjalanan Soli Rahmadi alias Aldy dalam seni membatik bukan sekadar pencarian hobi. Ia menciptakan perjalanan yang membawa nuansa baru dalam keindahan batik, mengukir cerita yang dalam dari setiap warna dan motifnya.

Sebuah kebetulan membawa Soli Rahmadi mengenal seni membatik. Awalnya, ia adalah seorang perancang busana karnaval. Karyanya diperagakan dalam karnaval yang setiap tahun digelar di Kota Pasuruan. Ia lalu ditawari mengikuti pelatihan batik dari aktivitasnya menggeluti dunia fashion.

Meski sebenarnya tawaran itu diberikan kepada Aldy -sapaan Soli Rahmadi- hanya untuk mengisi slot yang kosong. Sebab, ada salah satu peserta yang mengundurkan diri. Aldy tak menyia-nyiakan tawaran itu. “Saya langsung terima. Apalagi sebelumnya memang punya angan-angan bikin busana karnaval yang dikolaborasikan dengan batik khas Pasuruan,” katanya.

KHAS: Aldy berpose dengan Ketua Dekranasda Kota Pasuruan Fatma Saifullah Yusuf yang mengenakan batik Harmonie dalam MTQ City Expo, beberapa waktu lalu.
KHAS: Aldy berpose dengan Ketua Dekranasda Kota Pasuruan Fatma Saifullah Yusuf yang mengenakan batik Harmonie dalam MTQ City Expo, beberapa waktu lalu.

Karena itu dia begitu bermimpi bisa membuat batik sendiri. ”Sebab kalau harus beli kain batik yang sudah jadi untuk busana karnaval costnya mahal juga,” katanya.

Pelatihan di Kampung Batik Laweyan, Solo, menjadi titik baliknya. Dalam tiga hari, ia menyerap seluruh proses pembuatan batik dari dasar. Meski saat itu pengetahuannya tentang batik benar-benar nol.

Ia belajar membatik di kain seukuran sapu tangan. Di hari kedua membatik di atas kain setengah meter, baru pada hari terakhir pelatihan bereksperimen dengan kain selebar dua meter. “Tahunya hanya motif khas Kota Pasuruan,” ujar warga Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo itu.

Sebuah motif burung kepodang dan daun sirih menjadi karya pertamanya. Karya ini menarik perhatian seorang pengusaha Solo yang tertarik membelinya. Bahkan berani membelinya seharga Rp 5 juta. “Katanya cantinganku halus daripada teman-teman peserta yang lain,” ungkapnya.

Padahal, pikir Aldy, desain batik buatannya saat itu biasa-biasa saja. Jelas dia menolak batiknya ketika ditawar dengan nilai yang cukup menggiurkan. Ia merasa belum pantas dengan tawaran itu. (tom/rud)

EKSKLUSIF: Jaket batik buatan Aldy yang dikenakan Armand Maulana saat konser di Kota Pasuruan.
EKSKLUSIF: Jaket batik buatan Aldy yang dikenakan Armand Maulana saat konser di Kota Pasuruan.

Memikat Hati Anne Avantie

Keterlibatan Aldy dalam dunia batik tidak usai sepulangnya dari pelatihan. Bahkan, menjadi satu-satunya peserta yang hingga kini tetap eksis membatik. Ia nekat meminjam modal untuk memulai usaha batiknya.

Aldy mulai berani memamerkan batiknya dalam pameran. Pameran pertamanya di Surabaya, kemudian mempertemukannya dengan Anne Avantie. Pertemuan dengan maestro kebaya asal Semarang, itu juga yang membuka matanya akan nilai sebuah proses kreatif dalam seni.

Kain batik buatan Aldy seharga Rp 450 ribu, Anne Avantie bisa menciptakan kebaya dengan banderol hingga Rp 7,5 juta. Aldy yang sempat melihat kebaya batiknya di butik Anne, jelas tercengang. Membuatnya semakin memantapkan hati, bahwa karya buatannya punya kualitas.

Keseriusannya dalam menciptakan desain batik memang terlihat dari eksklusivitas setiap motif yang dibuat. Setiap motif hanya dibuat untuk satu produk alias limited edition. “Kalau bikin beberapa motif yang sama, takutnya dibeli pejabat kan nggak lucu kalau kembar sama orang lain. Kebanyakan memang minta yang ekslusif,” katanya.

CARI PENERUS: Aldy melatih anak-anak belajar membatik.
CARI PENERUS: Aldy melatih anak-anak belajar membatik.

Tak heran jika batik buatannya terbilang mahal. Rata-rata kisaran Rp 2 juta. Namun, dengan begitu batik buatannya perlahan-lahan memilih segmen pasarnya sendiri. Bagi orang yang paham seni, menurut Aldy, hal itu wajar.

“Karena menurut saya, ada proses kreatif yang mesti dihargai. Saya ini setiap malam menjelang tidur selalu mengeksplorasi konsep apa yang kira-kira bisa dikerjakan,” kata pria kelahiran 11 November itu.

Batik buatannya juga memadukan nuansa lokal, seperti daun sirih dengan sentuhan batik nusantara. Kolaborasinya dengan Saiful, pemilik batik Sekar Wangi, melahirkan batik Harmonie dengan lima motif yang menggambarkan nuansa Kota Pasuruan. Mulai dari tugu kota berlilitkan daun sirih, motif keris, dan motif ombak.

Baru-baru ini, ia membuat motif terbang bandung yang merupakan warisan budaya khas Kota Pasuruan. Motif itu lantas dikembangkan menjadi motif Batik Harmonie Part 2. (tom/rud)

INOVASI: Batik ecoprint buatan Aldy yang juga diaplikasikan dalam bentuk tas.
INOVASI: Batik ecoprint buatan Aldy yang juga diaplikasikan dalam bentuk tas.

Membagikan Kreasi, Mewariskan Seni

dedikasi Aldy tak hanya sebatas dalam mencipta kain batik. Tetapi juga aktif dalam mendukung dunia fashion dengan menjadi sponsor dalam beberapa acara fashion show. Menjadi sponsor adalah bagian dari investasi untuk mempromosikan karya dan mengenalkan kekhasan batik dari Kota Pasuruan kepada khalayak yang lebih luas.

Bagi pemilik brand Aldys Batik itu, apresiasi yang ia peroleh sebagai sponsor mungkin hanya sebatas piagam. “Kalau urusan uang pasti mengikuti. Semakin banyak orang mengenal, peluang karya kita diminati orang juga semakin besar,” ujarnya.

Karena itu, tidak masalah jika harus keluar modal untuk menampilkan sebuah karya. Yang terpenting bisa mempromosikan karya. “Terutama dalam mengenalkan batik khas Kota Pasuruan ke banyak orang,” ujar Aldy.

Mencipta kain batik bagi Aldy bukan hanya menjadi hobi yang bisa dinikmati sendiri. Aldy mulai berbagi ilmu kepada anak-anak di Kelurahan Bugul Lor sejak 2019. Seperti saat dirinya mengikuti pelatihan enam tahun lalu, Aldy mengajarkan mereka dari dasar. Mulai dari desain motif hingga teknik nyanting.

Bahkan, ia telah melahirkan beberapa perajin batik lain. Seperti yang sekarang dikenal dengan brand Batik Canti Suropati dan Satu Canting. “Sumbangsih apa lagi yang bisa saya berikan ke orang lain? Saya sendiri nggak mungkin menyimpan ilmu dan keahlian saya sendiri. Toh juga nggak dibawa mati,” ujarnya. (tom/rud)

 

Editor : Ronald Fernando
#batik #hobi #seni