SEBUAH batu berukuran besar di Dusun Dayu, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, diistimewakan warga.
Meski tampak seperti batu biasa, namun batu itu dianggap keramat, lantaran memiliki sejarah yang panjang.
Warga Dayu menyebutnya, Petilasan Watu Panji. Penamaan itu tak lepas dari bongkahan batu berukuran besar yang ada di kawasan setempat. Sementara kata Panji, merujuk pada penjaga kawasan setempat.
“Kami menyebutnya Petilasan Watu Panji dan menganggap kawasan batu ini, tempat keramat. Karena dihuni oleh makhluk penjaga dengan sebutan Raden Bagus Selo Panji," kata Kepala Dusun Dayu, Eko Wahyudi.
Konon, Raden Bagus Watu Panji dipercaya bisa memberikan keberuntungan.
Sehingga, banyak para bakul atau pedagang yang menaruh uang maupun bunga setaman di tempat tersebut. Entah saat hendak ke pasar ataupun sepulang dari pasar.
Begitu juga, ketika ada upacara pengiringan pengantin. Mereka berhenti di tempat ini. Melepas seekor ayam dan bunga.
“Karena dianggap keramat, makanya oleh warga dirawat. Bahkan, dijadikan punden,” sampainya.
Kepala Desa Dayurejo, Wahono, menuturkan Petilasan Watu Panji tak sekadar menjadi tempat keramat atau punden. Tetapi juga merupakan plawangan atau gerbang menuju Indrokilo.
"Cerita para orang tua dan leluhur di desa, Petilasan Watu Panji adalah Plawangan atau gerbang. Orang mau ritual ke Indrokilo, mampirnya ke situ dulu. Tentunya bagi yang tahu, dan tidak semuanya orang tahu," paparnya.
Ia menguraikan, Petilasan Watu Panji hanyalah satu diantara belasan tempat yang dikeramatkan.
Karena di wilayah Dayurejo, Kecamatan Prigen, banyak tempat lain, dianggap warga memiliki keistimewaan serupa.
Jadi Jujukan Peritual
Banyak yang percaya, Petilasan Watu Panji merupakan tempat istimewa. Lokasi itu, dianggap keramat.
Tak heran, jika banyak warga yang berdatangan ke sana. Khususnya, mereka yang hendak melakukan ritual.
Mereka yang datang, tidak hanya dari warga Dayu. Tetapi juga, luar daerah.
"Seringkali jadi jujukan orang melakukan ritual. Tujuannya beragam. Terutama malam hari, di hari-hari tertentu. Namun, ini hanya bagi mereka yang percaya,” ungkap Kepala Desa Dayurejo, Wahono.
Mereka yang datang, biasanya membawa bunga seteman. Selanjutnya, akan membakar dupa dan kemenyan.
Berikutnya, mereka akan memanjatkan doa, apa yang menjadi harapan dan keinginan, sesuai kepercayaan dan agama masing-masing.
"Tidak ada pantangan khusus. Yang penting tidak macam-macam dan bisa jaga sopan santun, itu saja," imbuhnya.
Bukan saja keramat. Kawasan setempat, juga dianggap wingit. Karena selain sosok Raden Bagus Selo Panji, juga dipercaya ada makhluk sakral lain yang menjaga.
"Makhluk astral lainnya berupa hewan, berwujud harimau. Beberapa warga pernah melihat, juga para tetua dulu," terang Kepala Dusun Dayu, Eko Wahyudi.
Dalam pelaksanaan sedekah Desa Dayurejo yang digelar dua tahun sekali, perwakilan warga dari Dusun Dayu juga mampir dulu ke tempat ini. Mereka datang untuk melakukan ritual sekaligus berdoa.
"Setelah selesai, baru membawa ancak untuk diarak dari dusun menuju Balai Desa Dayurejo. Hal ini menjadi rutinitas selama ini, pada saat ada sedekah desa," ulasnya. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin