Hutan dengan alam bebasnya menjadi salah satu jujukan para pehobi camping dengan membawa mobil alias campervan. Termasuk warga Pasuruan. Kebanyakan mereka menuju hutan yang menjadi wilayah Perhutani. Tentu yang bisa dijangkau dengan mobil. Serta, aman untuk mendirikan tenda sekaligus bermalam.
“Campervan ini hobi baru. Saat ini lagi tren. Termasuk saya dan keluarga,” ujar warga Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Yudhi Eka.
Yudhi terbiasa melakukan ini sejak dua tahun terakhir. Ia menyalurkan hobinya dengan selalu mengajak keluarga. Istri dan dua anaknya yang masih kecil.
Lokasi pilihannya sejumlah hutan di wilayah Perhutani dan dilengkapi dengan camping ground. Serta, wilayah yang dipastikan aman untuk tempat bermalam di alam bebas.
Seperti di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Kemudian, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Yudhi mengaku, juga sering ke Alas Pinggan, di Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
“Rasanya asyik dan menyenangkan. Sekaligus refreshing untuk mengusir penat. Sekali mencoba, akhirnya menjadi keterusan,” ujarnya.
Camping ketika musim hujan atau kemarau, kata Yudhi, tidak masalah. Karena lokasi yang dipilih sudah dipastikan aman. Menurutnya, ketika kemarau seperti sekarang, ketika malam, cuaca terasa lebih dingin.
“Mobil diparkir. Di sebelahnya atau agak kejauhan kemudian kami dirikan tenda. Kegiatannya memasak dan bermain bareng keluarga. Terutama anak-anak,” katanya.
Nilai positif lainnya ketika menjalani hobi ini, kata Yudhi, bisa mengenalkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. Mereka juga bisa berinteraksi langsung dengan alam. “Ketika di hutan, salah satunya anak-anak kami ajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Juga banyak hal positif lainnya,” jelasnya.
Meski asyik dan menarik, Yudhi mengaku tidak menyalurkan hobinya secara rutin setiap bulan. Karena masih harus menyesuaikan dengan liburan keluarganya. Termasuk anak-anaknya yang masih bersekolah. Bisa dua atau tiga bulan sekali.
“Paling lama waktunya sehari. Berangkat siang dan pulang ke rumah sore keesokan harinya,” ujar bapak dua anak ini.
Selama menjalankan hobinya bermalam di hutan, Yudhi mengaku tidak pernah mendapatkan pengalaman aneh. Termasuk hal-hal mistis. “Selama ini aman saja. Yang penting bisa jaga diri dan ucapan. Serta, hati-hati. Pastinya aman dan tidak diganggu. Termasuk dari kejadian mistis,” jelasnya. (zal/rud)
Anggaran Terjangkau
Camping dengan membawa mobil, juga harus memperhatikan bekal yang perlu dibawa. Tidak cukup dengan bawa mobil dan tenda saja. Tapi, juga membawa sejumlah barang atau peralatan lainnya.
Di antaranya, yang perlu dibawa kompor untuk memasak. Kemudian, matras dan kasur tiup untuk alas tidur. Jangan lupa membawa selimut dan jaket. Tak kalah pentingnya, makanan dan minuman.
“Membawah obat-obatan juga penting dan harus diperhatikan. Sebagai antisipasi jika kemudian sakit,” ujar Yuli, istri dari Yudhi Eka.
Perbekalan lengkap itu hendaknya disiapkan jauh-jauh hari. Bisa satu atau dua hari sebelum berangkat. “Kami peralatan punya sendiri. Tidak perlu sewa. Untuk snack dan aneka makanan yang dibawa, belinya bisa ke pasar atau ke toko. Tentunya sesuai kebutuhan,” katanya.
Anggaran yang dikeluarkan sekali berkemah, kata Yuli, tidak terlalu besar. Cukup menyiapkan anggaran untuk membeli makanan yang akan dibawa dan bahan bakar minyak (BBM) untuk mobil. Juga perlu menyiapkan untuk tiket masuk.
“Rp 500 ribu sudah cukup. Kalau bengkak bisa sampai Rp 1 juta. Tergantung lokasi tujuan, jarak, dan banyak atau sedikitnya bekal,” jelasnya. (zal/rud)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
HARUS DIPERHATIKAN
- Pastikan lokasi aman. Bisa dijangkau dengan mobil, serta aman untuk mendirikan tenda sekaligus bermalam.
- Jangan lupa membawa sejumlah barang atau peralatan yang diperlukan. Seperti, kompor untuk memasak. Kemudian, matras dan kasur tiup untuk alas tidur. Jangan lupa membawa selimut dan jaket. Tak kalah pentingnya, makanan dan minuman.
- Membawa obat-obatan juga penting dan harus diperhatikan. Sebagai antisipasi jika kemudian sakit.
- Perbekalan lengkap hendaknya disiapkan jauh-jauh hari. Bisa satu atau dua hari sebelum berangkat. Mengantisipasi adanya perlengkapan yang tertinggal.