Untung dan rugi bagaikan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan dalam dunia bisnis. Kadang menghasilkan keuntungan besar, kadang juga rugi. Begitu juga dalam menangkar atau beternak burung murai batu. Namun, bila diselimuti dengan hobi, semuanya akan terasa menyenangkan.
Seperti diungkapkan lelaki pecinta burung, Margono. Menurutnya, pehobi tidak pernah berhenti untuk memuaskan kesenangannya. Meski harus berkorban harta, demi kesenangan pasti akan dilakukan. “Saya sudah puluhan tahun beternak burung,” ujar salah seorang panitera di Pengadilan Agama Kota Pasuruan ini.
Margono mulai kepincut beternak burung sejak 2008. Diawali dengan burung jenis anis kembang. Awalnya, hanya 5 kandang dan terus dibangun kandang baru sampai berjumlah 13 kandang.
Sejak 2010-2015, menambah ternak burung lainnya, lovebird. Waktu itu pasaran burung ini sangat tinggi. Hasilnya, kata Margono, lumayan. Bisa untuk membiayai kuliah dan beribadah haji.
Sejak 2015, Margono kepincut dengan lomba burung berkicau. Hampir setiap event burung berkicau di Malang, diikuti. Bahkan, sampai menjadi EO dan memiliki sejumlah tempat gantangan burung di Malang.
“Saya mulai berhenti jadi EO akhir 2020. Setelah pulang haji berhenti total. Cukup sebagai pemain lomba untuk ternak burung,” katanya.
Sepulang dari tanah suci, ternyata Margono kepincut dengan murai batu. Ia pun mendapatkan indukan dari salah seorang gurunya di Malang. Namun, usahanya menangkar murai batu menemui kendala. Telur yang dieramkan tidak ada yang menetas. “Mungkin belum nasib untuk berkembang biak,” katanya.
Kegagalan ini tak membuat Margono menyerah. Ia tetap bersikeras menimba ilmu dan beternak murai batu. Jalannya makin lapang. Burungnya berkembang. Setelah tiga tahun, Margono juga berani menurunkan burungnya ke gantangan. Termasuk ke luar Jawa. Seperti di Bali.
Hasilnya, sejumlah burung mulai memenangkan lomba. “Ke Pulau Bali, berangkat bersama keluarga ikut Piala Bali Vaganza. Hasilnya, juara 1 di tiket Rp 3,5 juta dan juara 5 di tiket Rp 1 sampai Rp 5 juta,” jelasnya.
Margono semakin semangat untuk menangkar murai batu. Makin sadar prospeknya bagus. Ia makin aktif memburu indukan. Salah satunya didapat dari Mojokerto. Indukan ini diternak di Malang Selatan. Dijodohkan dengan pejantan-pejantan berprestasi.
“Beternak burung tidak semudah membalikkan tangan. Terkadang terbesit ingin menyerah, karena diterpa kerugian besar,” ujarnya.
Meski masih sering menemui kendala. Seperti, anakannya mati dihajar burung dewasa. Kadang indukannya bertelur, kemudian dibuang, tetapi akhirnya berhasil. “Jika telaten, akhirnya bisa panen dan bisa menjualnya ke luar kota,” katanya.
Ada kepuasan tersendiri dalam beternak murai batu. Karena awalnya murai batu termasuk salah satu burung yang susah ditangkar. Namun, dengan terus belajar, hasilnya menggiurkan. Harganya mahal.
Anakan trah lomba, kata peternak asal Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Abdul Salam, harga pasarannya tetap di atas Rp 1 juta. Harga anakan murai batu jantan dan anakan betina sekitar Rp 500 ribu.
“Bisa mahal jika kualitasnya sangat mapan. “Lumayan dengan hobi bisa beternak, meski harus membagi waktu dengan kerja,” ujarnya.
Kini, Salam memiliki empat kandang. Tiga kandang untuk produksi dan satu kandang untuk perkawinan. Ia fokus beternak murai batu dari indukan berkualitas dan berprestasi.
Meski telah berhasil, Salam mengaku masih terus belajar. Sering berbagi pengalaman dengan peternak lain. Hasil diskusi dan pengetahuan baru yang didapatkan dicatat dan dipraktikkan. “Jika minim ilmu, bisa rugi. Selalu saya catat di buku dan dipraktikkan. Kadang menonton YouTube untuk tambahan pengetahuan,” katanya.
Katanya, banyak tantangan yang harus dihadapi. Seperti telur tidak menetas. Ada juga anakan yang dibantai indukan lain. Bahkan, diserang tikus.
“Pernah tiga kandang mati semua karena dimakan tikus. Yang dimakan hanya kepalanya. Juga mati terserang penyakit syaraf totelo, snot mata berair. Tragisnya lagi, indukannya makan kupu-kupu beracun. Langsung mati,” katanya.
Bisa Tembus Ratusan Juta
Jenis burung murai batu cukup banyak. Namun, sering memenangkan kompetisi lantaran kicauan indahnya, akan menjadi pendongkrak harga jualnya.
Abdul Salam mengatakan, murai batu yang paling dicari adalah yang fihgter di arena. Jika bertemu lawan berkicau dengan nada tembakan, irama lagu burung masteran, dan lagu kecil-kecilan. Seperti memuntahkan bunyi kenari. “Ini langsung diburu sama pehobi,” ujarnya.
Apalagi, jika bisa menirukan kicauan burung lain. Seperti cililin gereja tarung, cucak jenggot, plelatukkonin, sogo ontong kapas, tembak rambatan, prinjak gunung, maupun burung masteran lain.
Soal harga, berbeda-beda. Kata Margono, harga murai batu sangat ditentukan oleh prestasi dalam lomba. Harga anakannya, juga ditentukan oleh kualitas indukannya. “Bagi pehobi harga sekitar Rp 3,5 juta, sudah harga kecil. Ini burung yang sudah jadi,” katanya.
Margono mengaku memiliki burung murai batu yang harganya melambung. Mulai Rp 25 juta sampai Rp 125 juta. Harga ini ditunjang oleh sejumlah prestasi lomba. Burung ini banyak diinginkan pehobi. Namun, tak juga dilepas. “Banyak yang mau membeli burung ini. Yang diperlukan keturunannya,” katanya.
Tingkatkan Kualitas Melalui Kontes
Pehobi burung berkicau akan berlomba-lomba menerjunkan burungnya dalam perlombaan bergengsi. Tujuannya, untuk meningkatkan kualitas dan daya jualnya. Semakin menang lomba, harganya akan semakin mahal.
“Dengan barang yang semakin berkualitas, harganya juga berkelas,” ujar Margono.
Untuk menjadi burung berkelas, tidak mudah. Harus melalui beberapa kontes bergengsi. Burung harus terus berkicau hingga mampu menarik perhatian para juri.
Kata Margono, burung yang bagus adalah yang mampu berkicai dalam durasi lama tanpa henti. Iramanya juga layaknya tembakan burung master. Selain itu, gaya tarungnya nge-play. Bermain antara gerak dan suara sesuai. Volumenya dahsyat.
“Percuma durasi dan iramanya bagus, namun volume berkurang. Juga gaya oke, tapi volumenya tipis, sulit juri untuk meliriknya,” jelasnya. (zen/rud) Editor : Jawanto Arifin