------------------------------------------------------------------------------------------------------
DI Kota Probolinggo, tak jarang didapati anak muda, baik pelajar hingga mahasiswa yang mengendarai sepeda motor yang keluaran tahun 1970 sampai 1980. Motor bebek ini merupakan motor ikonik yang menyasar berbagai segmen pasar. Karena keunikan, antik, dan klasik, menjadikan motor tua ini banyak dikoleksi hingga nilainya semakin terkerek.
Salah satu pemilik dan penikmat motor kuno ini ada adalah Dewi Ayu Wulandari. Ia memilih motor Honda C70 sebagai tunggangan hariannya. Perempuan berusia 18 tahun ini mengaku sudah sekitar 2 tahun lebih memiliki dan menggunakan motor cetol.
“Mulai sekolah di SMKN 2 Kota Probolinggo, saya pakai motor cetol (Honda C70) ini,” ujar Wulan -sapaan akrabnya.
Kini, warga Jalan K.H. Hasan Genggong, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, tetap mengendarai motor Honda C70 ketika berangkat bekerja. Kebetulan, ia bekerja di sebuah tempat percetakan di Jalan Cokroaminoto, Kota Probolinggo.
Ia mengaku merasa nyaman dan tetap percaya diri mengendarai cetol. “Dulu di sekolah, banyak teman cowok yang memakai motor Honda C70. Kalau teman sekolah cewek memang tidak banyak. Tapi, saya pede-pede saja. Malah jadi ikon dan ciri khas untuk saya. Saya malah dikenalnya karena naik motor cetol ini. Kebetulan motor cetol saya warna biru,” katanya.
Perempuan berhijab ini mengaku tertarik dengan motor cetol, karena bentuknya yang unik dan klasik. Selain itu, body-nya kecil. Ia pun menyampaikan kepada orang tuanya untuk memilih motor cetol sebagai kendaraan sehari-hari. “Saya gak pernah malu pakai motor ini. Meski motor tua, bukan motor model yang keluaran baru banyak sekarang,” katanya.
Semakin Orisinal, Makin Bernilai
KEUNIKAN dan nilai klasik yang melekat di sepeda motor Honda C70, tidak dapat dipungkiri. Semakin unik dan klasik, akan semakin tinggi nilai harganya.
Tetapi, tidak jarang motor Honda C70 yang sudah diganti mesinnya. Hanya bagian bodi yang orisinal. Karena, untuk mencari motor cetol orisinal dengan mesin yang bagus, cukup sulit.
Mochammad Rosi, 31, salah seorang pemilik motor cetol mengaku sudah lama ingin memiliki motor Honda C70. Namun, baru tercapai tahun kemarin. Ia memilih cetol yang menggunakan mesin bukan aslinya. Motornya dimodif supaya tampilannya lebih keren. Seperti knalpot, diganti knalpot besar motor Tiger, sehingga telihat lebih gagah.
“Kalau saya milih motor cetol dipadu dengan perangkat terbaru. Mesin dan knalpot saya ganti baru, bukan aslinya. Jadi rasa klasik ada, tampilan tetap gagah,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo itu.
Rosi mengaku, motor cetol banyak diminati dan digemari semua kalangan usia. Tidak hanya usia orang tua yang berburu motor cetol tersebut. tetapi sekarang banyak, kalangan remaja, pelajar dan mahasiswa yang mengendarai motor Honda cetol.
Tetapi, untuk motor Honda C70 yang asli semua, baik bodi hingga mesin, kata Rosi, memang mahal. Banyak diburu kolektor. Seperti milik kakaknya. Asli C70 tahun 1976. Mulai bodi hingga mesin semuanya masih asli Honda C70. Harganya mahal, lebih Rp 10 juta.
“Kalau motor cetol yang benar-benar asli semua, memang mahal dan diburu kolektor. Biasanya banyak orang Bali yang berburu motor Honda C70. Tapi, mereka cari motor yang benar asli. Orisinal mulai bodi sampai mesinnya. Semakin ori dan klasik, semakin mahal nilainya,” jelasnya. (mas/rud) Editor : Ronald Fernando