NAMA Desa Rawan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, ternyata menyimpan cerita panjang yang diwariskan secara turun-temurun.
Jauh sebelum wilayah itu berkembang menjadi desa seperti sekarang, kawasan tersebut disebut masih berupa daerah yang alami, dengan permukiman yang belum banyak dihuni dan dikelilingi lahan yang masih asri.
Kepala Desa Rawan, Mustofa, menuturkan, berdasarkan cerita orang-orang terdahulu, sejarah Rawan bermula sekitar 1835.
Saat itu, datang seorang tokoh dari Pulau Madura yang kemudian dikenal dengan nama Pak Sidje.
Menurut Mustofa, Pak Sidje bukan sekadar pendatang. Sosok tersebut dikenal masyarakat sebagai figur yang memiliki kesaktian, kearifan, serta menjadi panutan bagi orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Pak Sidje bersama istrinya, Sitti Fatimatus Sadjijah atau yang dikenal dengan sebutan Bu Sidje, hidup sederhana.
Keduanya menjalani kehidupan rumah tangga, dengan bertani dan bercocok tanam.
Pada awal kedatangannya, belum banyak masyarakat yang mengenal pasangan tersebut.
Namun, keadaan itu perlahan berubah. Kepribadian Pak Sidje membuat masyarakat mulai berdatangan dan mengenalnya lebih dekat.
Selain bertani, Pak Sidje juga disebut mulai membuka wilayah di sekeliling tempat tinggalnya.
Di tengah aktivitas tersebut, ia mengajak masyarakat untuk mempelajari ilmu agama sekaligus ilmu silat atau bela diri.
“Pak Sidje itu selain membabat daerah di sekelilingnya, juga mengajak masyarakat belajar agama dan ilmu silat. Kegiatan itu dipimpin langsung oleh beliau,” kata Mustofa.
Dari situlah pengaruh Pak Sidje semakin kuat. Warga yang belajar dan mengikuti kegiatan yang dipimpinnya, semakin banyak.
Kewibawaannya membuat dirinya disegani masyarakat. Apa yang disampaikan Pak Sidje pun, disebut kerap dipatuhi oleh para pengikutnya.
Waktu terus berjalan. Kawasan yang sebelumnya masih sederhana mulai berkembang menjadi sebuah pedukuhan.
Berdasarkan cerita yang diwariskan para sesepuh, saat itu telah terdapat sekitar 12 kepala keluarga yang bermukim di wilayah tersebut.
Jumlah penduduk yang semakin bertambah dan pengaruh Pak Sidje di tengah masyarakat, akhirnya membuat warga menunjuknya sebagai Klebun atau kepala desa.
Namun, kedudukan sebagai pemimpin, tidak membuat Pak Sidje berubah. Ia tetap menjalani kehidupan sederhana dan dekat dengan masyarakat.
“Walaupun kemudian dinobatkan menjadi Klebun oleh masyarakat, beliau tidak lantas menjadi besar kepala,” ujar Mustofa.
Di balik kisah kepemimpinan tersebut, ternyata terdapat satu tempat yang menjadi bagian penting dari lahirnya nama Rawan.
Sebuah rawa berada tidak jauh dari kediaman Pak Sidje. Airnya jernih dan bersih.
Sehingga, kerap dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak dan minum.
Dari rawa itulah, cerita mengenai nama Desa Rawan kemudian bermula. Namun, makna nama tersebut, tidak semata-mata merujuk pada keberadaan genangan air.
Mustofa menjelaskan, para sesepuh memaknai Rawan sebagai sebuah kawasan yang saat itu masih alami, belum banyak tersentuh tangan manusia.
“Pak Sidje kemudian mempunyai pemikiran, untuk memberi nama daerah tersebut Rawan. Maknanya, adalah daerah yang masih rawan dan masih asli, alami, belum tersentuh campur tangan manusia yang serakah,” ungkap Mustofa.
Nama Rawan akhirnya melekat. Dari sebuah permukiman kecil yang dihuni sekitar belasan keluarga, wilayah itu perlahan berkembang menjadi sebuah desa.
Dan dari kisah seorang perantau bernama Pak Sidje, sejarah Desa Rawan mulai ditorehkan.
Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang hingga kini masih diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, perjalanan Rawan tidak berhenti pada cerita tentang Pak Sidje dan sebuah rawa.
Dari pedukuhan kecil itulah, sebuah desa kemudian tumbuh, berkembang, dan memasuki zaman modern.
