Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Legenda Ranu Merah di Andungsari Tiris Probolinggo, Kisah Pertikaian Dua Naga Penjaga Alam Semesta

Achmad Arianto • Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:16 WIB
TENANG: Air di kawasan Ranu Merah yang tampak tenang. Di balik ketenangannya, ada misteri yang terpendam. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
TENANG: Air di kawasan Ranu Merah yang tampak tenang. Di balik ketenangannya, ada misteri yang terpendam. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

CERITA rakyat dan legenda kuno, hingga kini masih mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Salah satu kisah yang terus terjaga, adalah asal-usul Ranu Merah, sebuah danau mistis yang terletak di Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Danau ini diyakini terbentuk akibat pertempuran dahsyat, antara dua naga penjaga alam semesta.

Pada zaman yang jauh sebelum kalender ditulis dan nama tempat dikenal, Tanah Andungsari masih berupa lembah sunyi yang terlelap dalam kabut dan keheningan. Gunung, hutan, dan angin hidup berdampingan tanpa gangguan manusia.

Konon pada masa itu, Sang Hyang Jagad menciptakan dua penjaga alam semesta. Yakni Nogo Geni (naga merah) yang lahir dari jantung api gunung purba. Dan Nogo Banyu (naga biru) yang muncul dari gelombang pertama samudra dunia.

RAMAI: Ranu Merah di Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo yang kerap menjadi jujukan warga. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

RAMAI: Ranu Merah di Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo yang kerap menjadi jujukan warga. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

PENGHORMATAN: Kegiatan selamatan dan larung sesaji di Kawasan Ranu Merah yang digelar warga, sebagai penghormatan untuk leluhur. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
PENGHORMATAN: Kegiatan selamatan dan larung sesaji di Kawasan Ranu Merah yang digelar warga, sebagai penghormatan untuk leluhur. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

Keduanya bersaudara, saling melengkapi. Nogo Geni memanaskan bumi agar tanah subur.

Nogo Banyu mengaliri bumi, agar kehidupan tumbuh. Keseimbangan dijaga oleh cinta dan perjanjian sakral di antara mereka.

“Memang ada legenda di balik Ranu Merah. Cerita itu diwariskan turun temurun, dari sesepuh desa,” kata Sekretaris Desa Andungsari, Ludianto.

Namun, waktu berjalan dan manusia mulai bermukim di lereng gunung. Mereka membelah hutan, menggali tanah, dan tak lagi menghormati semesta. Kekacauan pun datang.

Terjadilah kekeringan. Sungai surut. Daun-daun gugur sebelum waktunya. Nogo Geni murka, karena kekuatan apinya ditahan terlalu lama. Sementara Nogo Banyu pun gusar, karena airnya dicemari manusia.

Pertikaian kemudian memuncak. Mereka saling menuduh. Mereka turun dari tahta alam masing-masing dan bertemu di tengah di Lembang Andung, wilayah yang kini menjadi Desa Andungsari. Dua naga sakti bertarung.

Api dan air menyembur dari rahang mereka. Tubuh mereka melilit satu sama lain, menghancurkan lembah, membakar hutan, membanjiri tanah.

Penduduk desa melarikan diri. Tanah terbelah. Namun di tengah pertikaian itu, datang Ki Sudira, seorang dukun tua penjaga keseimbangan alam. Ia datang membawa pusaka Keris Nogo Rojo warisan leluhur.

“Konon, keris terbuat dari bilah sakti yang dahulu ditempa dari sisa sisik naga pertama yang pernah hidup,” ucapnya.

Dengan pakaian lusuh, suara doa, dan mata penuh air mata, Ki Sudira berdiri di antara dua naga dan berseru. Geni! Banyu! Cukuplah! Alam ini tak sanggup menampung dendammu! Kembalilah menjadi penjaga, bukan penghancur.

Tapi suara manusia tak didengar oleh api dan air. Maka, dengan segenap tenaga dan restu leluhur, Ki Sudira menancapkan Keris Nogo Rojo ke tengah lembah yang menjadi medan tempur. Sekejap bumi berguncang. Kilat menyambar ke arah langit.

Keris itu bersinar merah dan biru bersamaan. Cahaya pusaka itu menyedot kekuatan dari kedua naga.

Tubuh Nogo Geni meleleh menjadi cahaya. Sementara tubuh Nogo Banyu, menguap menjadi kabut. Keduanya diserap ke dalam keris.

Dari tempat keris itu menancap, muncul sebuah mata air kecil. Air itu jernih. Lalu perlahan berubah merah, seolah membawa jejak darah, api, dan kabut dalam diamnya.

