TIDAK banyak yang menyangka, sebuah lubang tanam pohon di lingkungan KUTT Suka Makmur di wilayah Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, justru membuka lembaran sejarah industri susu di Pasuruan.
Dari kedalaman sekitar 1,5 meter, muncul sebuah kuali pasteurisasi berukuran besar, yang belakangan diketahui merupakan peninggalan era Hindia Belanda.
Penemuan itu terjadi pada 2008. Evi Zainal Abidin, 50, warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, masih mengingat betul, momen tersebut.
Saat itu, pekerja koperasi menggali tanah di sisi barat Masjid Baitul Makmur, yang berada di kompleks perkantoran KUTT Suka Makmur untuk menanam pohon.


Tanpa diduga, cangkul mereka membentur benda logam berukuran besar, yang terkubur di dalam tanah.
"Awalnya kami sama sekali tidak tahu benda itu apa. Kondisinya terpendam sekitar satu setengah meter, di bawah permukaan tanah," kenangnya.
Saat diangkat, kondisinya masih utuh. Tidak banyak bagian yang rusak, meski telah puluhan tahun tertimbun tanah.
Rasa penasaran, membuat Evi mulai mengamati bagian demi bagian kuali tersebut.
Di badan kuali, masih menempel emblem pabrikan. Identitas pembuat, spesifikasi alat hingga tahun produksi, masih dapat terbaca dengan jelas.
Di bagian konstruksi, juga terlihat penggunaan paku keling, teknik penyambungan logam yang lazim digunakan, sebelum teknologi pengelasan menjadi standar industri.
"Tahun pembuatannya tertulis 1921. Dari konstruksinya, juga menunjukkan bahwa ini memang produk lama pada masa Hindia Belanda," ujarnya.
Saat pertama ditemukan, Evi mengaku, belum memahami nilai sejarah benda tersebut.
Namun, karena memiliki kegemaran mengoleksi barang-barang tua, ia meminta pekerja koperasi, agar tidak membuangnya.
Kuali itu kemudian hanya diletakkan di halaman kantor, selama bertahun-tahun tanpa perlakuan khusus.
Menariknya, material logamnya tetap kokoh, meski terus terpapar panas dan hujan.
"Justru itu yang membuat kami heran. Tidak pernah dirawat secara khusus, tetapi kondisinya tetap utuh sampai sekarang," katanya.
Kini, setelah diketahui sebagai artefak penting industri persusuan, kuali tersebut menjadi salah satu benda bersejarah, yang paling dijaga di lingkungan KUTT Suka Makmur.
Misteri Singkatan 'MC Grati'
Sebuah surat kabar lawas terbitan 1958, menjadi kepingan puzzle yang akhirnya menyatukan sejarah panjang industri susu di kawasan Grati.
Dari sanalah, Evi Zainal Abidin, tokoh warga Nguling, mulai memahami arti sebenarnya dari sebutan "MC Grati", yang selama ini akrab di telinga masyarakat Pasuruan.
Selama bertahun-tahun, banyak orang hanya mengenal nama MC Grati tanpa mengetahui kepanjangannya.
Saat menelusuri sejarah berdirinya KUTT Suka Makmur sekitar tiga tahun lalu, Evi menemukan dokumen lama yang menyebut MC Grati merupakan singkatan dari Melkcentrale Grati.
Dalam bahasa Belanda, "melk" berarti susu. Sedangkan "centrale" berarti pusat pengumpulan atau pengolahan.
Temuan itu, membuatnya menduga kuat bahwa MC Grati, dahulu merupakan sentra pengolahan susu pada masa kolonial.
Saat mengingat kembali kuali besar yang ditemukan pada 2008, Evi langsung mencocokkan keduanya.
Dugaan itu semakin menguat, setelah diketahui bahwa kuali tersebut merupakan kuali pasteurisasi bertekanan, buatan Richard Heike pada 1921.
"Industri susu saat itu, sangat bergantung pada uap untuk memanaskan air, mensterilkan peralatan hingga melakukan pasteurisasi.
Karena itu, sangat mungkin kuali ini merupakan bagian dari instalasi asli Melkcentrale atau pendahulunya," jelasnya.
Temuan tersebut, juga sejalan dengan kisah keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Buyut Evi dikenal sebagai pengusaha pada masa Hindia Belanda, yang memproduksi berbagai olahan susu.
Mulai susu pasteurisasi, mentega hingga tahu susu atau yang kini dikenal sebagai keju.
