PERMUKAAN air Ranu Grati, Pasuruan, tampak tenang pada pagi hari. Namun di balik ketenangannya, masyarakat Kecamatan Grati mewarisi beragam kisah panjang tentang asal-usul wilayah mereka.
Mulai dari legenda tangisan seorang putri kerajaan, kisah naga Baru Klinting yang diyakini berpindah dari tanah Jawa Tengah, hingga jejak perpindahan kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa kuno yang disebut pernah singgah di Pasuruan timur.
Bagi sebagian warga, nama Grati berasal dari gabungan dua kata Jawa Kuno. “Ger” dimaknai sebagai suara tangis atau gemuruh, sedangkan “ati” berarti hati.
Dua kata itu kemudian dipercaya menjadi simbol jeritan batin seorang putri bernama Endang Sukarni, yang dikisahkan hidup pada masa kerajaan kuno.


Dalam cerita tutur yang berkembang di sekitar Ranu Grati, Endang Sukarni disebut meminta pertolongan kepada seorang pertapa sakti bernama Begawan Nyampuh agar diberi keturunan.
Permintaan itu konon terkabul. Namun sesudah sang putri mengandung, Begawan Nyampuh justru menghilang tanpa jejak.
Kondisi tersebut membuat sang putri dihantui rasa takut dan malu. Ia khawatir kehamilannya memunculkan fitnah, di lingkungan kerajaan.
Tangisan panjang yang keluar dari kesedihannya, dipercaya mengguncang tanah hingga membentuk cekungan besar berisi air yang kemudian menjadi Ranu Grati.
Irvan Dwi, 48, warga Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, mengatakan legenda itu sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat sejak lama.
Cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh orang tua kepada anak-anak mereka.
“Dari kecil saya sudah mendengar kisah itu, dari para sesepuh kampung. Dulu, warga percaya tangisan sang putri begitu keras, sampai tanah di sekitar ranu ambles dan berubah menjadi danau,” katanya.
Menurut Irvan, kisah tersebut bukan hanya dianggap sebagai dongeng semata.
Ada pesan moral yang terus dijaga masyarakat melalui cerita itu, terutama tentang pentingnya menjaga sikap dan menghormati alam sekitar.
“Orang-orang tua dulu, selalu mengingatkan agar tidak sembarangan ketika berada di sekitar ranu. Karena tempat ini dipercaya memiliki sejarah besar dan harus dijaga bersama,” imbuhnya.
Di sisi lain, muncul pula pandangan berbeda mengenai legenda Baru Klinting, yang selama ini kerap dikaitkan dengan asal-usul Ranu Grati.
Sejumlah pemerhati sejarah lokal menilai, kisah naga Baru Klinting kemungkinan bukan cerita asli yang lahir di Grati.
Melainkan legenda yang dibawa oleh perpindahan masyarakat Jawa kuno dari wilayah lain.
Sebab, pola cerita serupa, juga ditemukan di sejumlah daerah lain di Pulau Jawa.
Kisah tentang naga, lidi yang dicabut dari tanah, hingga banjir besar yang menenggelamkan permukiman tidak hanya dikenal di Pasuruan. Tetapi juga muncul di kawasan Dieng, Magetan, hingga lereng Semeru.
Fenomena itu memunculkan dugaan, bahwa masyarakat masa lampau membawa memori kolektif dari daerah asal mereka ketika berpindah akibat bencana alam, wabah, atau konflik antarkerajaan.
Cerita tersebut kemudian menyesuaikan diri dengan kondisi geografis wilayah baru yang mereka tempati.
“Kalau dipikir secara logis, sulit diterima jika cerita dengan tokoh dan alur yang sama muncul di banyak tempat berbeda. Kemungkinan besar, kisah itu ikut terbawa perpindahan masyarakat Jawa Tengah ke wilayah timur pada masa lampau, lalu berkembang menjadi legenda lokal di masing-masing daerah,” ujar seorang pemerhati sejarah lokal Grati.
Terlepas dari kisah tutur yang berkembang, penjelasan ilmiah mengenai keberadaan Ranu Grati sebenarnya telah lama dikaji.
Berdasarkan penelitian geologi dan limnologi, danau tersebut terbentuk akibat aktivitas vulkanis purba yang berkaitan dengan letusan freatomagmatik di kawasan Bromo-Tengger pada ribuan tahun silam.
Karakter vulkanik itu, masih dapat dikenali hingga sekarang. Pada musim tertentu, kandungan belerang alami kerap muncul ke permukaan air danau.
Fenomena tersebut, dulu sering dihubungkan dengan aktivitas gaib dalam cerita rakyat. Padahal, secara ilmiah merupakan proses pelepasan gas dari perut bumi.
Kedalaman Ranu Grati pun sempat menjadi bahan perdebatan warga, selama bertahun-tahun.
Sebagian masyarakat dulu, memperkirakan dasar danau mencapai lebih dari 300 meter. Namun hasil pengukuran resmi menunjukkan angka yang berbeda.
Data pemetaan bawah air yang dilakukan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL mencatat, titik terdalam Ranu Grati berada di kisaran 123 meter.
