Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menyingkap Karomah Kiai Brontojoyo, Sang Pembelah Hutan di Balik Legenda Jalan Bromo di Probolinggo

Arif Mashudi • Sabtu, 9 Mei 2026 | 13:23 WIB
KERAMAT: Makam Kiai Mbah Demang Haris Brontojoyo bersama istrinya yang berada di RT 06/RW 01 Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. (Arif Mashudi/Radar Bromo)
KERAMAT: Makam Kiai Mbah Demang Haris Brontojoyo bersama istrinya yang berada di RT 06/RW 01 Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

TAK banyak yang menyadari, bahwa bentangan lurus Jalan Raya Bromo yang menghubungkan Ketapang hingga Patalan, Kota Probolinggo, menyimpan kisah luhur tentang "babat alas" seorang ulama sakti.

Di sebuah sudut sunyi Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, tepatnya di RT 06/RW 01, ada makam Kiai Demang Haris Brontojoyo. Dialah yang menjadi sang pembuka jalan peradaban di Probolinggo.

Kiai Demang Haris Brontojoyo merupakan ulama asal Madura. Ia dikenal dengan nama Kiai Brontojoyo.

Sosoknya dikenang, bukan hanya karena kedalaman ilmunya. Melainkan juga karomahnya yang luar biasa saat mengubah hutan belantara menjadi pemukiman warga.

Konon, wilayah Pilang, hingga Triwung Kidul dan Patalan, Kecamatan Wonomerto, dulunya adalah rimba raya yang angker.

TEMPAT SINGGAH: Bangunan di dekat makam yang jadi tempat istirahat dan menginap orang yang datang ziarah. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

TEMPAT SINGGAH: Bangunan di dekat makam yang jadi tempat istirahat dan menginap orang yang datang ziarah. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

KAROMAH: Keberadaan makam Kiai Mbah Demang Haris Brontojoyo yang sosoknya dikenal memiliki karomah. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

KAROMAH: Keberadaan makam Kiai Mbah Demang Haris Brontojoyo yang sosoknya dikenal memiliki karomah. (Arif Mashudi/Radar Bromo)

“Dulu Kiai Brontojoyo ini, babat alas dari Pilang utara sampai Patalan. Jalan dibuatnya hanya dengan mengarahkan tongkat, pohon-pohon di depannya roboh seketika,” tutur Muhammad Tunggal, 50, juru kunci makam yang telah bertahun-tahun menjaga silsilah cerita ini.

Kesaktiannya tak berhenti di situ. Dalam sebuah cerita rakyat yang masyhur, sang Kiai pernah menancapkan jari telunjuknya, ke batang pohon raksasa sembari merapal basmalah.

Tak disangka, jari tersebut tembus hingga ke wilayah Patalan, merobohkan barisan pohon yang menutupi akses jalan.

Titik paling dramatis dalam perjalanan Kiai Brontojoyo, adalah saat ia menjumpai dua pohon raksasa yang dikenal sebagai pohon Trebung.

Pohon yang menyerupai pohon pinang raksasa itu, tak sanggup ditumbangkan meski sang kiai telah mengerahkan karomahnya.

Menghadapi rintangan itu, Kiai Brontojoyo kemudian bersinergi dengan dua sahabat karibnya, Kiai Samak dan Kiai Badri.

Di depan pohon Trebung tersebut, ketiga ulama ini bersimpuh, melangitkan doa kolektif memohon kekuatan Allah SWT demi kemaslahatan warga.

Keajaiban pun terjadi. Suara dentuman pohon tumbang menggetarkan tanah, menandakan keberhasilan mereka. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal penamaan wilayah tersebut.

“Ada dua pohon Trebung besar di sisi utara dan selatan yang akhirnya roboh setelah didoakan. Dari situlah muncul nama Trebung Dejeh yang kini menjadi Triwung Lor, dan Trebung Laok yang menjadi Triwung Kidul,” jelas Tunggal.

Hingga kini, makam Kiai Brontojoyo tetap menjadi magnet bagi peziarah yang ingin menyerap spirit perjuangan dan kesabaranya.

Sebuah pengingat bahwa setiap aspal yang dipijak di Jalan Bromo hari ini, merupakan warisan dari telunjuk dan tongkat sang kiai di masa lampau.

 

Pohon Kemuning Jadi Saksi Kesaktian Kiai Brontojoyo

Kesaktian Kiai Demang Haris Brontojoyo semasa hidup, rupanya meninggalkan jejak spiritual yang kuat hingga ia wafat.

Makamnya yang terletak di RT 06 / RW 01 Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, hingga kini masih diselimuti berbagai kisah mistis dan karomah yang melegenda di tengah masyarakat.

Muhammad Tunggal, 50, juru kunci makam, mengisahkan salah satu fenomena paling diingat warga, yakni keberadaan pohon Kemuning raksasa yang dulu berdiri kokoh di sisi utara makam.

Menurut penuturan kakeknya, Mugenam, pohon tersebut bukan sekadar tumbuhan biasa, melainkan simbol kepemimpinan nasional.

"Kakek saya dulu berpesan, pohon itu akan terus hidup meski sudah sangat tua. Namun, jika suatu saat pohon itu roboh dengan sendirinya, itu adalah pertanda akan adanya pergantian pemimpin besar di negeri ini," kenang Tunggal.

Ramalan itu pun terbukti. Pohon Kemuning tersebut tiba-tiba roboh tanpa sebab yang jelas.

Tak lama berselang, sejarah mencatat peristiwa besar, Presiden Soeharto lengser dari jabatannya.

"Saya masih ingat saat pohon itu roboh, tidak lama kemudian Pak Harto berhenti (lengser)," tambahnya.

Kisah lain yang tak kalah menggetarkan, adalah tentang seorang warga asal Leces, Probolinggo, yang meremehkan kesaktian di area makam tersebut.

Pria yang baru menikah dengan warga Triwung Kidul itu, mencoba menantang mitos pohon keramat yang konon tak bisa mati meski dibakar.

Nekat karena tak percaya, pria tersebut membakar bagian akar pohon. Anehnya, api yang membakar akar tersebut, terus menyala selama berhari-hari tanpa bisa dipadamkan.

"Setelah api akhirnya padam, pria yang membakar itu langsung jatuh sakit parah dan tidak lama kemudian meninggal dunia," ungkap Tunggal.

Meski kini jumlah peziarah tidak sebanyak dulu, Makam Kiai Brontojoyo tetap menjadi tempat pelarian bagi mereka, yang tengah dirundung masalah kehidupan.

Setiap Kamis Malam Jumat Manis, makam ini selalu kedatangan tamu dari berbagai daerah.

Tunggal mengaku, tidak pernah mencampuri urusan pribadi para peziarah yang datang.

Namun, dari raut wajah dan cerita yang berkembang, sebagian besar datang dengan harapan mendapat ketenangan atau wasilah atas masalah yang berat.

"Saya tidak pernah bertanya langsung mereka ada hajat apa. Tapi biasanya, mereka yang datang bermalam di sini sedang terhimpit masalah besar. Entah itu karena terlilit utang atau persoalan hidup lainnya," bebernya. (mas/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Pembabat Alas #bromo #makam #karomah #probolinggo