Orang mengenalnya pushbike dan nama lainnya balanced bike. Penggemar pushbike belakangan banyak bermunculan. Bahkan kompetisinya kerap digelar di mall atau pusat perbelanjaan. Di Probolinggo dan Pasuruan, komunitasnya juga ada. Orangtua yang punya anak balita kerap bergabung karena banyak manfaatnya.
HALAMAN bioskop Bioskop CGV di Jalan Basuki Rahmad, Kelurahan Mangunharjo, nampak ramai Minggu pagi. Di halaman yang cukup luas itu, sejumlah balita nampak beradu kebut mengendarai pushbike. Ada yang bersemangat, tertawa riang hingga ada yang menangis.
Ketika ada yang menangis, orangtua langsung sigap. Kembali menyemangati agar anaknya tetap menjajal trek yang sudah disediakan komunitas Bayuangga Warrior Pushbike Kota Probolinggo. Sang anak pun kembali ceria dan menaiki sepedanya dengan bersemangat.
Itulah suasana yang terlihat saat bocah-bocah berlatih pushbike. Riang gembira dan orangtua ikut senang. Apalagi makin banyak orangtua yang ingin mengikutkan anaknya di komunitas ini.
Pendiri Bayuangga Warrior Pushbike Kota Probolinggo Bunga Ayuningtias, 35 mengatakan, sebenarnya pushbike sudah lama ada. Namun dia ingin memperkenalkan pushbike kepada masyarakat Kota Probolinggo.
“Kami mencoba memperkenalkan pushbike. Dengan harapan bisa memfasilitasi anak untuk berolahraga dan agar tidak terpaku pada gadget,” katanya.
Meski belum lama, Bunga mengatakan, peminat pushbike cukup banyak. Bahkan orangtua dan anaknya yang ingin ikut, makin bertambah. Apalagi latihannya digelar tiap hari Minggu pagi. Waktu yang pas bagi keluarga untuk berkumpul.
Meski banyak anggotanya, Bunga mengatakan, masih ada beberapa kendala yang perlu dihadapi. Di antaranya belum tersedianya pelatih profesional serta lokasi latihan yang mumpuni.
“Namun nantinya tetap akan kami upayakan semua. Mulai dari pelatih, lokasi latihan yang permanen, hingga kelengkapan fasilitasnya. Fokus kami pada taraf pengembangan terlebih dahulu. Namun ke depan kami juga ingin bisa terlahir atlet untuk pushbike di Kota Probolinggo,” kata perempuan asal Kelurahan Jati ini.
Tak jauh berbeda. Di Kota Pasuruan komunitas pushbike juga ada. Namanya Suropati Pushbike yang biasa berlatih di Taman Kota di Jalan Pahlawan tiap hari Rabu, Kamis dan Minggu.
Saat Suropati Race V yang digelar di Jalan Pahlawan Minggu (22/10) lalu, komunitas ini meramaikan event nasional ini. Tak sedikit yang gemas saat melihat anak-anak yang usianya rata-rata dibawah lima tahun tersebut, beradu kebut di lintasan.
Tak sedikit penonton yang menyaksikan mereka. Bahkan bertanya-tanya dimana bisa bergabung dengan komunitas ini.
“Saya sudah lama mencari komunitas ini di Kota Pasuruan. Saya pikir tidak ada. Ternyata anggotanya sudah banyak,” terang Zulaikha, 31, warga Bugul Kidul.
Saat itu Zulaikha memang tengah menonton Suropati Race V. Dia datang bersama suaminya setelah mengunjungi Alun-alun. Dan begitu melihat Suropati Pushbike beraksi di ajang eksebisi, dia langsung bertanya ke panitia tentang komunitas ini. “Saya harus gabung,” beber Zulaikha.
Manfaat Pushbike/Balanced Bike
- Tak Sulit untuk Pemula
Karena tidak ada pedal, sepeda ini mudah digunakan anak-anak. Tak perlu belajar mengayuh sepeda. Cukup dengan menjalankan sepeda menggunakan kedua kakinya secara bergantian.
