Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sosok Dahlan Markam Kelap, Pemimpin Gerilyawan Probolinggo yang Melegenda

Arif Mashudi • Sabtu, 31 Januari 2026 | 13:05 WIB
SEJARAH: H.H. Bronkhorst dari Brigade Marinir Belanda sedang berbincang dengan Dahlan Markam Kelap Wijaya (peci hitam), seorang pemimpin gerilya lokal di daerah Probolinggo, 13 Februari 1948.
SEJARAH: H.H. Bronkhorst dari Brigade Marinir Belanda sedang berbincang dengan Dahlan Markam Kelap Wijaya (peci hitam), seorang pemimpin gerilya lokal di daerah Probolinggo, 13 Februari 1948.

SEORANG pejuang asal tanah Probolinggo, menjadi legenda. Namanya, adalah Dahlan Markam Kelap Wijaya.

Ia merupakan putra dari keluarga sederhana pasangan suami istri Kiai Siamun dan Arlian.

Kiai Siamun sendiri merupakan warga asli Kota Probolinggo yang bekerja sebagai penggarap tanah.

Sementara Arlian, merupakan warga asal Gunung Sir, Nguling, Kabupaten Pasuruan, yang sehari-harinya bekerja sebagai penenun kain.

Sosok Dahlan Markam Kelap Wijaya, lebih dikenal dengan panggilan Pak Kelap. Ia merupakan tokoh pejuang lokal dari Probolinggo. Baik menjelang maupun saat masa kemerdekaan Indonesia (1945-1949).

Berkat perjuangannya itulah, namanya melegenda. Sebab, ia banyak terlibat dalam perjuangan melawan penjajah dan perannya sebagai perwakilan gerilyawan rakyat setempat.

PEJUANG: Potret Dahlan Markam Kelap Wijaya yang merupakan pejuang legendaris asal Probolinggo.
PEJUANG: Potret Dahlan Markam Kelap Wijaya yang merupakan pejuang legendaris asal Probolinggo.

Pak Kelap bukan bangsawan, bukan pula orang berada. Ia tumbuh dari lumpur sawah dan debu jalanan.

Sejak kecil ia telah mengenal pahitnya hidup: bekerja sejak fajar, menunduk di hadapan mandor, dan menyaksikan ibunya menyisihkan air mata kala hasil kerja dirampas tanpa belas kasihaan.

Tubuh Dahlan tumbuh kuat ditempa matahari. Kulitnya legam, wajahnya keras, namun matanya menyimpan bara.

“Bapak itu, tubuhnya memang gelap. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Tapi orangnya, disipilin dan tegas,” kata Puji, 73 alias Mbah Cipluk, salah satu anak pak Kelap yang masih hidup.

Mbah Cipluk menceritakan, gelar Kelap itu bukanlah tanpa makna. Ada yang berkata, kulitnya legam terbakar matahari.

Ada juga yang memanggilnya Kelap, karena kecepatan bergerak dan sukar ditebak.

Laksana kilat yang membelah langit gelap. Namun yang pasti, namanya menggetarkan hati kawan dan lawan di masa penjajahan dulu silam.

“Saya dengar dari orang-orang itu, sebuatan Pak Kelap karena kesit, cepet kayak kilat saat menghindari tembakan dari tantara belanja atau penjajah,” terangnya.

Sejak muda, Pak Kelap menyaksikan bagaimana rakyat diperas, hasil bumi dirampas, dan suara orang kecil dipadamkan.

Karenanya, di dalam dadanya, tumbuh api perlawanan. Bukan karena dendam semata, melainkan karena cinta pada tanah kelahiran.

“Saya tidak tahu pasti perjuangan bapak seperti apa. Cuma yang saya tahu, bapak itu ke anak-anaknya dan keluarga perhatian. Bapak itu punya 14 anak,” ungkapnya.

 

Pejuang yang Juga Negosiator

Dahlan Markam Kelap alias Pak Kelap menjadi pejuang yang melegenda pada masanya.

Pak Kelap pernah menjadi perwakilan gerilya Indonesia dalam pembicaraan dengan Marinir Belanda, saat gencatan senjata tahun 1948 di Probolinggo.

Hingga kini, namanya tersohor sebagai pejuang di kalangan masyarakat Probolinggo.

Sementara itu, dilihat dari gaya pakaian dan senjata yang ditenteng Dahlan Markam, ada kemungkinan ia mendapatkan pendidikan militer di Heiho yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II.

Peranan Pak Kelap dalam Perjuangan, adalah sebagai Pemimpin Gerilyawan Lokal di Probolinggo.

Ia memimpin kelompok perjuangan rakyat yang berjuang melawan kekuasaan kolonial pasca Proklamasi Kemerdekaan RI.

Dalam perundingan dengan Marinir Belanda, menjadi salah satu momen paling terkenal dalam kisahnya Pak Kelap.

Kisahnya adalah ketika Pak Kelap, menjadi perwakilan gerilya Indonesia dalam pembicaraan gencatan senjata dengan Marinir Belanda di Probolinggo pada sekitar 13 Februari 1948, setelah Perjanjian Renville.

Dalam foto yang beredar itu, menceritakan peristiwa Pak Kelap berdiri bersama pihak Marinir Belanda, yang menjadi salah satu dokumentasi sejarah penting pada masa itu.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Pak Kelap bukan hanya berperang. Tetapi juga terlibat dalam upaya negosiasi yang strategis, untuk meminimalkan pertumpahan darah dan menegosiasikan kondisi bagi pejuang lokal.

“Bapak anak pertama dari empat saudara. Bapak meninggalnya di Kodim tahun 1978 dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kota Probolinggo,” kisah Puji, 73 alias Mbah Cipluk, salah satu anak pak Kelap yang masih hidup sambil mengingat, bapaknya meniggal saat ia sudah bekerja. (mas/one)

Editor : Jawanto Arifin
#gerilya #pejuang #perang #probolinggo #pahlawan