BAGI warga Kota Probolinggo, Jalan Mastrip tentu sudah tidak asing lagi. Jalur protokol yang selalu ramai oleh lalu lalang kendaraan ini, ternyata menyimpan memori kolektif tentang perjuangan berdarah masa lalu.
Nama jalan ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan sebuah penghormatan bagi laskar pemuda belia yang bertaruh nyawa demi kemerdekaan Indonesia.
Tepat di sebelah Gedung Olahraga (GOR) Kota Probolinggo, sebuah monumen berdiri gagah.
Di titik itulah dahulunya menjadi markas sekaligus saksi bisu berkumpulnya para pelajar, yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Sejarah mencatat, Probolinggo sempat mencicipi pahitnya pendudukan Jepang (1942–1945) setelah merebutnya dari Belanda.
Pada tahun 1943, Jepang membentuk militer Pembela Tanah Air (PETA). Di sinilah para pemuda Probolinggo mulai mengenal taktik kemiliteran.
Geram karena penjajahan yang tak kunjung usai, para pemuda berpendidikan militer ini, mulai menggalang kekuatan.
Sepanjang tahun 1944 hingga 1945, mereka melancarkan perlawanan terhadap Jepang.
Bermodalkan senjata rampasan seperti karabin arisaka dan mauser, hingga senjata tradisional seadanya seperti celurit, bambu runcing, dan batu, aksi perlawanan frontal pun pecah bak tawuran massal.
Nama Mastrip sendiri lahir dari kekaguman masyarakat setempat. Sebagai laskar yang didominasi oleh anak laki-laki berusia sangat belia—rata-rata 15 hingga 22 tahun—masyarakat memanggil mereka dengan sapaan hormat suku Jawa untuk lelaki muda, yaitu "Mas".
"Sebagai bentuk penghargaan untuk keberanian para pemuda ini, masyarakat memanggil para pelajar anggota TRIP dengan sebutan Mas. Jadilah sebutan Mastrip akhirnya populer di masyarakat," ujar Edy Martono, seorang pegiat literasi Kota Probolinggo.
Laskar yang terbentuk pada 22 September 1945 ini, tergolong unik. Karena tidak memiliki struktur organisasi formal.
Mereka bergerak di bawah komando tunggal Mayor Abdul Sarif, sosok yang dianggap paling kuat di antara mereka.
Ujian terberat Laskar Mastrip datang, saat meletusnya Agresi Militer Belanda antara tahun 1947 hingga 1950.
Guna menahan gempuran Belanda yang ingin merebut kembali Probolinggo, Laskar Mastrip bersama TNI bahu-bahu membangun kantong pertahanan tengah di sekitar Gladak Serang (sekarang Bundaran Serang) hingga Wonoasih.
Dengan taktik gerilya yang dinamis, Laskar Mastrip kerap melakukan serangan mendadak tanpa jadwal tetap (dalam bahasa Madura disebut rang nyerang).
Bahkan, perjuangan ini turut disokong oleh kaum wanita, yang nekat menyelundupkan senjata di bawah tumpukan sayur-mayur dalam keranjang pasar.
Salah satu serangan gerilya yang berhasil mengacaukan konsentrasi musuh terjadi pada Minggu, 30 September 1947.
Di mana laskar menyerang markas Belanda di Mayangan, sebelum akhirnya menghilang di kegelapan.
Puncak pertempuran sengit terjadi pada 23 September 1949, melalui serangan kejutan yang membuat pasukan Belanda kewalahan, resah, dan ketakutan.
Kini, melalui penamaan Jalan Mastrip dan berdirinya monumen bersejarah tersebut, warisan api semangat para pelajar Probolinggo diharapkan tetap menyala dan tidak tenggelam di tengah derasnya arus zaman.
Kenang Perjuangan dengan Monumen
Perjuangan heroik Laskar Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) atau yang populer dengan sebutan Laskar Mastrip di Kota Probolinggo, tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.


Jejak darah dan keringat para pejuang belia tersebut, kini diabadikan dalam sebuah bangunan bersejarah bernama Monumen Mastrip.
Monumen ini berdiri kokoh sebagai pengingat bagi generasi milenial dan Gen Z saat ini.
Monumen bersejarah ini didirikan tepat di atas tanah yang dulunya merupakan markas pertahanan utama Laskar Mastrip, saat menghalau Agresi Militer Belanda.
Pembangunan monumen ini diinisiasi oleh jajaran TNI, sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas kontribusi besar para pelajar, dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Probolinggo.
Monumen Mastrip diresmikan pada tanggal 22 September 1990 oleh Mayor Jenderal (Mayjen) TNI R. Hartono, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V Brawijaya.
Berbeda dengan monumen perjuangan pada umumnya yang hanya menonjolkan aspek militer, Monumen Mastrip memiliki karakteristik arsitektur yang sangat unik dan sarat makna.
Ciri khas utama dari rancangan monumen ini, adalah visualisasi tangan pejuang yang memegang buku di sebelah tangan kirinya.
Desain ini sengaja dibuat, untuk menegaskan identitas otentik Laskar Mastrip.
