Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Bujuk Rawen, Pengembara Sakti yang Namanya Dikenang hingga Kini

Achmad Arianto • Sabtu, 11 April 2026 | 12:12 WIB
LELUHUR: Yusuf Wibisono menziarahi makam Bujuk Rawen yang merupakan Mbah Buyutnya. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
LELUHUR: Yusuf Wibisono menziarahi makam Bujuk Rawen yang merupakan Mbah Buyutnya. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

NAMA Bujuk Rawen sudah tidak asing lagi bagi mayoritas warga Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.

Ia merupakan pengembara yang melakukan perjalanan panjang. Sosok yang dikenal pula dengan nama Mbah Buyut Rawen ini, menjalani pertapaan dan menjadi sesepuh yang dihormati, sekaligus dikeramatkan oleh warga Dusun Jurang Dalam, Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.

Mbah Rawen diperkirakan lahir sekitar tahun 1826. Ia berasal dari pulau Madura.

Setelah berguru dan mendapatkan ilmu yang cukup, Mbah Rawen bersama tiga teman seperguruannya, diutus oleh Sang Guru untuk bertapa di salah satu pulau di Kabupaten Lumajang. Atas perintah gurunya tersebut, Mbah Rawen memulai perjalanan.

“Mbah ini asli Madura yang diutus oleh gurunya ke Pulau Jawa. Tetapi tidak sendiri, melainkan bersama teman seperguruannya,” kata Yusuf Wibisono, 37, cicit Bujuk Rawen mengawali cerita.

KUNO: Yusuf Wibisono menunjukkan gamelan peninggalan Bujuk Rawen yang saat ini masih digunakan. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
KUNO: Yusuf Wibisono menunjukkan gamelan peninggalan Bujuk Rawen yang saat ini masih digunakan. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
PENINGGALAN: Yusuf Wibisono (kanan) bersama Perangkat Desa Tegalsiwalan Rudi Hariyanto menunjukkan gong peninggalan Bujuk Rawen yang saat ini masih digunakan. (Achmad Arianto/Radar Bromo)
PENINGGALAN: Yusuf Wibisono (kanan) bersama Perangkat Desa Tegalsiwalan Rudi Hariyanto menunjukkan gong peninggalan Bujuk Rawen yang saat ini masih digunakan. (Achmad Arianto/Radar Bromo)

Perjalanan Panjang pun dilakoninya dari Madura ke lokasi yang telah ditentukan oleh gurunya.

Tidak hanya melakukan perjalanan darat dengan berjalan kaki, tetapi juga melakukan perjalanan laut.

Mereka menyeberangi laut dengan menaiki perahu nelayan dari Madura ke pulau Jawa.

Dari laut, ia kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Kabupaten Lumajang.

Tidak berhenti di situ, perjalanan laut kedua masih dilakukan untuk menuju sebuah pulau.

Para pengembara ini, kemudian membuat rakit dari bambu menuju pulau yang ditunjuk oleh gurunya.

“Konon Mbah Rawen bersama dengan temannya ini, pergi ke sebuah pulau yang masuk Kabupaten Lumajang tersebut, untuk bertapa. Melaksanakan perintah gurunya,” ucapnya.

Perangkat Desa Tegalsiwalan, Rudi Hariyanto menuturkan setelah beberapa tahun bertapa, akhirnya mereka meninggalkan pulau tersebut kembali ke arah utara.

Dalam perjalan, ada salah satu teman seperguruan, yang meninggal di dekat sungai Bondoyudo Lumajang.

Konon, ia kemudian dimakamkan di tempat itu juga. Sementara Mbah Rawen bersama dua teman lainnya, melanjutkan perjalanannya namun mereka kemudian berpencar.

Dalam perjalanannya, Mbah Rawen memilih untuk melakukan pertapaan di sebuah perempatan jalan di Desa Tegalsiwalan.

Pemilihan tempat ini dilakukan, karena saat melakukan perjalanan, ia melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Akhirnya, tempat itulah yang menjadi titik bertapanya.

“Beliau seolah mendapatkan petunjuk. Di sebuah perempatan jalan itulah, Mbah Rawen kemudian memilih bertapa. Ajaibnya, saat bertapa, sosoknya tidak terlihat oleh orang lain yang lewat,” tandasnya.

