DI lereng sejuk Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, berdiri sebuah desa yang tak sekadar menjadi ruang hidup, tetapi juga menyimpan hikayat panjang tentang awal mula peradaban.
Desa itu bernama Wonokerso, desa yang diyakini sebagai yang tertua di kawasan setempat.
Mayoritas penduduknya adalah masyarakat Suku Tengger yang menggantungkan hidup dari ladang dan perkebunan.
Kabut tipis yang turun setiap pagi, seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang desa ini, sejak masih berupa hutan belantara hingga menjadi permukiman yang lestari.
Kasun Ledoksari, Hendrawanto, 33, menuturkan, dahulu wilayah ini hanyalah alas lebat yang belum tersentuh.
Hingga suatu ketika, datang seorang begawan dari Majapahit bernama Mbah Deso. Sosok inilah yang diyakini membuka hutan dan memulai kehidupan di sana.
“Ia membabat alas hingga akhirnya menjadi permukiman. Keturunannya pun berkembang dan menyebar ke beberapa daerah lain. Karena itu, di Kecamatan Sumber, Wonokerso dikenal sebagai desa dengan peradaban tertua,” ujarnya.
Nama Wonokerso sendiri mengandung makna mendalam. “Wono” berarti hutan. Sedangkan “Kerso” berasal dari kata karep atau kemauan.
Wonokerso berarti keinginan untuk tinggal dan membangun kehidupan di tengah hutan. Sebuah tekad yang diwariskan lintas generasi.
Warisan Mbah Deso tak hanya berupa cerita. Di desa ini, berdiri dua punden keramat yang diyakini sebagai peninggalannya.
Yakni, Punden Sanggar Pamujan di Dusun Krajan dan Punden Sanggar Kembang di Dusun Ledoksari. Kedua tempat itu, hingga kini dijaga kesakralannya.
Upacara adat seperti Ngiring Kucing kerap digelar di sana. Doa-doa dipanjatkan, sesaji diletakkan, dan masyarakat berkumpul dalam suasana khidmat.
Ritual itu bukan sekadar tradisi. Melainkan bentuk penghormatan pada leluhur yang membuka jalan kehidupan mereka.
Romo Dukun Desa Wonokerso, Sumartam, 69, menguraikan, kalender adat Tengger masih dijalankan dengan tertib. Peringatan Karo, Unan-Unan, Kasada, Kapat, hingga Kawolu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga.
“Ketika Unan-Unan, kami biasanya menyembelih sapi dan kerbau sebagai bagian dari ritual,” tuturnya.
Tradisi pamujan pun masih lestari. Warga meletakkan tamping atau sesajen di tempat-tempat keramat, persimpangan jalan, ladang, hingga sumber mata air.
Sebelum hajatan atau hari besar keagamaan, mereka mencuci beras di dua sumber mata air desa: Sumberan dan Pancor.
Semua itu menjadi bukti bahwa di Wonokerso, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Sejarah itu hidup, dijaga, dan diwariskan dengan penuh hormat.
Sakralitas yang Tetap Dijaga
Di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, kehidupan tak hanya diukur dari musim tanam dan panen.
Tetapi juga, ditandai oleh ritual-ritual sakral yang terus berdenyut dalam nadi masyarakatnya.
Saat Nyepi tiba, suasana desa berubah khusyuk. Warga membuat ogoh-ogoh berbentuk Buta Kala.
Patung raksasa itu, kemudian diarak menuju pura, lalu dibawa ke Jurang Kendil. Di sana, doa bersama dipanjatkan sebelum ogoh-ogoh dibakar.
“Itu simbol agar warga terhindar dari hal-hal buruk,” ungkap Romo Dukun Desa Wonokerso, Sumartam.
Tradisi ini menjadi gambaran kuat, bahwa masyarakat Wonokerso hidup dalam keseimbangan antara alam, manusia, dan dunia spiritual. Setiap ritual sarat makna, bukan sekadar seremoni.
Kesenian sakral pun menjadi bagian penting identitas desa. Ada Tari Topeng yang sarat filosofi, Tayup yang menjadi ekspresi kebersamaan, dan Kepang Dor.
Namun, ada pula batas yang tak boleh dilanggar. Warga Wonokerso memiliki satu pantangan besar, yakni tidak boleh menggelar kesenian bantengan dalam acara apa pun.
Larangan itu berkaitan dengan penghormatan terhadap Pundak Lembu yang berada di dekat desa.
Bagi warga, melanggar pantangan sama saja dengan menantang keseimbangan yang selama ini dijaga.
“Kalau itu dilanggar, tidak ada yang bisa menanggung akibatnya. Jadi, lebih baik jangan memaksa,” tegas Sumartam.
Di tengah arus modernisasi, Wonokerso tetap teguh memeluk warisan leluhur. Ritual, kesenian, hingga pantangan dijaga sebagai pagar tak kasat mata yang melindungi desa.
Wonokerso bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang sakral tempat sejarah, budaya, dan keyakinan berpadu.
Sebuah desa yang mengajarkan bahwa kemajuan tak harus menghapus akar, dan bahwa menghormati leluhur adalah cara menjaga masa depan. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin