DI balik tenangnya hamparan alam Desa Lambangkuning, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, tersimpan sebuah kisah turun-temurun yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Kisah itu berkaitan dengan sosok Mbah Mataram, tokoh yang dipercaya sebagai pembabat alas sekaligus cikal bakal berdirinya Desa Lambangkuning.
Makam Mbah Mataram hingga kini masih berdiri di salah satu sudut desa.
Bagi warga setempat, makam tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol sejarah, spiritualitas, sekaligus pengingat asal-usul desa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala Desa Lambangkuning, Timbul menjelaskan, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Mataram merupakan seorang tokoh legendaris asal Madura yang dikenal sebagai musafir besar pada masa Kerajaan Majapahit.


Konon, perjalanan panjangnya dimulai dari wilayah Mataram, sebelum akhirnya mengembara ke berbagai daerah, hingga tiba di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Lambangkuning.
"Beliau diyakini sampai di wilayah yang sekarang menjadi Desa Lambangkuning, kemudian membuka hutan yang saat itu masih berupa belantara," ujarnya.
Setelah kawasan tersebut mulai terbuka, Mbah Mataram disebut tidak sendirian dalam membangun kehidupan di wilayah itu.
Menurut cerita masyarakat, perjuangannya kemudian diikuti oleh sejumlah tokoh lain yang juga dihormati, seperti Bujuk Kawi, Bujuk Rase, Mbah Putri Kembang Kuning, hingga Raden Wijayakusumadiningrat.
Hubungan Mbah Mataram dengan sejarah dan budaya Majapahit, membuat kisah hidupnya dipenuhi berbagai cerita yang sarat nuansa mistis.
Salah satu legenda yang paling dikenal masyarakat, adalah mengenai akhir hayatnya yang disebut berlangsung secara tidak biasa.
Konon, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya sebagai seorang musafir, tubuh Mbah Mataram terbelah.
Dan bagian-bagiannya tersebar ke sejumlah lokasi, yang kini dipercaya sebagai tempat keramat.
"Kepercayaan masyarakat menyebutkan, tubuh beliau terbelah dan tersebar di beberapa tempat. Hal itu dianggap sebagai pertanda kesaktian dan kekuatan spiritual yang dimiliki Mbah Mataram," kata Timbul.
Salah satu bagian yang dipercaya berada di Desa Lambangkuning, adalah kaki kanan Mbah Mataram.
Lokasi tersebut kemudian menjadi makam yang hingga sekarang diziarahi banyak orang.
Meski demikian, Timbul mengungkapkan, terdapat pula makam dengan nama serupa, yakni Mbah Mataram Santri Lanceng di kawasan Gunung Bentar.
Kesamaan nama tersebut masih menjadi bahan penelusuran, untuk mengetahui apakah lokasi itu merupakan makam lain, petilasan, atau masih berkaitan dengan sosok Mbah Mataram yang diyakini masyarakat Lambangkuning.
"Ini masih perlu kami telusuri lebih lanjut, agar sejarahnya semakin jelas dan dapat dipahami masyarakat," terangnya.
Tradisi Haul dan Situs Keramat yang Dijaga
Lebih dari sekadar legenda, kisah Mbah Mataram masih hidup melalui berbagai tradisi, yang terus dilestarikan masyarakat Desa Lambangkuning.
Makam yang dipercaya sebagai salah satu bagian tubuh sang pembabat alas, kini menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat dari berbagai daerah.
Masyarakat meyakini, bahwa bertawasul di makam tersebut, menjadi salah satu ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan, serta kemudahan dalam berbagai hajat kehidupan.
"Ziarah ke makam sudah menjadi tradisi masyarakat Lambangkuning dan sekitarnya. Banyak yang datang untuk bertawasul, memohon berkah, dan berharap hajatnya dikabulkan Allah SWT melalui perantara doa," ujar Kepala Desa Lambangkuning, Timbul
Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur desa, Pemerintah Desa Lambangkuning bersama masyarakat, rutin menggelar haul setiap bulan Muharram atau bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Tahun ini menjadi penyelenggaraan haul yang kedelapan. Kegiatannya diisi dengan doa bersama yang dipimpin ulama, tumpengan, hingga makan bersama sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan warga.