- Melatih Keseimbangan
Melatih anak belajar keseimbangan sebelum belajar mengayuh. Penggunanya bisa mengendalikannya sendiri. Ketika naik, anak akan menjaga tubuhnya tetap seimbang menggunakan kedua kakinya.
- Memudahkan Anak Belajar Mengayuh Sepeda Roda Dua
Tidak sedikit anak-anak yang kesulitan belajar sepeda roda dua. Agar anak-anak tidak merasakan hal yang sama, memberikannya push bike dulu untuk berlatih. Dari banyak pengalaman yang sudah menerapkannya, anak-anak akan lebih mudah mengendarai sepeda roda dua karena sudah belajar keseimbangan sejak dini.
- Mudah Dibawa
Kelebihan sepeda tanpa pedal adalah ringan sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Jika ingin mengajak anak bermain, tak perlu repot membawa jenis sepeda ini. Mau dibawa pakai motor sangat bisa, dan di dalam mobil tidak makan tempat.
- Menguatkan Otot
Tak hanya melatih keseimbangan, pushbike juga bisa membantu menguatkan otot-otot paha dan kaki anak. Saat mengendarai pushbike, seluruh otot akan bergerak saat mendorong sepeda, sementara otot di tangan bekerja menggenggam stang sepeda. (mg/fun)
Belajar Kurangi Rasa Takut
MENGIKUTKAN anak-anak ke komunitas pushbike bukan hanya sekedar untuk gaya-gayaan semata. Sepeda yang mengandalkan kedua kaki ini, banyak manfaatnya.
Anak dapat menggerakkan pushbike dengan cara berjalan, berlari, atau meluncur di jalan yang menurun. Pushbike bermanfaat dalam melatih keseimbangan anak sebelum mereka mampu mengendarai sepeda konvensional.
Selama menaiki sepeda ini, anak masih bisa menginjak tanah sembari menyeimbangkan tubuhnya. Dengan menggunakan pushbike, anak-anak dapat mengasah keterampilan keseimbangan mereka dengan cara yang menyenangkan.
Hal tersebut mengingat keseimbangan adalah keterampilan dasar yang sangat penting dalam bersepeda. Setelah dirasa sudah lebih stabil, baru kemudian anak bisa bertransisi menggunakan sepeda pada umumnya yang memiliki pedal.
Ayu Kusumawardhani, 35, salah satu orangtua yang mengikutkan anaknya ke komunitas Bayuangga Warrior Pushbike mengatakan, pushbike cocok untuk anak usia dua hingga enam tahun. Ini untuk melatih motorik anak.
“Di usia tersebut, anak tergolong aktif dan suka bergerak. Melatih motorik seperti koordinasi mata, tangan anak saat memegang setir, dan respon dari anak tersebut. Bermain pushbike bisa mengakomodasi itu semua,” katanya.
Pushbike juga didesain khusus yang dikembangkan untuk membantu anak-anak melatih kekuatan tangan dan kaki mereka. Kekuatan tangan digunakan untuk mengendalikan setir atau kemudi pada sepeda.
Saat mereka melangkah maju, anak-anak merasakan bagaimana pergerakan lengan mereka memengaruhi arah sepeda. Ini merupakan elemen penting dalam menjaga keseimbangan dan mengarahkan sepeda.
Di sisi lain, kaki digunakan untuk mendukung berdiri dan mendorong sepeda ke depan. Mereka belajar duduk di atas sepeda dan belajar menjaga keseimbangan dengan menjangkau tanah dengan kaki mereka.
Sebagai hasilnya, pushbike menjadi alat yang luar biasa dalam melatih anak-anak dalam berbagai aspek penting, seperti belajar berbelok, menghindari rintangan, menjaga keseimbangan tubuh, dan bergerak secara efektif. Ini memungkinkan perkembangan otot dan motorik kasar mereka untuk berjalan dengan lebih cepat dan efektif.
Selama proses belajar mengendarai pushbike, anak-anak juga mengembangkan logika otak mereka. Mereka belajar bagaimana mengatur gerakan tubuh secara seimbang dan mengarahkan sepeda sesuai dengan keinginan mereka. Ini membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk mengkoordinasikan banyak tugas secara bersamaan.
