NAMA Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, diyakini berasal dari kisah sebuah pohon tanjung raksasa, yang tumbuh di tengah hutan lebat, pada masa awal pembukaan wilayah tersebut.
Cerita yang diwariskan secara turun-temurun itu, hingga kini masih menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Kepala Desa Tanjungsari, Suyono, mengatakan sejarah desa bermula dari keberadaan seorang tokoh, yang dikenal dengan sebutan Bujuk Seneti. Tokoh tersebut memiliki dua putra, yakni Ronggo Pati dan Embah Bario.
Menurut Suyono, pada masa itu Ronggo Pati bersama masyarakat, melakukan pembukaan hutan untuk dijadikan kawasan permukiman.
Proses tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama, hingga suatu ketika warga mencium aroma bunga yang sangat harum.
“Menurut cerita para sesepuh yang diwariskan dari generasi ke generasi, aroma harum itu berasal dari bunga yang tumbuh di atas pohon tanjung berukuran sangat besar. Yang terlihat dari bawah, hanya bagian benang sarinya,” ujar Suyono.

Keberadaan pohon tersebut, kemudian menjadi perhatian masyarakat. Warga bersama Bujuk Seneti, menggelar musyawarah di bawah pohon tanjung, untuk menentukan nama wilayah yang mulai dihuni secara permanen.
Dari hasil musyawarah itulah, muncul nama Tanjungsari. Kata Tanjung, diambil dari pohon tanjung yang menjadi penanda wilayah.
Sedangkan Sari, merujuk pada benang sari bunga yang terlihat dari bawah dan mengeluarkan aroma harum.
“Karena pohon tanjung itu sangat besar dan yang terlihat hanya benang sari bunganya, masyarakat sepakat memberi nama wilayah ini Tanjungsari,” katanya.
Suyono menjelaskan, setelah wilayah tersebut terbentuk, masyarakat kemudian mempercayakan Ronggo Pati sebagai kepala desa pertama.
Sejak saat itu, nama Tanjungsari terus digunakan hingga sekarang. Dan menjadi bagian dari sejarah yang masih dijaga oleh masyarakat desa.
Dua Abad Kepemimpinan Warnai Perjalanan Desa
Perjalanan Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, tidak hanya diwarnai legenda asal-usul namanya.
Desa yang kini memiliki luas wilayah sekitar 76 hektare tersebut, juga menyimpan catatan panjang pergantian kepemimpinan sejak abad ke-18.
Kepala Desa Tanjungsari Suyono mengatakan, berdasarkan catatan sejarah desa, Ronggo Pati tercatat sebagai kepala desa pertama, setelah wilayah tersebut terbentuk dari hasil pembukaan hutan oleh masyarakat.
“Ronggo Pati dipercaya masyarakat, untuk memimpin desa yang baru terbentuk dan menjabat hingga tahun 1787,” ujar Suyono.
Setelah itu, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Osro yang menjabat pada periode 1787 hingga 1835.
Selanjutnya, tampuk pemerintahan dipegang Wongso pada 1835-1873 dan diteruskan oleh Sumo Sari pada 1873-1920.
Memasuki era berikutnya, jabatan kepala desa diemban H. Syafi’i pada 1920-1961.
Kepemimpinan kemudian berlanjut kepada H. Nur Hasan yang memimpin selama hampir tiga dekade, yakni 1961 hingga 1990.
“Sejarah kepemimpinan desa terus berlanjut hingga sekarang dan menjadi bagian penting perjalanan pembangunan Desa Tanjungsari,” kata Suyono.
Ia menjelaskan setelah masa H. Nur Hasan, jabatan kepala desa berturut-turut dipegang Abdul Ghafar (1990-1998), Mulyono (1998-2007), Munasi (2008-2014), Mulyono kembali pada periode 2015-2021, dan selanjutnya dirinya menjabat sejak 2022.
Saat ini Desa Tanjungsari terdiri atas tiga dusun. Yakni Dusun Krajan, Dusun Tempolong dan Dusun Klompangan.
Desa tersebut berbatasan dengan Desa Krejengan di sisi utara dan timur, Desa Kamalkuning di sebelah selatan, serta Desa Jatiurip di bagian barat.
“Dari cerita para pendahulu hingga kondisi saat ini, Desa Tanjungsari terus berkembang. Sejarah itu menjadi pengingat, bagaimana desa ini dibangun oleh masyarakat secara gotong royong dari masa ke masa,” papar Suyono. (mu/one)
Asal-usul Nama Desa Tanjungsari
· Babat Alas: Dipimpin oleh Ronggo Pati (putra tokoh legendaris Bujuk Seneti) membuka hutan belantara.
· Aroma Harum: Saat menebang hutan, warga mencium wangi memikat dari puncak pohon raksasa.
· Arti Nama: Tanjung (dari jenis pohonnya) dan Sari (merujuk pada benang sari bunganya yang terlihat indah dari bawah).
Estafet Kepemimpinan
Catatan panjang para pemimpin Desa Tanjungsari melintasi zaman:
· Ronggo Pati (Kades Pertama – hingga 1787)
· Osro (1787 - 1835)
· Wongso (1835 - 1873)
· Sumo Sari (1873 - 1920)
· H. Syafi’i (1920 - 1961)
· H. Nur Hasan (1961 - 1990)
· Abdul Ghafar (1990 - 1998)
· Mulyono (1998 - 2007)
· Munasi (2008 - 2014)
· Mulyono (Periode ke-2: 2015 - 2021)
· Suyono (2022 - Sekarang)
Profil Singat Desa
· Luas Wilayah: Kisar 76 Hektare.
· Pembagian: Terdiri atas 3 Dusun (Krajan, Tempolong, dan Klompangan)
Editor : Jawanto Arifin