Mengisi cekungan bekas pertempuran. Hari berganti hari, bulan berganti musim. Lembah itu pun menjadi danau — danau merah, tenang namun penuh kekuatan gaib. Hingga pada akhirnya disebut dengan Ranu Merah. Nama yang diwariskan hingga kini.

“Legenda asal muasal Ranu Merah terus lestari lintas generasi. Hingga kini, kisah tersebut masih tetap dipercaya oleh warga desa,” tuturnya.

 

Larung Sesaji Sebagai Bentuk Penghormatan

Tak hanya sekedar menjadi legenda. Asal-usul Ranu Merah, hingga kini disakralkan oleh masyarakat Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Bahkan, pada hari-hari tertentu digelar larung sesaji Ranu Merah, untuk mendapatkan keselamatan, keberkahan, dan ketentraman.

Sekretaris Desa Andungsari, Ludianto mengatakan kesakralan Ranu Merah tertanam sejak Ki Sudira meletakkan tongkatnya di tepi ranu.

Leluhur desa itu berpesan kepada para penduduk, agar tidak menganggap danau ini biasa.

Di dalamnya, tidur dua penjaga alam. Rawatlah ia. Hormatilah ia. Bila terlupakan, maka api dan air akan kembali menjadi bencana.

“Dari cerita leluhur, ada wasiat jika Ranu Merah cukup sakral. Bukan hanya karena asal-usulnya, tetapi karena diyakini memiliki penunggu,” katanya.

Semenjak itu, untuk menjaga keseimbangan dan menenangkan kekuatan naga dalam keris, warga Desa Andungsari mengadakan selamatan larung saji.

Setiap tahun, pada bulan Suro, warga membuat sesajen. Berupa tumpeng merah dan putih.

Lalu ayam panggang utuh. Segenggam tanah dari sekitar ranu dan bunga tujuh rupa.

Sesaji itu kemudian dilarungkan ke tengah Ranu Merah. Iringan doa dan tembang Jawa Kuno, mengiri proses larung.

Hal ini, semata-mata sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan atas Ranu Merah.

Kini, Ranu Merah masih ada, sunyi, sakral, dan penuh misteri. Tak ada yang tahu pasti, di mana keris itu tertancap.

Ada yang bilang, di dasar danau. Ada yang percaya, ia hanya muncul saat malam Suro.

Namun, satu hal pasti warna merah airnya tak pernah pudar. Karena, itu bukan warna darah semata. Melainkan warna penebusan, kesaktian, dan pengorbanan.

“Banyak warga yang masih percaya, hari tertentu di tengah kesunyian ranu, kadang terdengar suara seperti gemuruh. Suara itu diyakini, sebagai suara naga yang tertidur,” tutur Ludianto. (ar/one)

 

Misteri dan Tradisi Ranu Merah

·                    Lokasi: Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

·                    Mitos Warga: Warna merah air tidak pernah pudar, dan terkadang terdengar suara gemuruh gaib yang diyakini sebagai suara naga yang sedang tidur.

 

Dua Naga Penjaga

·                    Nogo Geni (Naga Merah): Lahir dari jantung api gunung purba. Bertugas memanaskan bumi agar tanah subur.

·                    Nogo Banyu (Naga Biru): Muncul dari gelombang pertama samudra. Bertugas mengaliri bumi agar kehidupan tumbuh.

·                    Pemicu Konflik: Kerusakan alam oleh manusia memicu amarah kedua naga hingga terjadi pertempuran hebat di Lembah Andung.

 

Tokoh Kunci dan Pusaka

·                    Ki Sudira: Dukun tua penjaga keseimbangan alam yang melerai pertempuran naga.

·                    Keris Nogo Rojo: Senjata pusaka yang ditempa dari sisa sisik naga pertama di dunia.

·                    Akhir Pertarungan: Keris ditancapkan, menyedot kekuatan kedua naga (Nogo Geni meleleh jadi cahaya, Nogo Banyu menguap jadi kabut). Lubang tancapan keris mengeluarkan mata air yang kini menjadi Ranu Merah.

 

Larung Sesaji Bulan Suro

·                    Waktu Pelaksanaan: Setiap tahun sekali pada Bulan Suro (Penanggalan Jawa).

·                    Tujuan Upacara: Memohon keselamatan, keberkahan, ketenteraman desa, dan mencegah bencana alam.

 

Isi Sesajen Utama:

·                    Tumpeng Merah dan Putih

·                    Ayam panggang utuh

·                    Segenggam tanah sekitar danau

·                    Bunga tujuh rupa

·                    Prosesi: Dilarung ke tengah danau diiringi doa dan lantunan tembang Jawa kuno.

Editor : Jawanto Arifin
andungsari ranu merah naga legenda tiris