Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Bujuk Abdul Qidam, Sang Kesatria Pembabat Alas Pegunungan Tiris Probolinggo

Achmad Arianto • Sabtu, 23 Mei 2026 | 12:59 WIB
PENANDA: Gapura menuju makam Bujuk Abdul Qidam yang dihormati sekaligus dikeramatkan warga. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
PENANDA: Gapura menuju makam Bujuk Abdul Qidam yang dihormati sekaligus dikeramatkan warga. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

JAUH di dalam rimbunnya hutan belantara pegunungan Probolinggo pada abad ke-17, sebuah peradaban baru mulai lahir dari langkah kaki seorang pengembara.

Dialah Kiai atau Bujuk Abdul Qidam, seorang bangsawan religius asal Madura yang kini dihormati sebagai sosok pembabat alas sekaligus peletak dasar spiritualitas di Desa/Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Kisah perjalanan hidup Bujuk Abdul Qidam bukanlah pelarian biasa. Melainkan sebuah laku spiritual, yang lahir dari pergolakan.

Lahir dari garis keturunan darah biru, ia dipercaya sebagai keturunan langsung dari Pangeran Panji Pulang Jiwo, seorang kesatria legendaris dari Sumenep, Madura.

DI ATAS BUKIT: Sebelum ke makam peziarah terlebih dahulu harus menapaki 25 anak tangga. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

DI ATAS BUKIT: Sebelum ke makam peziarah terlebih dahulu harus menapaki 25 anak tangga. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

TERAWAT: Makam Bujuk Abdul Qidam masih terawat dan kerap dikunjungi oleh peziarah. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
TERAWAT: Makam Bujuk Abdul Qidam masih terawat dan kerap dikunjungi oleh peziarah. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

Sebagai pewaris darah ksatria, Abdul Qidam tidak hanya dibekali ilmu kanuragan dan keberanian. Tetapi juga ketajaman ilmu agama, kesantunan, dan kerendahan hati.

Sejarah menyebut, saat itu Keraton Sumenep sedang dilanda ketegangan politik. Perselisihan antara dua dinasti besar penyangga keraton yakni Dinasti Yudonegoro dan Bindara Saot, kian meruncing.

Demi menjaga keselamatan keluarga, sekaligus menjauhkan diri dari syahwat kekuasaan, Abdul Qidam mengambil keputusan besar untuk meninggalkan tanah kelahirannya.

Sebelum mengayunkan langkah pertamanya ke luar Pulau Madura, ia terlebih dahulu bersimpuh di Asta Tinggi.

Di hadapan makam leluhurnya, sang kesatria memanjatkan doa, berpamitan untuk memulai pengembaraan panjang demi menuntun umat ke jalan yang benar.

"Bujuk Abdul Qidam ini merupakan pembabat alas Desa Tiris. Dipercaya, beliau merupakan keturunan Keraton Sumenep," ujar Sekretaris Desa Tiris, Husen Mansyur.

Perjalanan panjang pun dimulai. Menembus lautan, menyusuri daratan, hingga mendaki lereng-lereng curam.

Dalam setiap perhentiannya di padepokan atau pesantren, Abdul Qidam selalu memanfaatkan waktu, untuk mengasah ilmu agama dan menyebarkan kebaikan, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Langkah kakinya baru benar-benar terhenti, ketika menjumpai sebuah wilayah pegunungan yang asri namun masih berupa hutan belantara mistis. Di sana, ia menemukan sebuah mata air yang sangat jernih.

Di sekitar sumber air itulah, segelintir warga lokal mendirikan gubuk-gubuk sederhana.

Mereka bertahan hidup secara tradisional, dengan mengandalkan hasil hutan dan memproduksi nira dari pohon aren (nderes).

Kehadiran sosok sesepuh yang bersahaja ini, langsung diterima dengan hangat oleh warga.

Abdul Qidam melihat masyarakat setempat, masih memegang teguh tradisi lama dan belum tersentuh dakwah Islam.

Dengan pendekatan yang lembut, ia mulai menanamkan ilmu tauhid dan syariat, tanpa sedikit pun merusak kearifan lokal.

Ia juga mengajarkan cara memanfaatkan alam secara bijak, serta memperkenalkan teknik menyadap nira aren yang lebih efektif.

Karisma Bujuk Abdul Qidam yang menggabungkan ketegasan darah ksatria Pulang Jiwo dan kesederhanaan seorang sufi, membuat warga menaruh hormat yang mendalam.

Seiring berjalannya waktu, wilayah tempat tinggal mereka, mulai dikenal sebagai Kampung Nderes, sejalan dengan mayoritas mata pencaharian warganya.

Di pinggir sungai yang mengalir jernih, Abdul Qidam mendirikan sebuah surau kecil yang kemudian melegenda dengan nama Langger Bhekap.

Surau inilah yang menjadi episentrum penyebaran Islam, tempat masyarakat berkumpul, belajar membaca Al-Qur'an, dan merajut nilai-nilai kerukunan.

Hubungan harmonis antara ajaran Islam dan tradisi lokal, berhasil mengubah hutan sepi yang dulu dianggap angker, menjadi perkampungan yang hidup, makmur, dan terbuka bagi para pendatang.

Seiring derasnya interaksi antardaerah dan terjadinya akulturasi budaya, nama Kampung Nderes perlahan mengalami pergeseran fonetik.

Melalui lidah masyarakat dan para pendatang yang terus mengalir, lahirlah sebutan "Tiris", sebuah nama yang dirasa lebih familier, sejuk, dan mudah diucapkan.

Kini, berabad-abad telah berlalu, nama Tiris telah bertransformasi menjadi sebuah identitas wilayah, yang terus berkembang mengikuti zaman.

Namun, bagi masyarakat setempat, harumnya nama Tiris akan selalu lekat dengan ketulusan hati Bujuk Abdul Qidam, sang pangeran yang memilih menanggalkan jubah kemegahan keraton, demi menanam benih peradaban di lereng gunung.

 

Pesona Magis Makam Bujuk Abdul Qidam

Waktu boleh saja terus bergulir, namun harumnya nama Bujuk Abdul Qidam tidak pernah pudar dari ingatan masyarakat Desa Tiris.

Di atas sebuah bukit sunyi di Dusun Taman, Desa/Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, sang pembabat alas disemayamkan.

Hingga hari ini, makam tersebut tidak sekadar menjadi tempat peristirahatan terakhir.

Melainkan episentrum spiritual yang dikeramatkan dan dihormati penuh takzim oleh warga lintas generasi.

Untuk menuju titik sakral ini, peziarah akan disambut oleh sebuah gapura kokoh yang berdiri tegak di sisi timur jalan utama Desa Tiris.

Setelah melewati jalan setapak sejauh 300 meter, sebuah tangga semen dengan 25 anak tangga, akan menuntun langkah para peziarah mendaki bukit.

Di puncak bukit itulah, sosok Bujuk Abdul Qidam beristirahat dengan damai. Setiap orang yang mengayunkan kaki ke tempat ini, akan langsung disergap hawa sejuk yang menenangkan hati.

"Makamnya berada di atas bukit dan kondisinya sangat terawat hingga sekarang. Karena warga di sini, bergotong-royong menjaga dan merawatnya dengan penuh hormat," ujar Mohammad Tohir, 34, salah seorang warga Dusun Taman.

Kekeramatan makam Bujuk Abdul Qidam kian diperkuat, oleh sebuah kisah tutur yang melegenda di kalangan masyarakat setempat.

Konon, dari pusara Bujuk Abdul Qidam, kerap muncul sebersit cahaya lembut misterius yang menyerupai pendar sinar rembulan.

Cahaya itu tidak berpendar menyilaukan mata. Melainkan memancarkan keteduhan, yang mampu menenteramkan jiwa siapapun yang memandangnya.

Warga meyakinim bahwa pancaran tersebut adalah nur (cahaya) ketakwaan. Simbol kesalehan dan keberkahan ilmu yang ditinggalkan sang tokoh, yang terus memancar melintasi zaman.

"Kepercayaan tentang cahaya mistis itu, sudah mengakar sangat kuat. Cahaya tersebut tidak muncul setiap saat, melainkan hanya pada malam-malam tertentu. Terutama saat bulan purnama atau malam yang dianggap keramat," lanjut Tohir.

Sekretaris Desa Tiris, Husen Mansyur, memaparkan mereka yang beruntung menyaksikan fenomena spiritual tersebut, biasanya akan merasakan kedamaian batin yang luar biasa. Seolah-olah jiwa mereka dibasuh oleh kesucian embun pagi.

Bagi masyarakat Tiris, makam ini bukan sekadar peninggalan arkeologis atau makam kuno biasa.

Tempat ini adalah simbol hidup dari transformasi budaya luar biasa, yang membawa Tiris keluar dari era kegelapan mistis, menuju cahaya Islam yang rukun.

Oleh karena itu, makam ini hampir tidak pernah sepi dari lambaian doa para peziarah.

Mereka datang dari berbagai pelosok negeri, demi mencari karomah, ketenangan, maupun mengais berkah perjuangannya.

Begitu kuatnya pengaruh spiritual Bujuk Abdul Qidam, hingga melahirkan sebuah tradisi luhur yang wajib dipatuhi oleh pemangku kebijakan dan warga desa.

Sebelum menggelar acara besar atau hajatan penting kemasyarakatan di Tiris, warga setempat selalu meluangkan waktu untuk berziarah dan "meminta izin" secara spiritual di makam ini.

"Warga masih memegang teguh keyakinan, sebelum mengadakan kegiatan penting yang melibatkan orang banyak di desa, kami harus berziarah dahulu ke makam beliau. Ini adalah bentuk takzim dan harapan, agar seluruh kegiatan kami berjalan lancar tanpa hambatan, di bawah payung restu para leluhur," bebernya. (ar/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Pembabat Alas #sejarah #tiris #probolinggo