DI tengah padatnya permukiman di Lingkungan Plumbon, Kelurahan/Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, tersembunyi sebuah jejak sejarah yang dikeramatkan warga.
Di dalam kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat, berdiri sebuah cungkup bermodel joglo sederhana dengan lantai ubin yang bersih dan terawat.
Di sanalah bersemayam jasad Mbah Sambodho, sosok yang diyakini masyarakat sebagai pembabat alas sekaligus pendiri perkampungan Plumbon.
Uniknya, tidak ada satu pun papan nama, plang petunjuk, ataupun guratan tulisan pada nisan, yang menandai identitas makam tersebut.
Kendati tanpa penanda visual, nama besar Mbah Sambodho sudah melekat kuat, dalam ingatan kolektif warga lintas generasi.
Ketua RW sekaligus tokoh masyarakat Plumbon, Sunyono, 67, menuturkan nama asli dari Mbah Sambodho, tidak diketahui secara pasti.

Berdasarkan cerita tutur yang diwariskan turun-temurun, beliau merupakan seorang tokoh sakti asal Jawa Tengah yang hidup di era Kerajaan Mataram.
"Cerita rakyatnya, sosok beliau dulunya salah satu prajurit dari Pangeran Diponegoro," ujar Sunyono.
Pasca perang atau dalam masa pengembaraannya dari Jawa Tengah, Mbah Sambodho tiba di wilayah Pandaan.
Di tempat inilah, ia memutuskan untuk menetap, membuka lahan hutan (babat alas), dan mendirikan permukiman awal.
Fondasi yang diletakkan Mbah Sambodho di masa lampau, kini telah bertransformasi menjadi kawasan yang maju, padat penduduk, serta menjadi salah satu sentra industri dan tempat usaha di Pandaan.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, warga sekitar bersama juru kunci TPU Plumbon, selalu rutin bergotong-royong menjaga kesucian dan kebersihan makam tersebut.
Nilai historis dan spiritual situs ini, juga dibenarkan oleh Pemerintah Kelurahan setempat.
Lurah Pandaan, Heru Budi Sulistiyo, menegaskan Makam Mbah Sambodho memiliki kedudukan penting dalam peta religi dan sejarah kawasan tersebut.
"Makam Mbah Sambodho ini, merupakan salah satu makam keramat yang ada di wilayah Kelurahan Pandaan, selain Mbah Pandak," terang Heru.
Meski zaman terus berganti menjadi modern, keberadaan makam tanpa nama ini tetap menjadi simbol penghormatan warga Plumbon, terhadap leluhur yang telah membuka jalan bagi peradaban mereka saat ini.
Jadi Jujukan Peziarah
Kendati tersembunyi di tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lingkungan Plumbon, Kelurahan Pandaan, tanpa dilengkapi plang petunjuk ataupun papan nama, magnet spiritual Makam Mbah Sambodho tidak pernah pudar.
Hingga di era modern saat ini, pesona makam keramat tersebut tetap terjaga dan menjadi jujukan utama, bagi para peritual maupun peziarah dari berbagai daerah.
Aktivitas ziarah di makam prajurit Pangeran Diponegoro ini, seolah hidup sepanjang waktu.
Saban hari, rombongan maupun peziarah perorangan, silih berganti mendatangi kompleks makam. Baik menggunakan kendaraan roda dua hingga roda empat.
"Datang ke makam ini, biasanya sore hari, bahkan ada yang malam hari. Tujuan utamanya, setahu kami adalah untuk kirim doa dan ngalab berkah (mencari berkah)," ujar Sunyono, 67, ketua RW 06 Lingkungan Plumbon.
Menurut Sunyono, sirkulasi peziarah tidak hanya didominasi oleh masyarakat lokal dari kawasan Plumbon, Pandaan, atau wilayah Pasuruan saja.
Keberadaan makam ini, rupanya memiliki gaung yang cukup luas hingga ke luar provinsi.
"Peziarah dari Jawa Tengah, utamanya Solo dan sekitarnya, sering datang berziarah ke makam Mbah Sambodho ini," imbuhnya.
Menariknya, tidak ada ritual rumit ataupun pantangan khusus, yang diberlakukan bagi siapa saja yang ingin datang berdoa ke makam pembabat alas Plumbon ini.
