LENTERA kini menjadi lampu hias yang fungsinya tak hanya menjadi alat penerangan. Namun, juga dipasang untuk mempercantik dan memberikan kesan klasik di suatu objek. Desainnya yang unik, membuatnya terus diminati.
Awalnya lentera dibuat hanya sebagai lampu. Tujuannya, untuk menerangi lintasan yang hendak dilalui delman pada waktu malam.
Namun, kemudian dijadikan aksesoris untuk menambah keindahan tampilan kendaraan.
“Orang-orang dulu banyak memanfaatkan lentera sebagai itu (penerangan jalan),” ujar salah seorang perajin lentera asal Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Noval Adi Irmawan, 39.
Semakin berkembangnya zaman, semakin beragam pula warga mengaplikasikan lentera. Tak hanya di delman, kini lentera ini bisa menghiasi permukiman.
Ada yang juga dipasang di rumah, teras, gazebo, dan gembyok. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai lampu taman hingga dipasang di mobil antik atau klasik sebagai hiasan.
Noval terbilang sudah lama menekuni dunia lentera. Ia mewarisi ilmunya dari sang kakek, Mbah Yasin. Mbah Yasin mulai membuat lentera sejak sekitar 70 tahun lalu atau mulai 1953. Kealihan ini diwariskan secara turun temurun.
Setelah Mbah Yasin, produksi lentera dilanjutkan oleh ayah Noval, Muhammad Imron Yasin, 65. Kini, dikomandani oleh Noval yang merupakan generasi ketiga. Pembuatannya masih sama dengan masa Mbah Yasin. Semuanya dibuat secara manual.
Proses awalnya cukup menyediakan bahan baku kuningan berbentuk lembaran. Kemudian, dipotong sesuai ukuran. Lalu, ditempa atau dibentuk dengan proses manual.
Setelah setiap bagian terbentuk, dilanjutkan proses penyatuan setiap bagian lentera hingga menjadi lentera yang siap digunakan. “Tidak menggunakan mesin. Membentuknya menggunakan tangan,” ujar Imron.
Imron mengatakan, bentuk lentera delman ini awalnya terinspirasi dari lampu-lampu Eropa kuno. Kemudian, dikolaborasikan dengan desain identitas budaya Jawa. Sepertyi bentuk limas bersusun tiga di bagian atas lentera.
“Bahan bakunya berupa kuningan dan besi pelat nomor. Ditambah kaca lampu dan penyambung kabel. Bahan-bahan ini sangat mudah didapatkan,” ujarnya.
Makin Mudah dengan Pasar Online
Pemasaran produk zaman dulu dengan sekarang jauh berbeda. Dulu memasarkan sebuah produk dengan cara menyosialisasikan dan menawarkan secara langsung kepada target. Kini, melalui media sosial jangkauannya lebih cepat dan meluas.
“Zaman bapakku saja, memasarkannya harus menawarkan ke teman-temannya,” ujar Noval Adi Irmawan. Namun, kini jangkauannya lebih luas. Noval memasarkannya melalui beragam cara. Termasuk mealui media sosial dan toko online.
Lentera ini tetap mempertahankan model kuno, hasilnya seperti barang antik. Ditambah bentuk budaya asli Jawa yang dikolaborasikan dengan ala-ala Eropa.
Noval mengatakan, bentuk yang dibuat generasi pertama tetap dipertahankan. Bahkan, tidak ada perubahan bentuk sama sekali. “Sampai kini masih berjalan terus. Masih banyak yang pesan. Bukan hanya pehobi,” katanya.
Dengan pemasaran online, Noval mengaku jauh lebih mudah. Cukup mengunggah gambar lentera ke sejumlah media sosial atau toko online, calon pembeli akan berdatangan. “Alhamdulillah pesanan banyak, mulai dari reseller hingga pehobi,” ungkapnya.
Mampu Tembus Eropa
Puluhan tahun menekuni kerajinan lentera, Noval Adi Irmawan, masih memproduksinya dengan cara manual. Bahkan ketika kebanjiran pesanan, juga masih menggunakan cara lama. Pembeli pun harus sabar menunggu pesanan.
Jika orderan banyak, Noval mengakui cukup membutuhkan waktu untuk memenuhinya. Karena, proses pembuatannya yang full handmade dan membutuhkan pekerja dengan keterampilan khusus.
“Membuatnya manual. Kalau ada pesenan banyak, ya harus disepakati waktu yang ditentukan. Karena untuk membuat satu lentera saja selama tiga hari. Kadang bapak juga ikut membantu,” ujarnya.
Pembuatannya hanya bisa dilakukan oleh pekerja yang sudah terlatih. Tidak sembarangan. Mulai dari ukuran, cara membentuknya, dan lainnya. Agar tampak seperti barang kuno.
Meski harus bersabar, permintaan tak pernah sepi, Bahkan, pasarnya semakin luas. Tak hanya di dalam negeri, produk asal Kota Pasuruan, ini mampu menembus pasar Eropa. “Pemasaran paling jauh Malaysia dan Belanda,” ujarnya. (zen/rud)
Editor : Jawanto Arifin