Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menelusuri Keagungan Batu Punden di Sukolelo Pasuruan, Benteng Spiritual dan Jejak Sang Pembabat Alas

Rizal Syatori • Sabtu, 18 April 2026 | 13:43 WIB
KERAMAT: Batu Punden yang dikenal keramat oleh warga Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
KERAMAT: Batu Punden yang dikenal keramat oleh warga Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

DI tengah derap modernisasi Kecamatan Prigen, sebuah batu besar berselimut lumut tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu sejarah panjang Dusun/Desa Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Terletak hanya 50 meter dari gapura masuk desa, situs yang dikenal sebagai Batu Punden ini, bukan sekadar bongkahan materi, melainkan detak jantung spiritual bagi warga setempat.

Batu yang berada di timur jalan berpaving dan menempati pelataran salah satu rumah warga ini, dipercaya sebagai petilasan sekaligus tempat peristirahatan Mbah Sarip.

Sosok legendaris tersebut dikenal masyarakat, sebagai orang sakti mandraguna yang pertama kali babat alas atau membuka lahan hunian di Dusun Sukolelo.

TERJAGA: Meski menjadi peninggalan sejarah, Batu Punden tersebut terjaga kelestariannya hingga sekarang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

TERJAGA: Meski menjadi peninggalan sejarah, Batu Punden tersebut terjaga kelestariannya hingga sekarang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

GAPURA: Jalan masuk menuju lokasi Batu Punden yang ditandai dengan gapura. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
GAPURA: Jalan masuk menuju lokasi Batu Punden yang ditandai dengan gapura. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

"Batu punden ini sudah ada sejak dulu, lokasinya tidak pernah berpindah. Cerita turun-temurun menyebutkan, di sinilah Mbah Sarip dulu bersemedi dan beristirahat," ujar Kepala Dusun Sukolelo, Suliono.

Ia mengenang, dahulu suasana di sekitar batu jauh lebih asri dan rimbun dengan naungan dua pohon raksasa.

Namun kini, meski pepohonan tersebut telah tiada, aura kewibawaan punden tetap terjaga di tengah permukiman yang kian padat.

Statusnya sebagai punden, membuat lokasi ini menjadi titik sentral setiap kali desa menggelar hajatan besar.

Dalam tradisi Sedekah Dusun yang dilaksanakan dua tahun sekali, batu ini menjadi lokasi pemberangkatan sakral.

"Setiap ada sedekah dusun, salah satu ancak dan tumpeng wajib diletakkan di sini terlebih dahulu. Dari titik batu inilah rombongan kirab resmi diberangkatkan," tambah Suliono.

Keberadaan situs ini, juga melahirkan norma tak tertulis di tengah masyarakat.

Warga setempat sangat menjaga sikap dan tidak berani berbuat sembarangan, di area punden.

Ada rasa hormat yang mendalam, bercampur kekhawatiran akan petaka atau kualat jika situs tersebut dirusak.

Untuk menjaga kelestariannya, kini sekeliling batu telah dipercantik dengan pagar pembatas dan tanaman hias.

Di bagian belakang, sebuah tembok berelief artistik dibangun untuk mempertegas identitas sejarahnya, menjadikan situs ini harmoni antara kearifan masa lalu dan estetika masa kini.

Bagi warga Sukolelo, merawat Batu Punden adalah cara mereka merawat ingatan terhadap jasa leluhur, memastikan bahwa identitas desa tak akan lekang oleh waktu.

 

Dijaga Macan Putih, Jadi Jujukan Pemburu Pusaka

Meski letaknya berada di tepi jalan dan dikelilingi permukiman padat warga, kesan wingit (keramat) tak lantas pudar.

Bagi masyarakat setempat, batu ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu sejarah dan pusat kekuatan spiritual.

Cerita tentang keangkeran batu ini sudah melegenda secara turun-temurun. Para tetua dusun kerap menjumpai fenomena di luar logika, saat melintasi area tersebut.

Penampakan makhluk astral berwujud macan putih dan ular besar konon sering menampakkan diri, seolah menegaskan keberadaan mereka sebagai "penjaga" punden.

"Batu ini ada penunggunya, berwujud macan putih dan ular," ujar Umama, 54, warga Dusun/Desa Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Keunikan lain yang menyelimuti batu ini adalah sifatnya yang konon tak tersentuh.

Warga percaya, batu tersebut tidak pernah bergeser dari tempat asalnya dan mustahil untuk dipecahkan dengan alat apa pun.

Upaya untuk memfungsikan lahan di atas punden pun, pernah menemui kegagalan.

Beberapa tahun silam, warga sempat membangun poskamling tepat di atas batu yang telah diurug tanah.

Namun, suasana di pos tersebut justru terasa mencekam dan tidak nyaman. Aura dingin yang menyengat, membuat warga tak betah berjaga di sana.

Akhirnya, bangunan tersebut dibongkar dan lokasi dikembalikan seperti semula.

Hingga kini, batu punden Sukolelo masih menjadi magnet bagi para pencari keberkahan spiritual.

Tak hanya warga lokal, peziarah dari luar daerah pun kerap berdatangan, terutama pada malam Jumat Legi.

"Tujuannya bermacam-macam. Bahkan, beberapa peritual mengaku, pernah mendapatkan benda pusaka seperti keris dari lokasi ini," papar dia.

 

Percantik Situs Batu Punden yang Keramat

Menyadari nilai sejarah dan sisi spiritual yang melekat pada Batu Punden di Dusun Sukolelo, Pemerintah Desa (Pemdes) setempat mengambil langkah nyata untuk merawat situs tersebut.

Sejak tahun 2021, area yang dikenal wingit ini bertransformasi menjadi lebih tertata tanpa menghilangkan kesan sakralnya.

Melalui alokasi Dana Desa (DD), Pemdes Sukolelo melakukan renovasi di sekeliling area punden.

Kini, batu bersejarah tersebut telah dipagari dengan pembatas yang rapi. Bagian lantainya dipasang cor beton.

Sementara dinding latar belakangnya, dihiasi dengan relief artistik dan tanaman hias yang menyegarkan pandangan.

Kepala Desa Sukolelo, M. Nur Maidin, menjelaskan, langkah mempercantik situs ini bertujuan untuk menjaga kearifan lokal, sekaligus menghilangkan kesan kumuh yang kerap melekat pada tempat-tempat keramat.

"Tujuan kami adalah agar warga, terutama generasi muda, tidak melupakan sejarah sosok yang telah babat alas (membuka lahan) dusun ini. Dengan dipercantik, situs ini jadi lebih terawat dan tidak terlalu menyeramkan," terang Maidin.

Meski kini tampil lebih modern dan estetis, fungsi spiritual batu punden ini tidak luntur.

Tradisi leluhur masih tetap berjalan di tengah masyarakat. Pada hari-hari tertentu, kepulan asap dupa dan taburan bunga tujuh rupa masih sering dijumpai di atas batu, diletakkan oleh mereka yang datang untuk berziarah atau sekadar merawat adat.

"Tradisi membakar dupa atau memberi bunga setaman memang masih ada sampai sekarang, meski frekuensinya tidak sebanyak zaman dulu. Namun, itu adalah bagian dari identitas warga kami yang tetap kami hormati," ulasnya. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pasuruan #batu #Punden #bersejarah #keramat