Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cikal Bakal Bendomungal Bangil Pasuruan, Jejak Pohon Menjulang Tinggi hingga Wisata Religi

Muhamad Busthomi • Minggu, 17 Mei 2026 | 11:24 WIB
MENAWAN: Kawasan Bendomungal di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, yang tak lagi menampakkan kesan angker dengan sejumlah pembangunan yang direalisasikan. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
MENAWAN: Kawasan Bendomungal di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, yang tak lagi menampakkan kesan angker dengan sejumlah pembangunan yang direalisasikan. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

MUNGKIN tak banyak yang tahu, kalau nama Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, berakar dari sebuah pohon raksasa.

Pohon tersebut pernah tumbuh di wilayah ini. Namanya bendo. Dari kisah pohon raksasa bernama bendo itulah, jejak toponimi Bendomungal hidup dari ingatan warga.

Bendomungal tak lagi menyisakan kesan angker, seperti yang pernah hidup dalam cerita lama.

Jalanan sudah terang, rumah-rumah berdiri rapat, dan lalu lintas warga mengalir biasa saja.

Tapi bagi Budi, 75, salah satu warga setempat, ada masa ketika kawasan ini menyimpan rasa segan.

“Kalau cerita kakek buyut dulu itu sangar, angker,” katanya pelan, seolah masih menyisakan bayangan masa lalu.

RELIGI: Tak hanya berkaitan dengan pohon bendo, di wilayah Bendomungal, banyak makam-makam ulama yang menjadikan kawasan setempat, jujukan wisata religi. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

RELIGI: Tak hanya berkaitan dengan pohon bendo, di wilayah Bendomungal, banyak makam-makam ulama yang menjadikan kawasan setempat, jujukan wisata religi. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

ARENA BERMAIN: Salah satu sudut permainan anak di wilayah Bendomungal, Kecamatan Bangil. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
ARENA BERMAIN: Salah satu sudut permainan anak di wilayah Bendomungal, Kecamatan Bangil. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

Duduk ruang tamu rumahnya, mengingat satu nama yang menjadi asal mula segalanya: bendo.

Dalam ingatan yang Budi warisi dari cerita orang-orang terdahulu, bendo juga sekaligus menjadi penanda.

Tetenger. Sesuatu yang membuat orang mengenali sebuah tempat. “Pohonnya besar sekali, tinggi sekali. Mungale nemen,” ujar Budi.

Kata –mungal ­­­dalam tutur Jawa– mengandung kesan menjulang, mencolok, sulit diabaikan.

Bukan hanya tinggi, tapi juga rimbun, seolah menguasai ruang di sekitarnya. Dari situlah, nama Bendomungal dipercaya lahir: bendo yang mungal.

Seperti beringin, kata Budi, tapi dengan karakter sendiri. Bahkan buahnya, menurut cerita, menyerupai gayam.

Meski begitu, Budi mengakui, ia sendiri tak pernah benar-benar melihat pohon itu. “Cuma cerita orang-orang dulu. Saya belum pernah tahu wujudnya,” ujarnya.

Bendo sendiri sejenis pohon buah yang masih satu genus dengan nangka. Buahnya mirip dengan buah timbul atau kulur, dengan tonjolan-tonjolan serupa duri lunak panjang dan pendek, agak melengket. Nama ilmiahnya adalah artocarpus elasticus.

Tak ada catatan pasti di mana pohon itu tumbuh. Tak ada pula kisah rinci tentang siapa yang pertama membuka lahan di kawasan tersebut.

Sejarah Bendomungal, setidaknya dalam versi tutur warga, tidak dimulai dari tokoh, melainkan dari lanskap. “Yang jadi penanda ya pohon bendo itu saja,” kata Budi.

Di situlah, toponimi bekerja: nama tempat lahir dari apa yang paling menonjol, paling diingat, paling terasa.

 

Pusat Dakwah Pasukan Laskar Diponegoro

Bendomungal tak hanya hidup dari kisah tentang pohon bendo yang menjulang. Di dalam ingatan warga, nama itu juga bersisian dengan sosok ulama, Kiai Hasan Muhdor.

Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Gondang di Bangil, yang dirintis sejak 1905. Sebuah masa ketika arah perjuangan mulai bergeser, dari medan perang menuju ruang-ruang pendidikan.

Kiai Muhdor adalah putra ketiga Kiai Tamim, sosok yang dalam cerita turun-temurun disebut sebagai bagian dari laskar Pangeran Diponegoro.

Dari garis itulah, semangat perlawanan diwariskan. Hanya saja, bentuknya berubah.

Jika generasi sebelumnya mengangkat senjata, Kiai Muhdor memilih jalan pendidikan.

Langgar didirikan. Masjid dibangun. Pondok pesantren menjadi pusat gerak. Di sanalah masyarakat dihimpun, bukan untuk berperang, melainkan untuk belajar.

Di depan Pondok Gondang, dua pohon sawo ditanam. Bukan sekadar peneduh.

Ada pesan yang disematkan di sana. Sawwu shufufakum–rapatkan barisanmu.

Filosofi itu seperti menjadi penanda zaman. Bahwa perjuangan tetap berjalan, hanya saja caranya berbeda.

Jejak Kiai Muhdor kemudian berakhir di Kompleks Pemakaman Kramat Sangeng. Di situlah ia dimakamkan. Dan dari situlah, cerita lain bermula.

Nama Sangeng, menurut Budi, 75, warga setempat, bukan sekadar penanda wilayah.

Ia menyimpan kesan yang lama melekat: sangar. “Dulu orang lewat situ, seperti lihat apa gitu. Tidak berani, terus balik lagi,” kenangnya.

Kesan itu tumbuh dari keberadaan makam-makam yang dihormati warga. Selain Kiai Muhdor, ada pula makam Habib Abdullah Al-Haddad yang turut memperkuat aura sakral kawasan tersebut.

Ruang pun berubah makna. Ia bukan lagi sekadar jalur lintasan, melainkan wilayah yang dijaga –secara batin maupun kepercayaan. “Makanya dikeramatkan,” ujar Budi.

 

Dari Kampung Perajin Menuju Wisata Religi

Di Bendomungal, denyut ekonomi memang lama bertumpu pada usaha kecil berbasis keterampilan.

Dari generasi ke generasi, warga hidup dari kerajinan tangan dan produksi rumahan.

Bumbu racik menjadi salah satu yang paling lekat. Soto, rawon, gule, krengsengan, lodeh hingga Bali daging telur.

Resep-resep itu diracik dari dapur sederhana, lalu menyebar ke pasar-pasar dan warung makan di sekitar Bangil hingga luar daerah.

“Orang sini itu kreatif. Dari dulu hidupnya memang dari usaha rumahan,” kata Indra Bagus, Lurah Bendomungal.

Kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 5.277 jiwa itu, terbagi dalam empat lingkungan: Gondang, Bendomungal, Sangeng, dan Karanggayam. Masing-masing memiliki cerita sendiri.

Gondang dikenal kuat dengan jejak pesantren dan ulama. Sangeng hidup dalam kisah-kisah lama tentang kawasan keramat.

Sementara Bendomungal dan Karanggayam, tumbuh sebagai kawasan permukiman yang padat dengan aktivitas ekonomi warga. “Dulu Bendomungal itu terkenal banyak perajin,” ujar Indra.

Ia lalu menyebut satu per satu, seperti sedang membuka kembali peta ingatan kampungnya sendiri.

Ada pembuat bordir, pembuat sepatu bola, perajin terbang dan darbuka, sampai pembuat bumbu racik.

Bukan pabrik besar. Bukan industri dengan cerobong tinggi. Sebagian besar tumbuh dari rumah-rumah warga.

Namun, Bendomungal hari ini tak hanya bicara soal industri rumahan. Ada wajah baru yang mulai disiapkan: wisata religi.

Pusatnya berada di Kompleks Makam Keramat Sangeng, kawasan yang dulu dikenal warga sebagai tempat pemakaman umum sekaligus wilayah yang dianggap sakral.

Dulu, kata warga tua, orang melintas di sana dengan rasa segan. Kawasan itu gelap, penuh pepohonan, dan menyimpan banyak cerita tentang makam para tokoh agama.

Kini suasananya berbeda. Pada 2025, kawasan tersebut mulai ditata sebagai destinasi wisata religi.

Pemerintah mulai membangun fasilitas penunjang. Playground berdiri di salah satu sisi.

Gazebo dibangun untuk tempat istirahat peziarah. Food court mulai disiapkan untuk menghidupkan ekonomi warga sekitar. “Sekarang mulai dikembangkan jadi wisata religi,” ujar Indra.

Perubahan itu perlahan menggeser wajah Sangeng. Yang dulu identik dengan kesan angker, kini diarahkan menjadi ruang publik yang lebih terbuka.

Anak-anak bermain di sekitar area yang dulu hanya dikenal sebagai kompleks makam.

Meski begitu, Bendomungal seperti tak pernah benar-benar meninggalkan akarnya sebagai kampung perajin.

Di sela pembangunan dan perubahan zaman, suara mesin jahit masih terdengar.

Aroma bumbu racik masih keluar dari dapur-dapur warga. Dan di beberapa rumah, kerajinan lama masih bertahan meski tak sebanyak dulu. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#bendomungal #ulama #wisata religi #makam