Meski demikian, keluarga tidak pernah mengetahui, seperti apa peralatan yang digunakan pada masa itu.
Barulah setelah menemukan arsip surat kabar dan kuali kuno tersebut, sejarah keluarga perlahan menemukan titik terang.
Menurut Evi, kehidupan masyarakat Eropa yang tinggal di wilayah Kawedanan Grati ketika itu, memang tidak bisa dilepaskan dari konsumsi susu segar.
Mereka membangun kemitraan dengan masyarakat pribumi, dalam beternak sapi perah dan memerah susu.
"Dari cerita turun-temurun memang seperti itu. Orang-orang Belanda bermitra dengan peternak lokal, untuk memenuhi kebutuhan susu mereka," tuturnya.
Bagi Evi, keberadaan kuali itu bukan sekadar benda tua. Melainkan bukti, bahwa kawasan Grati pernah menjadi salah satu pusat peradaban industri persusuan di Indonesia.
Dipajang di Joglo Suka Makmur
Selama bertahun-tahun, kuali pasteurisasi peninggalan Hindia Belanda itu hanya dianggap barang tua biasa.
Baru setelah sejumlah tamu dari luar negeri, berkunjung ke KUTT Suka Makmur dan menunjukkan ketertarikannya, Evi Zainal Abidin, warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, mulai menyadari bahwa benda tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat besar.
Kesadaran itu semakin kuat, ketika ia sempat menceritakan penemuan tersebut kepada sang ibu, almarhumah Hj Siti Rohma.
Dari perbincangan itulah, Evi kembali diingatkan mengenai jejak panjang keluarganya, dalam dunia pengolahan susu.
Nenek buyutnya, Hj Siti Khotijah, dikenal sebagai pengusaha pabrik roti pada masa Hindia Belanda.
Selain membuat roti, usaha keluarga juga memproduksi mentega dan tahu susu, sebutan masyarakat saat itu untuk keju.
"Dari situ, saya diingatkan bahwa leluhur kami sudah mengolah susu sejak masa Hindia Belanda. Kami harus mampu menghidupkan kembali kemampuan itu, agar peternak anggota koperasi semakin sejahtera," ungkapnya.
Penemuan kuali tersebut, juga menjadi pengingat bahwa kemampuan hilirisasi hasil peternakan, sebenarnya sudah dimiliki masyarakat Kawedanan Grati sejak lebih dari satu abad lalu.
Menurut Evi, sejarah itu perlu dikenalkan kembali kepada generasi muda. Tidak hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga mengembalikan identitas daerah sebagai sentra persusuan.
Ia menilai, anggapan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya minum susu segar, merupakan pandangan yang keliru.
Banyak generasi tua di kawasan Grati, justru masih mengingat masa ketika mereka rutin membeli susu pasteurisasi dari MC Grati.
"Kenangan itu masih hidup. Banyak orang tua yang bercerita, dulu hampir setiap hari minum susu segar dari MC Grati," katanya.
Kini kuali pasteurisasi tersebut tidak lagi disimpan begitu saja. Benda berusia lebih dari satu abad itu, dipajang di halaman Joglo Suka Makmur, agar dapat dipelajari masyarakat, peneliti maupun siapa pun yang tertarik menelusuri sejarah peradaban persusuan nasional. (zen/one)
Seabad Melkcentrale Grati
Penemuan Artefak (2008)
· Lokasi: Area KUTT Suka Makmur, Grati, Pasuruan.
· Kondisi: Terpendam 1,5 meter di bawah tanah.
· Pemicu: Terbentur cangkul pekerja saat menggali lubang pohon.
Spesifikasi Kuali Kuno
· Fungsi: Kuali pasteurisasi susu bertekanan.
· Produsen: Richard Heike (Jerman), tahun 1921.
· Ciri Khas: Sambungan paku keling, logam kokoh antikarat.
Misteri 'MC Grati' Terjawab
· Bukti: Arsip surat kabar lawas tahun 1958.
· Kepanjangan: Melkcentrale Grati (Pusat Pengolahan Susu Grati).
· Fakta: Bukti lereng Bromo sudah jadi pusat industri susu sejak era kolonial.
Kondisi Sekarang
· Lokasi Baru: Dipajang di halaman Joglo Suka Makmur.
· Fungsi: Ikon edukasi sejarah persusuan nasional.
Editor : Jawanto Arifin