Yaitu kelompok pejuang yang status utamanya adalah pelajar sekolah, namun memiliki nyali besar untuk angkat senjata demi tanah air.
Tepat di dekat area monumen, terdapat sebuah prasasti batu yang memuat pesan moral mendalam dari para pendahulu.
Prasasti tersebut bertuliskan kalimat penuh penggugah semangat: “Kupersembahkan untukmu wahai generasi muda untuk kau lanjutkan semangat perjuangan ini”.
Edy Martono, seorang pegiat literasi Kota Probolinggo, menjelaskan pesan tersebut merupakan "surat cinta" ideologis, yang diwariskan khusus untuk anak muda masa kini.
"Pesan ini ditujukan untuk para pemuda masa kini, agar mereka melanjutkan semangat perjuangan Laskar Mastrip. Bukan lagi melawan penjajah dengan senjata, melainkan berjuang dalam menjaga persatuan, kesatuan, dan kedaulatan NKRI," beber Edy.
Jadi Zona Pendidikan Terpadu
Sepanjang kawasan Jalan Mastrip di Kota Probolinggo, kini resmi menyandang status baru yang legal secara hukum.
Pemerintah kota setempat telah menetapkan kawasan yang sarat nilai sejarah perjuangan Laskar Pelajar (TRIP) ini, sebagai kawasan pendidikan terpadu.
Langkah strategis tersebut, kini telah dikunci di dalam Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Probolinggo.
Melalui regulasi ini, Jalan Mastrip diplot secara spesifik, sebagai zona pengembangan pendidikan utama daerah.
Keputusan hukum ini diambil bukan tanpa alasan. Selain faktor historis pergerakan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di masa kemerdekaan, realita di lapangan menunjukkan perkembangan yang masif.

Sepanjang koridor Jalan Mastrip memang menjadi tumpuan bagi deretan sekolah besar.
Di antaranya adalah lembaga pendidikan negeri dan swasta favorit seperti SMK Negeri 1 Probolinggo, SMK Negeri 2 Probolinggo, SMK Ahmad Yani, SMK Sore, SMK Siang, hingga institusi pendidikan berbasis agama dan dasar seperti SD Muhammadiyah Plus, SMP Integral Hidayatullah, serta Madrasah Aliyah (MA) Insan Madani.
Kepadatan institusi inilah yang memperkuat legitimasi hukum wilayah setempat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo, Setiorini Sayekti mengatakan, ketetapan di dalam Perda RTRW ini menjadi landasan kuat pemerintah daerah, untuk melakukan penataan kawasan secara lebih terintegrasi.
“Penetapan Jalan Mastrip sebagai kawasan pendidikan sudah masuk dalam Perda RTRW. Namun, di dalam kawasan tersebut tentunya masih ada peruntukan untuk sektor penunjang lainnya,” ujar Rini-sapaannya. (mas/one)
Jejak Sejarah Jalan Mastrip
· Nama Lokasi: Jalan Mastrip, Kota Probolinggo
· Status Hukum: Kawasan Pendidikan Terpadu (Perda RTRW)
· Ikon Wilayah: Monumen Mastrip dan GOR Probolinggo
TIMELINE SEJARAH
· 1943: Pemuda Probolinggo ikut pendidikan militer PETA Jepang.
· 1944–1945: Perlawanan frontal pemuda terhadap penjajahan Jepang.
· 22 Sep 1945: Resmi terbentuk Laskar Mastrip (Tentara Republik Indonesia Pelajar).
· 1947–1950: Perang gerilya melawan Agresi Militer Belanda di Gladak Serang hingga Wonoasih.
· 23 Sep 1949: Puncak pertempuran kejutan massal terhadap Belanda.
· 22 Sep 1990: Monumen Mastrip diresmikan oleh Pangdam V Brawijaya.
PROFIL LASKAR MASTRIP
· Kepanjangan: Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
· Arti Nama: "Mas" (sapaan hormat lelaki muda Jawa) + TRIP.
· Usia Anggota: Rata-rata 15–22 tahun (50 persen pelajar kota).
· Komandan: Mayor Abdul Sarif (tanpa struktur formal).
· Senjata: Karabin Arisaka, Mauser, celurit, bambu runcing, batu.
· Taktik Khas: Gerilya mendadak (Rang-nyerang) dan kamuflase keranjang sayur wanita.
FILOSOFI MONUMEN
· Lokasi: Bekas markas pertahanan TRIP (Sebelah GOR).
· Ciri Unik: Patung tangan kiri memegang buku.
· Makna: Simbol otentik pelajar sekolah yang berani angkat senjata.
· Isi Prasasti: "Kupersembahkan untukmu wahai generasi muda untuk kau lanjutkan semangat perjuangan ini"
DAFTAR SEKOLAH DI JALAN MASTRIP
· SMKN 1 Probolinggo
· SMKN 2 Probolinggo
· SMK Ahmad Yani
· SMK Sore
· SMK Siang
· SD Muhammadiyah Plus
· SMP Integral Hidayatullah
· MA Insan Madani
Editor : Jawanto Arifin