Selain mengasah keterampilan motorik, penggunaan pushbike juga membantu mengatasi rasa takut pada anak. Pada umumnya, ketika anak-anak belajar bersepeda, mereka seringkali merasa takut. Jatuh dari sepeda adalah situasi yang mungkin terjadi dan bisa mengurangi keberanian anak-anak. Namun, saat mereka menggunakan balancing bike, kaki mereka masih bisa menapaki tanah, sehingga risiko jatuh menjadi lebih rendah. Hal ini cenderung memicu perasaan positif, meningkatkan kepercayaan diri mereka terhadap keterampilan baru yang mereka pelajari.
Hal senada diungkapkan Nofie dan Darto, salah satu orangtua yang mengikutkan anaknya ke Suropati Pushbike. Dia bergabung ke komunitas Suropati Pushbike, untuk melatih Defan, putra mereka. Defan yang usianya belum genap tiga tahun tersebut, banyak belajar mengatasi rasa takut.
“Biar ketika belajar roda dua nanti, Defan bisa melewati transisinya dengan mudah,” imbuh Nofie. (mg/fun)
Makin Nyaman dengan Pengaman
PUSHBIKE merupakan jenis sepeda roda dua tanpa pedal (kayuhan). Selain tanpa pedal, sepeda ini tak memiliki rantai. Bagi sebagian orang, mungkin jenis sepeda ini masih tampak asing.
Pushbike merupakan turunan dari sepeda roda dua. Ditemukan pertama kali pada 1817 oleh Baron Karl Von Drais dari Jerman. Penemuan ini dinamakan steerable laufmaschine. Mesin ini memiliki banyak nama antara lain mesin lari, dandy horse, hobby horse, velocipede, draisine, dan swift walker. Saat itu rangkanya terdiri dari kayu sederhana dengan dua roda tanpa pedal. Ia merupakan tampilan pertama dari prinsip kendaraan roda dua. Prinsip ini kemudian diadopsi menjadi cikal bakal pushbike.
Walaupun tanpa pedal, memang masih banyak orangtua yang ketakutan. Terutama bila anaknya terjatuh. Tapi jangan khawatir, kelengkaan untuk ber-pushbike ria kini sudah banyak. Bahkan seabrek di toko online.
Seperti yang dikatakan Ayu Kusumawardhani. Dia juga pernah khawatir saat anaknya mencoba pushbike pertama kali. “Iya awalnya masih takut. Namanya anak masih pertama kali belajar. Wajar kalau takut. Tapi tetap saya dampingi. Saya pegangi. Lama-lama tidak takut lagi. Dan bisa bermain mengendalikan sendiri, tanpa harus saya pegangi lagi. Semuanya memang butuh proses,” katanya.
Namun dia lebih merasa nyaman karena saat ini banyak pengaman yang dijual. Seperti helm, pengaman siku tangan dan kaki dan tentu saja sepatu. Jika semuanya dikenakan, orangtua tak perlu khawatir.
Tak hanya Ayu Kusumawardhani. Wahyuni, 33, menilai bahwa pushbike sangat bermanfaat. “Di rumah anak saya suka main pushbike bersama teman-temannya. Biar dia belajar berani, percaya diri, dan bisa bersosial dengan anak-anak seusianya,” kata Ibu asal Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini.
Orangtua juga pasti mempertimbangkan beberapa aspek yang perlu diperhatikan saat ingin berlatih dengan pushbike. Pertama-tama, pastikan untuk memprioritaskan keselamatan dengan menggunakan peralatan pelindung. Selain itu, pastikan ketinggian sepeda sesuai dengan tinggi badan si kecil.
Saat duduk di atas sepeda, anak harus dapat menjangkau tanah dengan kedua kakinya dengan nyaman sehingga dapat mendorong sepeda dengan lancar. Selanjutnya, ukuran ban sepeda juga merupakan hal yang perlu diperhatikan dengan cermat. Ukuran ban harus disesuaikan dengan postur tubuh dan usia pengendara, agar pengalaman bersepeda menjadi lebih aman dan nyaman. (mg/fun)
Editor : Ronald Fernando