Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Nama Desa Sumberagung di Dringu Probolinggo, dari Pelarian Bangsawan Madura hingga Lahirnya Kampung Bernama Caluk Ilang

Inneke Agustin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 14:14 WIB
KRAMAT: Makam Raden Agung yang merupakan pembabat Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. (Inneke Agustin/Radar Bromo)
KRAMAT: Makam Raden Agung yang merupakan pembabat Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. (Inneke Agustin/Radar Bromo)

HAMPARAN lahan bawang merah, membentang luas sejauh mata memandang di Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Sekitar 70 persen wilayah desa ini, masih didominasi lahan pertanian. Di balik kesuburan tanahnya, tersimpan kisah panjang yang diwariskan turun-temurun oleh para sesepuh desa.

Konon, asal-usul Desa Sumberagung, berawal pada masa penjajahan Kolonial Belanda.

Saat itu, Belanda menyerang Keraton Pamekasan di Pulau Madura. “Serangan tersebut memaksa sejumlah bangsawan dan pengikut keraton, meninggalkan tanah kelahiran mereka demi menyelamatkan diri,” kata Sekretaris Desa Sumberagung, Tri Hardiyanto Jiwandono.

Rombongan pelarian itu, menyeberang ke Pulau Jawa dan terus berjalan hingga tiba di sebuah kawasan hutan lebat, di wilayah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Probolinggo.

ZIARAH: Sekretaris Desa Sumberagung, Tri Hardiyanto Jiwandono saat berziarah di Makam Raden Agung. (Inneke Agustin/Radar Bromo)

ZIARAH: Sekretaris Desa Sumberagung, Tri Hardiyanto Jiwandono saat berziarah di Makam Raden Agung. (Inneke Agustin/Radar Bromo)

Di tempat itulah, mereka memutuskan untuk menetap dan membuka kehidupan baru.

Dengan peralatan sederhana, para pendatang mulai membabat hutan untuk dijadikan permukiman dan lahan bercocok tanam.

Pemimpin kelompok tersebut diyakini bernama Raden Agung, sosok yang kemudian dikenal sebagai pembabat alas atau pendiri kampung.

Namun di tengah proses pembukaan hutan, sebuah peristiwa tak terduga terjadi.

Caluk atau pisau milik Raden Agung yang digunakan untuk menebas semak belukar, mendadak hilang tanpa jejak. Kehilangan itu meninggalkan kesan mendalam.

“Raden Agung kemudian berikrar, bahwa wilayah yang sedang mereka buka akan dikenang dengan nama Caluk Ilang, yang berarti pisau yang hilang,” tuturnya.

Nama itu pun melekat pada kawasan tersebut. Seiring berjalannya waktu, keluarga-keluarga yang menetap di sana, berkembang menjadi sebuah komunitas yang hidup turun-temurun. Nama Caluk Ilang tetap dikenang sebagai identitas kampung mereka.

Raden Agung sendiri, dipercaya menghabiskan sisa hidupnya di wilayah tersebut.

Setelah wafat, ia dimakamkan di desa yang telah dirintisnya. Hingga kini, makamnya masih dikenal masyarakat sebagai Kramat Mbah Agung, sebuah tempat yang dihormati sebagai makam sesepuh desa.

Selain kisah tentang pelarian bangsawan Madura, masyarakat juga mengenal versi cerita lain yang tak kalah menarik.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, nama Caluk Ilang dikaitkan dengan perjalanan Damar Wulan saat berperang melawan Minak Jinggo.

“Dikisahkan, Damar Wulan pernah singgah di kawasan ini. Saat beristirahat, caluk atau pisaunya hilang. Peristiwa itu kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Caluk Ilang,” kisahnya.

Meski memiliki versi yang berbeda, kedua cerita tersebut sama-sama menempatkan "caluk yang hilang" sebagai penanda lahirnya sebuah wilayah yang kelak berkembang menjadi desa yang makmur.

 

Berganti Nama Menjadi Sumberagung

Berabad-abad setelah Caluk Ilang berdiri, jejak sejarah para pendirinya masih dapat ditemukan.

Salah satunya, melalui keberadaan Kramat Mbah Agung yang hingga kini tetap terawat dan kerap dikunjungi warga.

Bagi masyarakat setempat, makam tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh pendiri desa.

Kramat Mbah Agung juga menjadi simbol sejarah, sekaligus pengingat akan perjalanan panjang lahirnya Desa Sumberagung.

Sekretaris Desa Sumberagung, Tri Hardiyanto Jiwandono menuturkan, makam tersebut masih sering didatangi masyarakat, baik dari dalam maupun luar daerah.

Ada yang datang untuk berziarah, mengenang sejarah desa, maupun sekadar mencari ketenangan.

Bahkan, pada masa pemerintahan Kepala Desa Sugito yang berlangsung dari tahun 1999 hingga 2014, makam Mbah Agung memiliki fungsi yang cukup unik.

Tempat itu dijadikan lokasi uji mental, bagi perangkat desa yang akan mulai menjalankan tugasnya.

“Mereka diwajibkan bermalam di area makam, sebagai bentuk penguatan mental dan tanggung jawab terhadap amanah yang akan diemban. Biasanya, kegiatan tersebut dilakukan mulai tengah malam hingga dini hari,” terangnya.

Tradisi itu menjadi salah satu bagian dari sejarah sosial Desa Sumberagung, yang masih dikenang hingga sekarang.

Perjalanan desa juga ditandai dengan pergantian nama, yang menjadi tonggak penting dalam sejarahnya.

Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Kepala Desa Buryam Sundradji.

“Tepat pada 14 Oktober 1984, nama Desa Caluk Ilang resmi diubah menjadi Desa Sumberagung,” sebutnya.

Pemilihan nama baru itu, bukan tanpa alasan. Masyarakat meyakini wilayah tersebut, memiliki banyak sumber air yang menjadi penopang kehidupan pertanian.

Di sisi lain, nama "Agung" dianggap sebagai penghormatan kepada Raden Agung, yang diyakini sebagai pembabat alas desa.

Dari dua unsur itulah, lahir nama Sumberagung, yang secara harfiah dapat dimaknai sebagai sumber kehidupan yang agung dan melimpah.

Sejak saat itu, Desa Sumberagung terus berkembang. Dari sebuah kawasan hutan yang dibuka oleh para pendatang, desa ini tumbuh menjadi salah satu sentra pertanian bawang merah di Kabupaten Probolinggo, sekaligus kawasan pengembangan ekonomi pedesaan.

Perjalanan panjang tersebut turut diwarnai kepemimpinan sejumlah kepala desa yang silih berganti. Tercatat, desa ini pernah dipimpin oleh Rogo (1800–1838), Suro (1838–1876), Nur Mangun Truno (1876–1911), Brodjo (1911–1912), Astro (1912–1932), Nur Ragian (1932–1947), Mohammad Nur (1947–1975), Buryam Sundradji (1975–1999), Sugito (1999–2014), hingga Elmidi yang menjabat sejak 2015.

Sejarah Desa Sumberagung menunjukkan bahwa sebuah desa, tidak hanya dibangun oleh tanah dan bangunan, tetapi juga oleh cerita, ingatan, dan warisan para pendahulu yang terus hidup dari generasi ke generasi. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#sumberagung #Pembabat Alas #sejarah #asal usul #probolinggo