Kuncinya, hanya terletak pada etika dan penghormatan terhadap tempat sakral.
"Penting tidak berbuat macam-macam, jaga sopan santun atau tidak neko-neko. Setahu saya itu saja," cetus Sunyono.
Di samping kental dengan aktivitas spiritual, sisi sosiologis makam ini juga diselimuti oleh mitos, yang diyakini warga secara turun-temurun.
Mbah Sambodho diceritakan memiliki hewan peliharaan gaib, yang bertugas menjaga ketenteraman wilayah perkampungan.
"Berwujud anjing berwarna putih. Secara gaib kerap menampakkan wujudnya mengelilingi Plumbon untuk menjaga rasa aman warga di lingkungan sini," bebernya.
Tempat untuk Ritual Tahunan
Makam Mbah Sambodho tidak sekadar menjadi tempat peristirahatan terakhir sang pembabat alas.
Melainkan juga, episentrum tradisi budaya bagi masyarakat Lingkungan Plumbon, Kelurahan Pandaan.
Setiap momen peringatan 17 Agustus, kompleks pemakaman keramat ini, bertransformasi menjadi pusat pelaksanaan ritual tahunan sedekah lingkungan.
Dalam tradisi yang terjaga turun-temurun ini, warga berbondong-bondong memadati area makam dengan membawa tumpeng.
Mereka bersila bersama untuk menggelar doa bersama, membaca Surat Yasin, dan melantunkan tahlil sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada leluhur.
"Selesai acara, tumpeng dimakan bareng-bareng atau bersama. Ini sekaligus sudah menjadi tradisi melekat di Lingkungan Plumbon," beber Lurah Pandaan, Heru Budi Sulistiyo.
Menariknya, ada nuansa baru nasionalisme, yang berpadu dengan tradisi lokal di tempat ini.
Mulai tahun ini, warga setempat menginisiasi pelaksanaan upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tepat di area pemakaman.
Seluruh petugas hingga peserta upacara, murni digerakkan swadaya oleh warga Plumbon sendiri.
"Ini inisiatif warga, mengingat di TPU Plumbon ini juga bersemayam sejumlah makam pejuang kemerdekaan," ungkap Heru.
Bagi para peziarah atau masyarakat luar daerah yang ingin berkunjung, aksesibilitas menuju makam keramat ini, tergolong sangat ramah kendaraan.
Area dalam makam memiliki lahan parkir yang representative, untuk menampung motor maupun mobil pribadi.
Selepas memarkir kendaraan, peziarah hanya perlu berjalan kaki beberapa meter saja untuk mencapai cungkup makam.
Secara geografis, letak makam ini terhitung sangat strategis di pusat kelurahan.
"Jarak Makam Mbah Sambodho dengan Jalan Pattimura hanya sekitar 100 meter. Sementara dengan Lapangan Plumbon dan Kantor Kelurahan Pandaan, masing-masing berjarak sekitar 200 dan 250 meter," terang Heru. (zal/one)
Mengenal Sosok Mbah Sambodho
Profil
· Asal: Jawa Tengah (Era Mataram).
· Status: Prajurit Pangeran Diponegoro dan Orang Sakti.
· Jasa: Pembabat alas (pendiri) wilayah Plumbon, Pandaan.
Ciri Khas Makam
· Fisik: Cungkup joglo sederhana, lantai berubin, terawat bersih.
· Unik: Tanpa papan nama atau tulisan identitas pada nisan.
· Status: Salah satu makam paling keramat di Kelurahan Pandaan.
Ritual dan Mitos
· Tujuan: Kirim doa, ziarah, dan ngalab berkah.
· Asal Peziarah: Pasuruan hingga luar provinsi (Solo dan sekitarnya).
· Mitos: Sosok gaib anjing putih penjaga keamanan kampung.
Agenda Tiap 17 Agustus
· Sedekah Lingkungan: Tradisi tumpengan, doa bersama, Yasin, dan tahlil.
· Nasionalisme: Upacara bendera swadaya warga di area pemakaman pejuang.
Akses Jarak Strategis
· Jalan Pattimura: ± 100 Meter
· Lapangan Plumbon: ± 200 Meter
· Kantor Kelurahan: ± 250 Meter
· Fasilitas: Lahan parkir motor/mobil di dalam area makam.
Editor : Jawanto Arifin