"Selain mengenang sejarah desa, haul ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi masyarakat. Pesertanya bisa mencapai sekitar 500 orang," katanya.
Di sekitar kompleks makam, juga terdapat dua situs lain yang tak kalah disakralkan masyarakat, yakni Batu Dukun dan Watu Gangsian.
Kedua batu tersebut berada di dekat aliran sungai, yang mengalir di sekitar kawasan makam.
Menurut cerita warga, batu tersebut pernah dipindahkan, ketika dilakukan pembangunan tembok penahan tanah untuk kolam. Namun, keesokan harinya batu itu disebut kembali berada di posisi semula.
"Batu itu pernah dipindahkan saat pembangunan, tetapi menurut cerita warga kembali lagi ke tempat asalnya," tutur Timbul.
Cerita lain yang juga masih dipercaya masyarakat, adalah mengenai pohon besar di atas kawasan batu tersebut.
Pohon itu, konon pernah roboh pada malam hari, namun keesokan harinya kembali berdiri tegak, tanpa diketahui penyebabnya.
Bagi warga Lambangkuning, berbagai kisah tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang harus dihormati, sekaligus dijaga sebagai identitas desa.
Sementara itu, Juru Kunci Makam Mbah Mataram, Terus, 86, mengatakan makam tersebut hampir tidak pernah sepi peziarah, terutama setiap malam Jumat Legi.
Menurutnya, para peziarah datang dari berbagai daerah, mulai dari Malang, Madura, Pasuruan, hingga wilayah lain di Jawa Timur. Mereka umumnya datang untuk berdoa dan bertawasul.
"Kalau malam Jumat Legi biasanya ramai. Banyak yang datang dari luar kota untuk berdoa. Kalau saya sendiri, setiap bertawasul membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 70 kali," paparnya. (gus/one)
JEJAK SPIRITUAL DAN SITUS KERAMAT DESA LAMBANGKUNING
PROFIL TOKOH
· Nama Leluhur: Mbah Mataram
· Asal-Usul: Musafir legendaris asal Madura
· Era Hidup: Zaman Kerajaan Majapahit
· Peran: Pembabat alas dan cikal bakal Desa Lambangkuning, Lumbang, Probolinggo
· Tokoh Pendukung: Bujuk Kawi, Bujuk Rase, Mbah Putri Kembang Kuning, Raden Wijayakusumadiningrat
LEGENDA DAN MITOS
· Jasad Terbelah: Tubuh Mbah Mataram diyakini terbelah menjadi beberapa bagian setelah wafat.
· Makam Lambangkuning: Dipercaya sebagai lokasi bersemayamnya bagian kaki kanan beliau.
· Batu Dukun dan Watu Gangsian: Dua batu sakral dekat sungai yang konon kembali ke posisi semula secara misterius setelah sempat dipindahkan untuk proyek dinding kolam.
· Pohon Ajaib: Pohon besar di atas situs batu yang konon tegak berdiri kembali secara misterius setelah roboh di malam hari.
TRADISI DAN RITUAL
· Haul Tahunan: Digelar rutin setiap bulan Muharram / Suro (Tahun ini memasuki haul ke-8) .
· Agenda Haul: Doa bersama dipimpin ulama, tumpengan, dan makan bersama.
· Estimasi Massa: Diikuti sekitar 500 warga dan peziarah.
· Puncak Ziarah: Setiap malam Jumat Legi selalu ramai peziarah dari luar kota (Malang, Madura, Pasuruan).
· Amalan Juru Kunci: Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 70 kali saat bertawasul (oleh Juru Kunci Mbah Terus, 86 tahun).
Editor : Jawanto Arifin