DESA/Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, tak hanya dikenal karena panorama alamnya yang eksotis.
Di balik keindahan itu, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul desa yang erat kaitannya dengan sebuah pemandian legendaris, Tirta Ageng.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Lumbang, Asmun menuturkan bahwa wilayah tersebut dulunya masih berupa hutan belantara.
Sejarah Desa Lumbang bermula dari kedatangan sejumlah tokoh yang diyakini merupakan keturunan Mpu Gandring pada masa Kerajaan Singosari.
“Dulu ada beberapa keturunan Mpu Gandring yang tidak sejalan dengan pemerintahan saat itu. Mereka akhirnya memilih keluar dari Singosari dan menetap di wilayah Lumbang,” ujar Asmun.
Para leluhur tersebut kemudian melakukan tirakat di kawasan Tirta Ageng. Di lokasi itu terdapat pohon Elo yang menjadi bagian penting dari penamaan desa.
Dalam proses tirakat, para sesepuh dipercaya mengalami peristiwa spiritual, yakni tubuh mereka terangkat oleh air hingga mengapung atau “kemambang”.
“Peristiwa itu dianggap sebagai tanda keberhasilan tirakat. Dari situlah muncul nama Lumbang, yang berasal dari kata Elo dan Kemambang,” jelasnya.
Tokoh-tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Lumbang antara lain Mbah Buyut Sri Murni, Mbah Nameng Joyo, Mbah Sentono, Mbah Tanjung, Mbah Keliling, dan Mbah Baridin.
Dalam struktur sosial kala itu, Mbah Buyut Sri Murni dianggap sebagai pemimpin atau sosok yang dituakan. Sementara Mbah Nameng Joyo berperan layaknya sekretaris.
Meski belum mengenal sistem pemerintahan formal seperti sekarang, keberadaan para sesepuh tersebut menjadi fondasi awal terbentuknya tatanan masyarakat di Desa Lumbang.
Salah satu tokoh tak kalah terkenal juga, adalah Mbah Sentono, yang memiliki kemampuan membuat gaman atau senjata pusaka.
Namun, saat wafat, ia memilih agar seluruh pusaka tersebut ikut dikuburkan bersamanya.
“Pusaka itu dianggap memiliki kekuatan yang berbahaya. Dikhawatirkan disalahgunakan, sehingga lebih baik dikuburkan bersama beliau,” terang Asmun.
Memasuki era modern, sistem pemerintahan desa mulai terbentuk pada 1953 dengan terpilihnya Saridan sebagai kepala desa pertama.
Ia dipilih bukan melalui pemungutan suara, melainkan karena dianggap memiliki ilmu dan kewibawaan.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Marto Utomo (1958–1968), yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Saridan. Selanjutnya, Ilwai memimpin pada periode 1968–1986.
Pada masa ini, sistem pemilihan kepala desa mulai menggunakan metode sederhana berupa voting dengan lidi.
“Lidi dimasukkan ke dalam lumbung. Sementara di bumbung, sudah ada tanda atau gambar milik masing-masing calon,” ungkap Asmun.
Kepemimpinan desa berlanjut kepada Mat Sahur (1987–1993), kemudian Hartugito sebagai penjabat kepala desa sekaligus kepala desa definitif hingga 2007.
Setelah itu, Sujinto menjabat pada 2008–2013, disusul oleh Asmun sendiri pada 2014–2019.
Saat ini, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh istrinya sejak 2021 hingga sekarang.
Tradisi Selamatan Desa, Merawat Warisan Leluhur
Selain sejarah panjangnya, Desa Lumbang juga memiliki tradisi turun-temurun yang masih dilestarikan hingga kini, yakni selamatan desa atau “kadesa”.
Tradisi ini digelar setiap satu tahun sekali, tepatnya pada Rabu Legi hingga Kamis Pahing.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Lumbang, Asmun, kadesa bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud rasa syukur masyarakat.
“Kegiatan ini untuk mendoakan keselamatan desa dan mengenang jasa para sesepuh. Karena tidak akan ada masa kini tanpa masa lalu,” katanya.
Rangkaian acara biasanya berlangsung selama dua hari dua malam. Melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai dari RT, RW, tokoh masyarakat, hingga warga umum.
Kegiatan yang digelar pun beragam, mulai dari doa bersama, hataman, hingga hiburan rakyat seperti tayuban, ojung, dan kerapan.
Dalam tradisi tersebut, warga juga menyiapkan ancak kecil berisi berbagai sesaji, seperti ayam panggang, rasul, aneka polo pendem, serta kembang tujuh rupa.
Khusus untuk Mbah Nameng Joyo, warga menambahkan rokok candu sebagai bentuk penghormatan terhadap kebiasaan beliau semasa hidup.
Melalui tradisi ini, masyarakat Desa Lumbang tidak hanya menjaga nilai spiritual, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kebersamaan.
Sebuah bukti bahwa sejarah dan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Sebab perlu diingat bahwa tidak akan ada masa kini kalau tidak ada masa lalu. Maka namanya sejarah itu harus dijaga dan dipelihara,” paparnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin