KEMEGAHAN masa kejayaan Kerajaan Majapahit, masih berdiri kokoh di tanah Kabupaten Probolinggo.
Adalah Candi Jabung, sebuah mahakarya arsitektur kuno yang terletak di Dusun Candi, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, yang hingga kini tidak hanya berdiri sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai ruang suci yang sarat akan mitos, legenda, dan ritual keagamaan yang terus lestari.
Memiliki tinggi 16,20 meter, panjang 13,13 meter, dan lebar 9,58 meter, candi yang menghadap ke arah barat ini, langsung memancarkan kesan megah bagi siapa saja yang memandangnya.
Terbuat dari susunan batu bata merah khas Majapahit, struktur bangunan ini terbagi secara geometris menjadi tiga bagian utama.
Kaki yang berdiri di atas batur tinggi, tubuh berbentuk silinder yang unik mirip stupa, serta atap candi.


Koordinator Juru Pelihara Candi Jabung dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur, Abdurrahman, menjelaskan candi ini dibangun dengan konsep luhur agama Buddha Mahayana.
Bukti otentik penanggalan tersebut, terpahat jelas pada ambang pintu masuk.
"Di ambang pintu terdapat angka tahun 1276 Saka atau 1354 Masehi," ungkap Abdurrahman.
Keindahan arsitekturnya kian lengkap, dengan hiasan kepala kala-naga yang terhubung di bingkai pintu bilik semu.
Serta relief Sri Tanjung yang memikat, mengitari selasar bawah badan candi.
Pada masa lampau, Candi Jabung mengemban tiga fungsi krusial. Selain tempat pemujaan, juga menjadi tempat persinggahan para raja serta keluarga kerajaan, dan tempat penyimpanan abu jenazah.
Berdasarkan hikayat yang mengakar kuat, dibilik bagian tengah candi induk inilah, abu jenazah Bhre Gundal—yang masih merupakan kerabat dekat dari Raja Raja Hayam Wuruk—disemayamkan.
Abdurrahman mengisahkan, sebelum pemugaran besar-besaran pada tahun 1983, bilik tengah tersebut memiliki konstruksi menyerupai sumur dengan lubang vertikal yang menjorok sedalam 5 meter hingga mencapai fondasi dasar candi. Di titik terdalam itulah, abu suci Bhre Gundal disimpan.
Namun, demi menjaga keselamatan cagar budaya dari ancaman getaran kendaraan yang melintas di jalan desa yang hanya berjarak 8 meter dari lokasi, rekonstruksi akhirnya dilakukan.
Lubang sumur tersebut ditutup dan disisakan sedalam 1,5 meter dari pintu candi induk untuk difungsikan sebagai altar ritual.
Mitos Terowongan Bawah Tanah dan Pusaka Sakti
Daya tarik Candi Jabung tidak berhenti pada arsitektur induknya. Masyarakat setempat meyakini, adanya mitos terowongan bawah tanah, yang menghubungkan bilik utama candi induk dengan empat sudut pagar pembatas. Atau yang dikenal sebagai Candi Sudut.
Saat ini, salah satu Candi Sudut yang masih terawat baik, berada di jarak 150 meter arah barat daya dari candi induk dengan tinggi mencapai 6 meter.
Candi Sudut ini, dihiasi relief kala di empat penjurunya, sebagai lambang perlindungan dari kekuatan jahat.
Serta relief bunga padma (teratai) pada sisi barat dan selatan sebagai simbol kemakmuran.
"Konon, antara pusat candi induk yang berupa bilik penyimpanan abu terhubung dengan 4 sudut pagar. Namun belum jelas fungsi terowongan tersebut, kemudian ditutup saat pemugaran," kisah Koordinator Juru Pelihara Candi Jabung dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur, Abdurrahman.
Tak hanya terowongan, legenda setempat juga meyakini, area di bawah Candi Sudut merupakan tempat penyimpanan pusaka-pusaka sakti, milik para prajurit dan petinggi Majapahit sebelum mereka bertolak kembali ke pusat kerajaan di Trowulan, Mojokerto.
