SETIAP desa memiliki cerita yang tumbuh bersama masyarakatnya. Begitu pula Desa Rambaan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Di balik nama desa yang terdengar sederhana itu, tersimpan kisah tentang alam hingga jejak masa lalu, yang masih dipercaya warga hingga sekarang.
Nama Rambaan diyakini berasal dari kata Rambak. Istilah tersebut merujuk pada kondisi sebuah sungai yang mengaliri wilayah desa.
Aliran sungai itu disebut dipenuhi rerumputan lebat dan rata, hingga masyarakat setempat menyebutnya sebagai Rambak.
Seiring waktu, penyebutan tersebut melekat sebagai identitas wilayah. Dari cerita yang berkembang secara turun-temurun, kawasan itu kemudian dikenal sebagai Rambaan.

Namun, sejarah Rambaan tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam. Di desa tersebut, juga terdapat makam yang oleh masyarakat, dipercaya sebagai salah satu jejak pembabat alas atau tokoh yang membuka wilayah permukiman. Makam itu dikenal sebagai Makam Mbah Rembang.
Buadi, 68, warga Desa Rambaan mengisahkan bahwa Mbah Rembang dipercaya berasal dari daerah Rembang, Jawa Tengah.
Ia kemudian berpindah ke wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Rambaan, ketika terjadi peperangan Paregreg di Kerajaan Majapahit.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, situasi peperangan membuat Mbah Rembang meninggalkan daerah asalnya.
Ia kemudian mencari tempat baru hingga akhirnya menetap di wilayah Rambaan.
Jejak asal-usul tersebut dipercaya, masih meninggalkan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Rambaan.
Salah satunya terlihat dari corak budaya yang masih memiliki nuansa Jawa Tengah.
“Makanya tak heran jika rumah ataupun adat warga di sini, masih ada kesan Jawa Tengahnya,” kata Buadi.
Bagi masyarakat setempat, kisah Mbah Rembang bukan sekadar cerita tentang seorang pendatang dari masa lalu.
Cerita itu menjadi bagian dari narasi mengenai bagaimana sebuah wilayah, mulai dihuni dan berkembang menjadi desa.
Dari sungai yang dipenuhi rambak hingga kisah seorang perantau dari Rembang, identitas Desa Rambaan terbentuk dari cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ritual Adat Danyang Puring
Jika Makam Mbah Rembang menjadi salah satu jejak sejarah pembukaan wilayah Rambaan, masyarakat juga mengenal Danyang Puring sebagai salah satu ruang yang hingga kini masih memiliki nilai tradisi.
Danyang Puring berada di sebuah bangunan, yang bentuknya menyerupai pendapa.
Dahulu, tempat tersebut bukan hanya dikenal sebagai lokasi pedanyangan, tetapi juga menjadi tempat petani beristirahat, setelah bekerja di ladang.
Di tempat itu, para petani biasa berkumpul dan bertemu, setelah menyelesaikan aktivitasnya di sawah maupun ladang.
Nama Danyang Puring sendiri juga memiliki cerita. Menurut Buadi, 68, warga Desa Rambaan, kawasan tersebut dahulu dikelilingi tanaman puring. Karena itulah, masyarakat kemudian menyebut lokasi tersebut, sebagai Danyang Puring.
“Disebut Danyang Puring karena lokasi pedanyangannya dikelilingi tanaman puring,” katanya.
Meski zaman terus berubah, keberadaan Danyang Puring tetap dirawat masyarakat.
Tradisi yang berkembang di lokasi tersebut, bahkan masih dijalankan hingga sekarang.
Sutaryo, 60, dukun Danyang Puring mengatakan, dirinya merupakan generasi keempat yang dipercaya untuk merawat adat dan tradisi di pedanyangan tersebut. Sebelum dirinya, tugas tersebut dijalankan oleh pamannya.
Menurut Sutaryo, tradisi di Danyang Puring merupakan warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat. Salah satu tradisi yang rutin dilakukan, adalah selamatan setiap 27 Rajab.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat membawa ancak dan berkumpul di lokasi pedanyangan.
Mereka kemudian berdoa bersama, sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan sejak generasi sebelumnya.
“Kami membawa ancak dan berdoa bersama di lokasi tersebut. Ini untuk menghormati tradisi leluhur, sekaligus berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan desa ini,” tutur Sutaryo.
Tradisi itu membuat Danyang Puring, tidak sekadar menjadi sebuah tempat yang menyimpan cerita masa lalu.
Ia juga menjadi ruang pertemuan antara generasi sekarang dengan warisan leluhur.
Cerita tentang Rambaan pun akhirnya seperti memiliki dua sisi yang saling melengkapi.
Mbah Rembang merekam kisah masa awal wilayah tersebut dikenal dan dihuni, sementara Danyang Puring memperlihatkan bagaimana ingatan serta tradisi leluhur terus dirawat hingga hari ini. (gus/one)
HIKAYAT DESA RAMBAAN
PROFIL WILAYAH
· Lokasi: Desa Rambaan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
· Asal Nama: Berasal dari kata "Rambak", yaitu aliran sungai desa yang dahulu dipenuhi rerumputan lebat.
TOKOH PEMBABAT ALAS (MBAH REMBANG)
· Asal-usul: Berasal dari Rembang, Jawa Tengah.
· Sejarah: Bermigrasi dan menetap ke Rambaan saat pecah Perang Paregreg di masa Kerajaan Majapahit.
· Dampak Budaya: Rumah dan adat istiadat warga setempat hingga kini masih kental dengan corak dan nuansa Jawa Tengah.
· Situs Sejarah: Makam Mbah Rembang (Simbol awal mulanya permukiman desa).
RUANG TRADISI PETANI (DANYANG PURING)
· Karakteristik Fisik: Bangunan menyerupai pendapa yang dahulu dikelilingi banyak Tanaman Puring.
Fungsi Ganda:
· Lokasi pedanyangan sakral leluhur.
· Tempat berkumpul dan beristirahatnya para petani usai bertani di sawah/ladang.
Generasi Perawat:
· Sutaryo, 60, dukun Danyang Puring yang merupakan generasi keempat pewaris takhta adat setelah sang paman.
RITUAL TAHUNAN YANG TERJAGA
· Waktu Pelaksanaan: Rutin digelar setiap 27 Rajab.
· Bentuk Ritual: Warga berkumpul membawa Ancak (wadah sesaji/makanan dari bambu/pelepah pisang) untuk berdoa bersama demi keselamatan dan kesejahteraan desa.
Editor : Jawanto Arifin