Bujuk Rawen dikenal akan kesaktiannya. Ia memiliki banyak ilmu dan karomah.

Selama Bujuk Rawen menetap di perempatan tersebut, konon ludah Bujuk Rawen tidak boleh terkena orang.

Baik disengaja atau tidak. Karena jika sampai terinjak atau tersentuh, maka orang tersebut akan terbakar.

Oleh karena itu, Bujuk Rawen kemana-mana selalu membawa wadah dari bambu untuk tempat ludahnya.

Tak jauh dari tempat Bujuk Rawen bertapa tersebut, kemudian didirikan tempat tinggal.

Hingga akhirnya, lokasi tersebut berangsur-angsur ramai dihuni oleh warga. Kemudian berubah menjadi sebuah perkampungan.

Bujuk Rawen kemudian wafat pada tahun 1931 dan dimakamkan di Dusun Jurang Dalam tak jauh dari tempatnya bertapa.

“Kisah Bujuk Rawen ini tumbuh subur dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Makamnya juga banyak diziarahi oleh warga dan hingga kini dipelihara oleh anak turunnya,” tandasnya.

 

Meninggalkan Budaya yang Lestari

Hadirnya Bujuk Rawen di Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, tidak hanya sekedar meninggalkan cerita dan legenda di tengah masyarakat.

Tetapi juga, meninggalkan budaya dan tradisi karapan sapi yang hingga kini diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

Yusuf Wibisono, cicit Bujuk Rawen mengatakan karapan sapi tersebut, bermula dari kesenangan Mbah Rawen terhadap kesenian tari-tarian dan musik tradisional yang berasal dari Madura.

Di mana musik dan tari-tarian tersebut, identik dengan karapan sapi dari daerah asalnya Madura.

Rasa cintanya pada budaya dan tradisi Madura itulah, yang kemudian membawanya sampai ke tempat singgahnya.

“Karapan sapi merupakan budaya leluhur. Jadi untuk hiburan, Mbah Rawen mengadakan karapan sapi dan hiburan pengiringnya,” katanya.

Yusuf menuturkan, banyak alat musik yang ditinggalkan buyutnya. Bahkan, hingga saat ini masih tersimpan rapi dan digunakan saat acara karapan.

Mulai dari gamelan, gong berbagai ukuran, kenong, kentongan yang terbuat dari batang kayu, kendang, dan alat musik pelengkap lainnya.

Alat musik ini, disimpan ditempat khusus dekat makam Bujuk Rawen. Alat-alat tersebut rutin ditabuh oleh anak turunnya saat Jumat Legi setelah Khotmil Qur'an.

Penabuhan alat tersebut, untuk menghormati jasa leluhur yang telah meninggalkan budaya dan tradisi di desa.

“Seperangkat alat gamelan lengkap ditabuh rutin. Juga, dipakai saat acara karapan sapi rutinan. Sayangnya, peninggalan Mbah Buyut beberapa sudah tidak digunakan karena kondisinya sudah rapuh,” terangnya.

Perangkat Desa Tegalsiwalan, Rudi Hariyanto menambahkan tradisi karapan sapi, hingga kini tetap lestari di Desa Tegalsiwalan, khususnya di Dusun Jurang Dalam.

Dilaksanakan setiap dua tahun sekali, setelah hari raya besar (hari raya Kurban). Memanfaatkan lahan pertanian milik warga, yang kemudian disulap menjadi arena karapan.

Rudi mengatakan, tradisi karapan sapi yang merupakan kesukaan Mbah Rawen ini, pernah ditiadakan.

Namun, banyak warga yang mengalami kesurupan dan sakit-sakitan. Khususnya mereka yang mempunyai niat mengikuti karapan sapi.

Hingga pada akhirnya, kerapan sapi tetap dilaksanakan dan dipercaya sebagai kunci keselamatan bagi warga setempat.

“Kalau karapan sapi memang dari dulu sudah dilakukan turun-temurun. Sampai sekarang, masih lestari. Alat yang digunakan untuk hiburannya masih pakai peninggalan Bujuk Rawen,” bebernya. (ar/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pengembara #madura #tegalsiwalan #sejarah #sakti