DI balik bisingnya deru mesin kendaraan di jalan nasional ruas Malang - Surabaya, tepatnya di Dusun Wunut, Desa Sumberejo, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, terdapat sebuah sumber alami yang menyimpan cerita mendalam.
Tempat itu adalah Sumber Ringgit, sebuah sumber air alami yang airnya dikenal sangat jernih dan tak pernah surut. Bahkan di tengah hantaman musim kemarau.
Berjarak hanya sekitar 10 hingga 15 meter dari aspal jalan nasional, Sumber Ringgit menjadi salah satu tempat persinggahan alternatif yang sangat strategis.
Akses menuju lokasi sangat mudah dijangkau. Baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pengelola telah menyediakan lahan kosong berlantai paving yang luas, untuk area parkir kendaraan.
Meski berstatus sebagai situs alami, fasilitas penunjang di sekitar sumber sudah sangat memadai dan terawat secara swadaya.
Di lokasi ini, telah berdiri sebuah mushola yang bersih, tempat wudu, serta dua unit kamar mandi umum yang dipisah khusus, untuk pria dan wanita.
Ketua RT setempat, Yoyok Suhermanto, menuturkan mata air ini merupakan warisan leluhur, yang usianya diperkirakan telah melampaui satu abad.
Air murni ini keluar langsung dari sela-sela permukaan tanah dan bongkahan batu alam.
"Sumber Ringgit ini sudah ada sejak zaman dulu. Usianya lebih dari seratus tahun. Agar airnya tidak kotor terkena debu atau polusi dari jalan raya, area pusat mata air kami pagari dengan tembok beton dan dipasang atap pelindung dari asbes dan seng. Air bersihnya kemudian dialirkan keluar melalui tiga pancuran pipa besi besar," jelas Yoyok.
Penamaan Sumber Ringgit tidaklah muncul secara kebetulan. Melainkan berakar dari cerita rakyat, yang diwariskan turun-temurun.
Yoyok menceritakan, pada zaman dahulu, para tetua dusun sering membasuh wajah langsung di pusat mata air.
Saat mengintip ke dalam sela-sela bebatuan di dasar sumber, mereka melihat formasi batuan alami yang berkilauan.
Serta memiliki bentuk bulat menyerupai uang logam kuno atau ringgit. Sejak peristiwa itulah, kawasan ini dinamakan Sumber Ringgit.
Hingga kini, air dari Sumber Ringgit dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mulai dari kebutuhan domestik rumah tangga, air minum, tempat wudhu, mandi, hingga mengaliri jaringan irigasi area persawahan, yang membentang di sekitar dusun.
Keberadaan sumber ini, juga sangat diandalkan oleh para sopir pikap asal Malang dan Batu, yang kerap mampir.
Baik untuk mandi ataupun minum, selepas mengantar sayur ke Surabaya. Termasuk juga sopir truk kontainer, yang sedang mengantre muatan pabrik.
Di sisi lain, masyarakat sekitar dan pendatang dari luar daerah, memercayai bahwa air dari pancuran Sumber Ringgit, memiliki khasiat non medis untuk pengobatan.
"Banyak warga dari dalam maupun luar daerah, yang sengaja datang ke sini dengan niat berobat. Mereka memercayai, air pancuran ini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit fisik. Seperti gatal-gatal di kulit, linu-linu pada persendian, dan penyakit lainnya. Tentunya, khasiat ini kembali lagi pada keyakinan masing-masing orang," terang Kepala Dusun Wunut, Saiful Anwar.
Penjaga Ular Gaib dan Tradisi Barik'an
Meskipun kawasannya bersih, terang benderang oleh lampu penerangan saat malam hari, dan berada dekat dengan keramaian jalan raya, Sumber Ringgit tetap dikenal memiliki aura wingit (keramat) yang kental.
Kasun Wunut, Saiful Anwar, mengungkapkan area pemandian ini diyakini dijaga oleh makhluk astral berupa ular gaib.
Warga lokal sudah tidak asing dengan fenomena ini. Karena sering menjumpai penampakan ular mistis tersebut, baik yang berukuran kecil maupun sangat besar, di sekitar area sumber utama.
Misteri ular gaib ini, berkaitan erat dengan tradisi adat dusun. Dalam setahun, warga Dusun Wunut menggelar ritual selamatan desa atau barik'an.
"Ini cerita mistik yang sering kali terbukti nyata, bahkan di zaman modern sekarang. Jika pelaksanaan selamatan barik'an mengalami keterlambatan dari waktu yang seharusnya, ular-ular penjaga tersebut akan bermunculan dalam jumlah banyak. Mereka menampakkan diri secara nyata di lokasi sumber utama, di dalam kamar mandi wanita, kamar mandi pria, hingga merayap di sekitar area parkiran," ungkap Saiful.
Aura magis inilah yang memikat para pemburu spiritual atau peritual, untuk datang ke Sumber Ringgit.
Walau jumlahnya tidak sebanyak dahulu, para peritual ini rutin berdatangan pada malam di hari-hari tertentu, yang dianggap sakral.
Para pencari berkah ini, mayoritas datang dari luar daerah Pasuruan. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, hingga Kota Batu.
Ada yang datang secara sembunyi-sembunyi seorang diri, namun tidak jarang pula yang datang secara berkelompok, didampingi oleh guru spiritual mereka.
Sesampainya di lokasi, mereka akan melakukan ritual mandi malam di kamar mandi yang telah disediakan.
Setelah proses ritual selesai, mereka akan mengisi botol-botol plastik besar, maupun jeriken langsung dari tiga pancuran pipa sumber utama, untuk dibawa pulang sebagai sarana keberkahan atau pengobatan.
Pihak pengelola dusun menegaskan, bahwa mereka tidak pernah melarang ataupun membatasi kegiatan ritual tersebut, selama bertujuan baik.
Pengunjung hanya diminta untuk selalu menjaga etika, menjaga kebersihan, serta tidak melakukan tindakan yang melanggar norma kesopanan, selama berada di kawasan Sumber Ringgit. (zal/one)
Ragam Manfaat Sumber Ringgit Pandaan
Fungsi Utama Air
· Air Minum Gratis: Sangat jernih, bisa diminum langsung dari pancuran tanpa dimasak.
· Rest Area Sopir: Sarana mandi, minum, dan wudhu gratis bagi sopir logistik luar daerah.
· Irigasi Sawah: Sumber pengairan utama untuk lahan pertanian di sekitarnya.
· Kebutuhan Domestik: Pasokan air bersih harian bagi warga dusun setempat.
· Terapi Kesehatan: Dipercaya berkhasiat menyembuhkan gatal-gatal dan linu tubuh.
Profil Singkat
· Lokasi: Sisi timur jalan nasional ruas Malang–Surabaya, Dusun Wunut, Pandaan.
· Kelebihan: Air murni dari sela bebatuan yang tidak pernah surut walau musim kemarau.
· Usia: Warisan leluhur yang telah berusia lebih dari 1 abad.
Fasilitas Situs
· Parkir luas ber-paving, Mushola, Tempat Wudu, 2 Kamar Mandi umum (terpisah pria/wanita), dan 3 Pancuran Utama.
Editor : Jawanto Arifin