Mitos ini diperkuat oleh hasil ekskavasi arkeolog, yang menemukan fondasi bekas candi sudut di tiga sisi lainnya.
Fondasi itu membentuk pola kotak presisi dengan jarak masing-masing 250 meter, lengkap dengan puing gapura di sisi barat, meski kondisinya kini telah rusak dan terkubur tanah.
Kerap Digunakan Untuk Ritual Keagamaan
Meskipun secara administratif kini berfungsi sebagai situs cagar budaya dan destinasi wisata edukasi sejarah, nilai kesucian Candi Jabung tidak pernah luntur.
Umat Hindu dan Buddha terpantau masih rutin memanfaatkan pelataran sisi barat candi, untuk menggelar ibadah. Bahkan, meletakkan sesajen di dalam bilik candi induk pada momen-momen sakral tertentu.
Tradisi penghormatan terhadap leluhur ini, juga dijaga ketat oleh warga sekitar situs.
Setiap kali masyarakat hendak menggelar hajat besar yang mengumpulkan massa, ritual permohonan keselamatan di area candi, selalu ditunaikan agar acara dapat berjalan aman dan lancar.
Pihak pengelola cagar budaya sendiri menyikapi fenomena ini, dengan tangan terbuka dan toleransi tinggi.
"Ritual-ritual masih ada dan mengakar di lingkungan masyarakat. Tentunya kami tidak bisa melarang, asalkan tidak merusak bangunan candi," papar Koordinator Juru Pelihara Candi Jabung dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur, Abdurrahman
Menembus batasan waktu berabad-abad, Candi Jabung berhasil membuktikan diri bukan sekadar tumpukan bata merah mati.
Melainkan sebuah warisan budaya hidup yang terus memancarkan nilai spiritual, hikayat, dan keagungan leluhur yang patut dilestarikan oleh generasi masa kini. (ar/one)
Riwayat Candi Jabung
· Lokasi: Dusun Candi, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
· Era Peninggalan: Kerajaan Majapahit (Agama Buddha Mahayana).
· Tahun Pembangunan: 1276 Saka / 1354 Masehi.
· Dimensi Candi Induk:
Tinggi: 16,20 Meter
Panjang: 13,13 Meter
Lebar: 9,58 Meter
· Ciri Khas Arsitektur: Tubuh candi berbentuk silinder (orientasi bangunan stupa) dengan relief Sri Tanjung di selasar bawah.
3 Fungsi Utama Candi (Masa Lampau)
· Tempat Pemujaan (Religi)
· Tempat Persinggahan Raja & Keluarga Kerajaan
· Tempat Penyimpanan Abu Jenazah
Bilik Abu Bhre Gundal (Candi Induk)
· Identitas: Tempat persemayaman abu jenazah Bhre Gundal (Kerabat Raja Hayam Wuruk).
· Konstruksi Awal: Berbentuk sumur vertikal menjorok sedalam 5 meter hingga fondasi.
· Kondisi Pasca-Pemugaran (1983): Lubang ditutup demi kekuatan struktur, menyisakan kedalaman 1,5 meter untuk altar pemujaan.
· Alasan Keamanan: Menahan getaran kendaraan karena jarak candi hanya 8 meter dari jalan desa.
Misteri dan Struktur Candi Sudut
· Fungsi Arkeologis: Sisa sudut pagar pembatas yang mengelilingi candi induk (membentuk kotak presisi berjarak 250 meter antar-sisi).
· Dimensi Candi Sudut: Tinggi 6 meter, Panjang 2,5 meter, Lebar 2,5 meter.
Mitos Lokal:
· Terowongan bawah tanah yang menghubungkan candi induk dengan 4 Candi Sudut.
· Tempat penyimpanan pusaka sakti para prajurit Majapahit sebelum kembali ke Trowulan.
· Ornamen Simbolis: Relief Kala (Pelindung dari hal jahat) dan Bunga Padma/Teratai (Simbol kemakmuran).
Editor : Jawanto Arifin