“Dulu banyak warga, hanya memperkirakan kedalamannya berdasarkan cerita nelayan atau pemancing. Setelah dilakukan pengukuran resmi, diketahui titik terdalamnya sekitar 123 meter. Data itu jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Jadi Pusat Kehidupan Sejak Lama
JAUH sebelum era modern, warga memanfaatkan danau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan mencari ikan lokal seperti ikan lempuk yang dikenal berwarna putih transparan.
Pada masa kolonial Belanda, fungsi danau berkembang menjadi sumber pengairan perkebunan tebu, di kawasan Pasuruan timur.
Infrastruktur bendungan dan saluran irigasi, mulai dibangun untuk memaksimalkan distribusi air ke lahan pertanian.
Hingga kini, keberadaan Ranu Grati, masih menjadi urat nadi pertanian warga. Air danau mengaliri ribuan hektare sawah di wilayah Grati, Rejoso, Lekok, hingga Nguling.
“Sekarang manfaat Ranu Grati jauh lebih besar. Airnya menjadi sumber utama pertanian di beberapa kecamatan. Kalau danau ini sampai terganggu, dampaknya pasti dirasakan banyak petani,” ujar Hari Setiawan, Lurah Grati Tunon.
Menurut Hari, besarnya manfaat ekonomi dari danau tersebut, membuat masyarakat tetap menjaga tradisi Larung Sesaji, yang digelar setiap tahun.
Tradisi itu menjadi bentuk syukur warga, atas keberadaan sumber air yang terus menghidupi mereka.
Dalam ritual tersebut, warga melarung hasil bumi dan tumpeng ke tengah danau, menggunakan perahu-perahu hias.
Tradisi itu tidak hanya dipandang sebagai kegiatan budaya, tetapi juga pengingat hubungan manusia dengan alam yang diwariskan sejak masa lampau.
“Larung Sesaji sekarang menjadi simbol rasa syukur masyarakat. Karena, warga merasakan langsung manfaat danau bagi pertanian maupun kehidupan sehari-hari. Tradisi ini tetap dipertahankan, agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan budaya daerahnya,” tandasnya.
Jejak sejarah Grati juga dikaitkan dengan perpindahan kekuasaan kerajaan Jawa kuno.
Sejumlah catatan lokal menyebut wilayah Pasuruan, terutama kawasan Kraton dan Grati, pernah menjadi tempat persinggahan trah Mataram Kuno yang bergerak ke timur akibat konflik politik maupun bencana alam.
Dalam perkembangan berikutnya, kawasan Grati disebut telah memiliki sistem pemerintahan lokal berbentuk kademangan sebelum akhirnya masuk dalam pengaruh Kesultanan Mataram Islam pada awal abad ke-17.
Ekspansi kekuasaan Mataram di bawah Sultan Agung membuat wilayah-wilayah di Jawa Timur, termasuk Pasuruan, berada di bawah kendali kerajaan tersebut.
Bersamaan dengan itu, proses islamisasi dan perubahan tata pemerintahan berlangsung secara bertahap di wilayah Grati.
Kini, seluruh lapisan cerita itu hidup berdampingan di tengah masyarakat. Antara legenda sang putri, kisah Baru Klinting, sejarah perpindahan kerajaan, hingga fakta geologi tentang kawah vulkanik purba, semuanya membentuk identitas Ranu Grati sebagai salah satu penanda sejarah dan budaya penting di Pasuruan timur.
Tradisi yang Dipertahankan
Melimpahnya berkah ekonomi dari sektor pertanian dan perikanan karamba di masa kini, secara otomatis melahirkan ikatan spiritual dan kultural yang kuat antara manusia dan alamnya.
Sadar bahwa kehidupan mereka ditopang penuh oleh kemurahan air danau, masyarakat Grati konsisten merawat tradisi leluhur yang disebut Larung Sesaji.
Ritual tahunan ini, bukan lagi sekadar sisa-sisa kepercayaan kuno prasejarah.
Melainkan telah bergeser menjadi sebuah upacara adat, ekspresi budaya, sekaligus magnet wisata budaya yang dinantikan setiap tahunnya.
Dalam pelaksanaannya, warga dari berbagai penjuru bergotong-royong melarung aneka hasil bumi, tumpeng, hingga kepala hewan ternak ke tengah danau menggunakan perahu-perahu hias.
Tradisi Larung Sesaji ini, tetap lestari justru karena faktor kelogisan ekonomi masa kini.
Warga merasakan langsung betapa alam Grati, telah memberikan keuntungan materiil yang luar biasa bagi hajat hidup mereka.
Lewat ritual inilah, masyarakat lintas generasi berkumpul untuk menyatukan doa, menghormati sejarah panjang tanah kelahiran mereka.
Sekaligus menitipkan harapan, agar air Ranu Grati tidak pernah kering mengalirkan berkah bagi anak cucu di masa depan.
"Tradisi Larung Sesaji ini, adalah cermin bagaimana masyarakat masa kini membalas kebaikan alam. Karena danau ini, dianggap sangat menguntungkan dan menghidupi ribuan kepala keluarga melalui sawah dan ladang, warga merasa memiliki kewajiban moral untuk menjaga kelestariannya," kata Hari Setiawan, Lurah Grati Tunon. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin