Berekai begitu sebagian warga Probolinggo, menyebut biawak air. Reptil liar ini juga tak jarang ditakuti warga. Terutama petambak ikan. Selain suka memakan bangkai, hewan ini juga gemar memangsa ikan.
Tak heran bila petambak kerap memburunya. Baik menggunakan jaring ataupun perangkap lain. Tujuannya, agar ikan di tambak tak dimakan berekai.
Namun, tak semua orang memusuhinya. Salah satunya Ribut Faidi, 35. Ia menyelamatkan seekor biawak yang nyaris mati di tangan petambak. Biawak yang hendak memaksa ikan itu terjebak perangkat petambak.
“Saya dari kecil memang suka reptil. Makanya di rumah ada hewan seperti ular dan lainnya. Pertama kali saya memelihara biawak, lantaran ada warga yang berhasil menangkapnya. Hendak dibunuh. Karena kasihan, saya ambil,” ujar Ribut.
Kini, biawak itu masih sehat. Terhitung sudah empat tahun Ribut memeliharanya. Bahkan, sudah jinak dan sering menemaninya jalan santai. “Empat tahun lalu ukurannya masih kecil. Paling 60 sentimeter,” ujar warga Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini.
Berawal dari itu, Ribut mulai mempelajari kehidupan biawak. Khususnya biawak air tawar. “Hewan ini merupakan hewan pengurai nomor satu. Kotoran seperti bangkai, baik bangkai ikan, tikus atau bangkai lainnya, dimakan dan diuraikan. Selain itu, banyak yang takut terhadap biawak ini,” katanya.
Perawatan biawak, kata Ribut, tidak sulit. Tidak Begitu juga makanannya. Suka memakan daging apapun. Ia mengaku sering memberi biawaknya kepala ayam, ikan, bahkan tikus. “Untuk porsi makannya, saya beri setiap tiga hari sekali. Satu kali makan bisa 3-5 ekor ikan ukuan kecil, sekitar 5-10 sentimeter,” ujarnya.
Tidak butuh perawatan khusus. Meski ditingalkan di kandangnya untuk ke luar kota, tidak masalah. Menurutnya, biawak mudah beradaptasi. Karena itu, Ribut makin jatuh hati.
Hal senada diungkapkan Bambang Kurniawan, 40, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Ia sudah dua tahun memelihara biawak air.
“Dulu saya beli saat masih baby. Sekitar Rp 25 ribu. Sekarang usianya sudah 2 tahun. Sudah jinak. Namun, binatang reptil ini tidak bertuan. Jadi, tidak bisa diperintah atau diajari seperti kucing, misalnya,” ujarnya.
Wawan mengaku jatuh hati terhadap biawak lantaran jarang ada yang memelihara. Selain itu, modelnya menarik, seperti naga. “Karena suka, jika saya nongkrong sama teman, sering saya bawa,” ujarnya.
Banyak Yang Nyinyir dan Minta Disate
Biawak atau varanus terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya, ada varanus komodoensis atau biawak komodo, varanus salvator atau biawak air dan varanus panoptes yang sering ditemukan di Australia dengan bentuk seperti biawak air, namun lebih kecil dengan warna lebih cerah.
Di Indonesia, yang paling banyak ditemukan biawak Air. Sebagian orang Probolinggo, menyebutnya berekai. Ribut Faidi mengatakan, ketika memelihara biawak, banyak warga yang nyinyir. Karena, selain dianggap hama, reptil ini juga dinilai membahayakan.
Namun, sikap sebagian orang itu tak membuatnya gundah. Malah, semakin “sayang” terhadap biawaknya. “Ketika orang tahu saya memelihara biawak, banyak yang nyinyir. Buat apa memelihara biawak. Katanya berbahaya. Banyak juga yang meminta agar disate saja. Bahkan, ada yang mau membelinya dan pada akhirnya tetap akan disate,” katanya.
Tidak murah. Kata Ribut, biawaknya yang awalnya hanya meminta kepada petambak, kini telah ditawar Rp 800 ribu. Namun, ia enggan merelakannya. Ia juga terus mengampanyekan, jika biawak tidak membahayakan.
“Berapa pun tidak saya lepas. Hewan ini saya gunakan juga untuk sosialisasi, jika hewan ini tidak berbahaya dan tidak menakutkan seperti yang dibayang orang-orang. Setiap acara komunitas seminggu sekali di alun-alun, saya bawa,” ujar pria yang juga tergabung dalam Komunitas Animal Lovers Probolinggo ini.
Bambang Kurniawan, juga sependapat dengan Ribut. Ia mengaku terus menyosialisasikan, bahwa biawak tidak membayakan seperti yang dipikirkan sebagain orang.
“Karena suka, jika saya nongkrong sama teman, sering saya bawa. Tujuannya, untuk memberikan edukasi dan sosialisasi jika hewan ini tidak seburuk yang dibayangkan,” ujar bapak tiga anak ini. (rpd/rud) Editor : Jawanto Arifin