HOBI sepeda kini memang digandrungi banyak orang. Jenisnya ada banyak. Tapi hanya sedikit yang menyukai Audax. Selain karena jarak tempuhnya yang sampai ratusan hingga ribuan kilometer, pehobi sepeda jenis ini harus merogoh kocek yang tak bisa dibilang sedikit.
Di Indonesia, penyuka Audax memang belum sebanyak pehobi sepeda pada umumnya. Rata-rata penyukanya adalah orang yang memiliki “kelebihan” Baik itu dari segi finansial hingga ketahanan tubuh yang kuat.
Dua faktor ini memang menjadi penunjang utama. Sebabnya, Audax acapkali digelar hingga berhari-hari karena rutenya melintasi beberapa daerah. Hanya mereka yang punya waktu dan keinginan kuat yang menyempatkan untuk ikut bersepeda dengan jarak jauh ini.
Salah satu penyuka Audax yang sudah mengikuti beragam event, adalah Ilham Maulana, 42. Pria yang tinggal di Perumahan Millenium Kota Pasuruan ini, Agustus lalu baru saja dari Perancis. Dia mengikuti Paris Brest Paris (PBP). Event Audax 4 tahunan yang menempuh perjalanan 12 ribu kilometer.
Even yang diikuti oleh 7 ribu peserta itu, salah satu event sepeda tertua di dunia sejak 1891. Dari 7 ribu peserta, ada 48 orang dari Indonesia. Ilham menjadi salah satunya. Dia berhasil finish dengan mencatatkan waktu 86 jam.
Sebelum mengikuti PSP, Ilham tak ujuk-ujuk mendaftar. Event yang terafiliasi degan Audax Clup Parisien (ACP) ini, selektif terhadap peserta. Calon peserta wajib menyelesaikan rangkaian event audax sejauh 200 km 300 km 400 km dan 600 km untuk mendapatkan gelar super randonneur dalam kurun waktu tertentu.
“Jika tidak mendapatkan gelar super randonneur peserta tidak bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti event PBP ini,” beber Ilham.
Ilham yang berangkat untuk ikut secara personal (bukan tim), bahkan harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Tentu dimulai dari tiket pesawat Indonesia-Perancis dengan pulang dan pergi. Selain itu akomodasi selama di negaranya Mbappe tersebut, Ilham harus menyiapkan segala sesuatunya. Misalnya untuk makan atau membeli peralatan sepeda. Termasuk oleh-oleh untuk dibawa ke tanah air.
“Saya tiba di Paris empat hari sebelum pelaksanaan PSP. Karena, meski hawa di Paris tak jauh beda dengan Indonesia, saya butuh adaptasi,” terangnya.
Persiapan panjang juga sudah dilakukan Ilham sebelum PBP. Yang utama adalah latihan dan Ilham harus menjaga kondisinya karena dia pernah mengalami cedera backpain sejak Audax 600 Jogja. “Sehingga saya harus menjalani perawatan di physiotherapy sampai dengan strength training, saya lakukan,” katanya.
Bagi Ilham, tidak ada perjuangan tanpa rasa lelah. Ilham mampu menyelesaikan belasan etape sepanjang 12 ribu kilometer. Meski Banyak hal tak terduga dia alami. Termasuk saat ban sepedanya bocor hingga cleat sepatunya pecah.
Ada lagi masalah yang krusial di hadapinya. Yaitu saat tools tertinggal di salah satu dia baru menyadari ketika berada di kilometer 600 lebih. “Saya sempat panik karena tools ini sangat essential karena wheelset saya menggunakan tipe thru axle. Sempat cari toko, akhirnya saya bertemu dengan Mr Le Mat (orang Perancis) yang mengajak saya ke rumahnya untuk diberikan tools, makananan dan diizinkan untuk mandi dan salat di sana,” beber Ilham.
Hingga dia berhasil finish, Ilham begitu lega. Dia beruntung, selama menempuh rute, banyak diberi kemudahan. Semuanya, kata Ilham, tak lepas dari dukungan keluarga dan sahabat yang rela meluangkan waktunya untuk menemani setiap perjalanannya, meski hanya melalui videocall sepanjang waktu.
“Motivasi ini sangat berpengaruh juga untuk event ultra cycling yang mungkin akan membuat kita stress dan jenuh,” beber Ilham.
Event Audax juga pernah diikuti oleh Jamal Andriyanto, pebalap asal Kota Pasuruan lainnya. Kata Jamal, Audax memang membutuhkan tenaga ekstra bagi para pesertanya. Persiapan matang harus dilakukan karena bersepeda jarak jauh ini, peserta dituntut untuk melaju dengan kontinyu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Ini pernah dia raakan saat mengikuti Audax Bali tahun 2022 sepanjang 400 kilometer. “Tantangannya itu saat tenaga sudah mau habis, tetapi perjalanan belum selesai. Apalagi menapaki rute di malam hari. Lelahnya begitu terasa,” beber Jamal.
Sempatkan Salat meski Tak Sempat Mandi
Audax berasal dari Bahasa Italia yang memiki arti “Pemberani”. Sebab, hanya mereka yang memiliki mental berani inilah, bisa mengikuti ini. Berani karena punya nyali untuk menghadapi tantangan dan risiko saat melahap lintasan ratusan hingga ribuan kilometer.
Setiap orang yang mengikuti Audax, jelas harus berpacu dengan waktu. Tantangan lainnya, mereka yang sudah lelah, tak boleh sakit selama perjalanan. “Satu saja etape dilewati, maka peserta tidak boleh melanjutkan ke tahap lainnya,” terang Ilham Maulana yang Agustus lalu mengikuti Paris Brest Paris (PBP).
Dengan jarak tempuh 12 ribu kilometer, tiap peserta hanya diberi waktu 90 jam. Kira-kira tak ebih dari 3 setengah hari. Selama itupula Ilham harus memiiki siasat untuk istirahat dan mengatur settingan sepedanya supaya nyaman digunakan sampai finish.
“Dari total 86 jam waktu yang saya tempuh, saya hanya istirahat sekitar 6 jam. Bukan langsung 6 jam ya. Tetapi saya sempatkan tidur tipis-tipis. Yang penting bisa kembalikan stamina,” beber Ilham.
Ilham pun tak pernah meninggalkan waktu salatnya. Termasuk subuh sekalipun. Di sepedanya, Ilham membawa bawahan mukena yang digunakan untuk sarung.
“Mengapa mukena? Karena praktis dan bisa dilipat sampai kecil. Untuk alas salat, saya memakai tisu,” beber Ilham. Selebihnya jika tidak memungkinkan, dia harus menjamak dan mengqashar salatnya.
Hal yang sama juga banyak dilakukan peserta PBP selain Ilham. Termasuk mandi yang tak pernah dilakukannya selama menempuh rute PBP. “Soalnya ndak kober. Untuk membersihkan diri, hanya raup dan wudhu,” beber Ilham.
Hal yang sama juga dilakukan Jamal Andriyanto. Dia juga tak pernah meninggalkan salat mesi mengikuti Audax. Ini juga butuh effort karena harus dilakukan di sela-sela menempuh perjalanan.
“Seperti Audax Bali. Di sana mencari masjid atau musala, tidak seperti di Jawa. Jadi, salat ya dilakukan Ketika istirahat. Bisa di rumah makan atau rumah warga,” beber Jamal.
Jangan Sepelekan Latihan-Siapkan Mental
Bersepeda jarak jauh di Audax, tidak melulu memakai road bike. Sepeda jenis apapun bisa digunakan yang penting tuntas melahap rute. Bukan hanya sekedar fisik yang diperlukan. Tetapi juga mental harus disiapkan. Karena tantangan yang akan dilewati bukan hanya rute panjang. Semuanya butuh persiapan latihan yang khusus.
“Saat PBP, cuaca di Paris sama dengan di Indonesia saat siang hari. Berkisar 30-3 derajat celcius. Tetapi Ketika dini hari sampai subuh, suhu bisa 9 derajat. Ini yang harus dihadapi,” beber Ilham Maulana.
Hal yang sama juga pernah dihadapi Jamal Andriyanto. Saat mengikuti Audax Bali 400 Kilometer, dia harus bisa menempuh dengan batas waktu tak lebih dari 12 jam. Nah, saat itu, musim hujan.
“Di siang hari, cuaca panas. Namun saat saya melintas di malam hari, hujan deras. Saya yang kelelahan bahkan harus menyempatkan istirahat tidur di emperan jalan, meski hanya 30 menit. Ini untuk mengembalikan kondisi tubuh,” beber Jamal.
Selain fisik, Ilham dan Jamal sepakat bahwa mental juga diperlukan ketika seseorang memutuskan ikut Audax. Alasannya, mental inilah yang mempengaruhi, apakah seseorang bisa melanjutkan perjalanan atau tidak.
Contohnya ketika peserta tahu rute yang ditempuh, begitu panjang. Namun mereka tidak akan pernah tahu, selama menempuh perjalanan apa yang akan mereka hadapi. “Seperti di PBP, saya juga menempuh rute di gurun-gurun yang tidak saya ketahui apakah aman dari gangguan atau tidak. Gangguan itu bermacam, misalnya bila ada satwa liar. Ini juga mempengaruhi mental,” beber Ilham.
Untuk itulah Latihan diperlukan. Ilham contohnya, dia harus giat berlatih setiap minggu. “Mulai dari strength training di gym seminggu dua kali, latihan harian sebelum berangkat ke kantor dan bahkan di momen tertentu saya berlatih sebelum adzan subuh. Termasuk latihan longride,” katanya.
Tak kalah penting juga adalah pola makan. Saat Audax, panitia tidak punya kewajiban menyiapkan makanan. Sehingga peserta sendiri yang harus mencari.
“Di Paris, saya sempat adaptasi lama karena di sana tidak ada nasi. Sehingga saya makan roti yang tentu sempat saya sangsikan, berapa karbohidratnya? Apakah kenyang atau tidak? Maka siasatnya, saya makan sebanyak-banyaknya. Entah buah atau makanan ringan,” beber Ilham.
Lalu hadiah apa yang mereka dapatkan setelah sampai di finish? Bagi pehobi sepeda utamanya Audax, hadiah bukanlah yang dicari. Bahkan di banyak event Audax, tidak ada hadiah yang diberi panitia. Justru mereka harus membayar untuk mengikuti eventnya.
“Hanya dapat medali. Tetapi setelah tiba di garis finish, rasa penasaran itu akhirya terobati. Apalagi jika eventnya tidak tiap tahun, seperti Paris Brest Paris yang digelar empat tahun sekali,” beber Ilham. (tom/fun)
Editor : Ronald Fernando