Tumbuh Menjadi Desa Modern
Jika kisah berdirinya Desa Rawan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, ditarik ke masa lalu, semuanya bermuara pada sebuah kawasan sederhana yang belum banyak tersentuh manusia.
Dari tempat itulah, nama Rawan perlahan tumbuh dan kemudian menjadi sebuah desa, yang memiliki pemerintahan serta wilayah administratif seperti sekarang.
Kisah tersebut tidak dapat dipisahkan dari sosok Pak Sidje, tokoh asal Pulau Madura yang disebut mulai menetap di wilayah tersebut sekitar 1835.
Bersama istrinya, Sitti Fatimatus Sadjijah atau Bu Sidje, Pak Sidje menjalani kehidupan sederhana dengan bertani dan bercocok tanam.
Kepala Desa Rawan, Mustofa, mengatakan kisah tersebut diwariskan masyarakat berdasarkan cerita para sesepuh desa.
Menurutnya, perkembangan Rawan bermula dari sebuah pedukuhan kecil, yang saat itu hanya dihuni sekitar 12 kepala keluarga.
“Dari cerita yang disampaikan orang-orang terdahulu dan para sesepuh desa, awalnya hanya terbentuk sebuah pedukuhan dengan penduduk sekitar 12 kepala keluarga. Pak Sidje kemudian dinobatkan masyarakat menjadi Klebun atau kepala desa,” terang Mustofa.
Kepemimpinan Pak Sidje, disebut tidak hanya berperan dalam urusan masyarakat.
Sebelum menjadi pemimpin, ia telah dikenal melalui aktivitas keagamaan dan pembelajaran bela diri. Warga datang untuk belajar ilmu agama dan silat di bawah bimbingannya.
Keberadaan Pak Sidje secara perlahan membuat kawasan tersebut berkembang.
Dari lingkungan yang sebelumnya masih berupa lahan alami, mulai muncul kehidupan masyarakat yang lebih teratur.
Warga membangun permukiman, menjalankan aktivitas pertanian, serta memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka.
Seiring perjalanan waktu, pedukuhan tersebut berkembang menjadi desa. Rawan tidak lagi hanya dikenal sebagai permukiman kecil di sekitar rawa, tetapi menjadi wilayah administratif yang memiliki pemerintahan dan kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Kini, berdasarkan data profil desa yang disampaikan Mustofa, Desa Rawan memiliki luas wilayah administrasi sekitar 131 hektare.
Desa tersebut terdiri atas tiga dusun, yakni Dusun Krajan, Dusun Pette, dan Dusun Semar.
Secara geografis, Rawan berada di wilayah Kecamatan Krejengan dengan ketinggian sekitar 50,6 meter di atas permukaan laut.
Jarak Desa Rawan menuju pusat Kecamatan Krejengan, sekitar 2,5 kilometer atau kurang lebih 10 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.
Sementara menuju pusat pemerintahan Kabupaten Probolinggo, berjarak sekitar 7 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
“Kalau melihat kondisi Rawan sekarang, tentu sudah jauh berbeda dengan cerita pada masa Pak Sidje. Dulu masih berupa wilayah yang sangat sederhana dan alami. Sekarang sudah berkembang menjadi desa, dengan kehidupan masyarakat yang lebih modern,” ujar Mustofa.
Perubahan zaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Desa Rawan. Dari hanya sekitar 12 kepala keluarga, wilayah tersebut terus bertumbuh.
Tiga dusun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, yang meneruskan jejak sejarah para pendahulunya. (mu/one)
PROFIL SEJARAH DESA RAWAN
· Tahun Berdiri: Sekitar 1835
· Tokoh Pendiri: Pak Sidje (Perantau asal Pulau Madura)
· Asal-usul Nama: Dari keberadaan rawa alami di dekat kediaman Pak Sidje yang bermakna wilayah asli/belum tersentuh.
· Awal Permukiman: Hanya dihuni 12 Kepala Keluarga (KK).
Kondisi Geografis Modern:
· Luas Wilayah: 131 Hektare
· Pembagian Wilayah: 3 Dusun (Krajan, Pette, Semar)
· Ketinggian: 50,6 Meter di atas permukaan laut (mdpl)
Akses dan Jarak Tempuh:
· Ke Pusat Kecamatan Krejengan: 2,5 Km (± 10 Menit)
· Ke Pusat Kab. Probolinggo: 7 Km (± 20 Menit)
Editor : Jawanto Arifin