Jauh sebelum konglomerat modern menguasai panggung bisnis nasional, Karesidenan Pasuruan di abad ke-19 telah melahirkan seorang raja diraja industri gula bernama Alexander Manuel Anthonijs.
=========================
NAMA Alexander Manuel Anthonijs terukir abadi sebagai salah satu manusia terkaya di masa kolonial Hindia Belanda, dengan taksiran kekayaan fantastis. Mencapai Rp 1,5 triliun hingga Rp 3 triliun jika dikonversikan dengan nilai mata uang saat ini.
Pemerhati Sejarah Pasuruan Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan, sang miliarder lahir pada 18 Januari 1832.
Memiliki garis keturunan Eropa—kemungkinan Belanda atau Portugis—Anthonijs mengawali kariernya di jalur birokrasi pemerintahan kolonial. Berdasarkan Besluit Gouvernement No. 2, ia dilantik sebagai Juru Tulis (Panitera) di Pengadilan Negeri Pasuruan pada 3 September 1851 dan sempat menjabat sebagai Juru Tulis Pertama di Kantor Karesidenan Pasuruan pada 1862.
Langkah krusial dalam hidup Anthonijs terjadi pada tahun 1867. Di usia yang masih tergolong muda, 35 tahun, ia memilih mengajukan pensiun dini dari dinas negara karena mencium besarnya potensi bisnis komoditas manis bernama gula.
Baca Juga: Jejak Kolonial di Dam Pekalen, Jantung Irigasi yang Menghidupkan Industri Gula Probolinggo
Keputusan berani tersebut berbuah manis. Karena terbukti, hal itu menjadikannya salah satu elit Eropa paling berpengaruh di Nusantara.
"Beliau fokus menekuni bisnis gula pascapensiun dan berhasil menguasai tiga pabrik gula raksasa di wilayah Karesidenan Pasuruan," jelas Budiman.
Pusat kerajaan bisnis sekaligus tempat tinggal utamanya berada di Pabrik Gula Pengkol (De Goede Hoop). Di bawah kendalinya, pabrik ini mencatat produktivitas luar biasa.
Berdasarkan laporan Java-bode (16 November 1880), setahun setelah kematiannya, pabrik Pengkol mampu menghasilkan 75 pikul tebu per bau.
Menggunakan hitungan abad ke-19, angka tersebut setara dengan memproduksi 4.632 kg gula dari setiap 0,7 hektare lahan—sebuah lompatan teknologi pertanian yang mengagumkan di zamannya.
Sebagai pengusaha berjiwa ekspansif, Anthonijs tidak cepat puas dengan satu pabrik. Pada tahun 1878, ia mencuri perhatian publik setelah mengakuisisi Pabrik Seroenie di wilayah Karesidenan Surabaya seharga 800.000 gulden, nominal yang setara dengan 400 kilogram emas murni.
Setahun berselang, tepatnya Januari 1879, ia kembali menggelontorkan dana segar 800.000 gulden untuk membeli Pabrik "Alkmaar" di Pasuruan.
Tak hanya mengandalkan lini tebu, taipan ini juga merambah dunia penerbitan dengan mendirikan pabrik cetak dan berkongsi bersama van den Gheijn Sr untuk menerbitkan surat kabar lokal bernama “de Oostpost”. Menjelang akhir abad ke-19, trah Anthonijs juga melebarkan sayap dengan mendirikan pabrik es komersial. (riz/one)
Editor : Muhammad Fahmi