Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kentong Janger di Nguling Pasuruan, Seni Musik Tradisional yang Kembali Hidup di Tengah Modernisasi

Fuad Alyzen • Minggu, 25 Januari 2026 | 12:25 WIB
LINCAH: Penari musik tradisional Kentong Janger yang menunjukkan kebolehannya dalam sebuah acara Desa Nguling beberapa waktu lalu.
LINCAH: Penari musik tradisional Kentong Janger yang menunjukkan kebolehannya dalam sebuah acara Desa Nguling beberapa waktu lalu.

KENTONG Janger merupakan budaya kesenian musik tradisional yang lahir setelah Indonesia merdeka.

Musik yang terdiri dari gendang, kenong, gong, gamelan dan kecrek pertama kali lahir di Dusun Pandian, Desa/Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.

Pelaku dan pemain musik tersebut mayoritas warga Dusun Pandian. Bahkan musik ini sempat berjaya pada masanya.

Sampai kini, musik tradisional tersebut terus dilestarikan oleh warga yang dinaungi oleh pemerintah desa.

Salah satu pemain musik Kentong Janger, Atim Hariyanyo, 62, menjelaskan, musik Kentong Janger lahir setelah Indonesia merdeka. Sekitar tahun 1946-an musik Kentong Janger ini sudah dilestarikan.

“Setelah merdeka musik ini lahir. Bapak saya jadi penarinya zaman itu,” ujar pria asal RT 1/RW 12, Dusun Pandian tersebut.

PEMAIN LAWAS: Potret dua penari Kentong Janger pada era 1950-an.
PEMAIN LAWAS: Potret dua penari Kentong Janger pada era 1950-an.
BAMBU: Para pemain musik Kentong Janger yang memainkan alat musik yang rata-rata terbuat dari bambu.
BAMBU: Para pemain musik Kentong Janger yang memainkan alat musik yang rata-rata terbuat dari bambu.
PERTUNJUKAN: Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno saat tampil dalam pagelaran seni musik Kentong Janger. Ia merupakan salah satu orang yang berusaha untuk mengangkat kembali kesenian ini.
PERTUNJUKAN: Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno saat tampil dalam pagelaran seni musik Kentong Janger. Ia merupakan salah satu orang yang berusaha untuk mengangkat kembali kesenian ini.

Atim bercerita, lahirnya musik Kentong Janger, berawal dari banyaknya keturunan orang Banyuwangi yang membawakan musik tradisional ini ke Dusun Pandian.

Warga yang tertarik dengan musik Kentong Janger, beramai-ramai untuk belajar.

Musik asli Jawa itu kemudian menjadi hiburan warga di sana. Hingga akhirnya, menjadi sebuah grup musik.

“Waktu itu masih belum ada dangdut. Dan musik modern seperti sekarang. Patokan musiknya ya ini,” sampainya.

Nama grup waktu itu adalah Janger Budiutomo. Jadi, dahulu namanya bukanlah Kentong Janger.

Nama itu sendiri, diambil dari kata janger yang berarti penari. Dan asal nama tersebut dari Bali, yang dilestarikan orang Banyuwangi.

Budiutomo berarti mengutamakan budaya. Dengan nama inilah yang menjadikan wilayah Nguling terkenal dengan seni tradisional tersebut.

Warga pun kompak untuk melestarikannya. Bahkan, musik ini bertahan sampai turun temurun.

Waktu itu, jumlah pemain musik ini sebanyak 32 orang. Semuanya warga lokal. 17 orang memainkan musik yang terbuat dari baja.

Sementara, satu diantaranya, adalah penyanyi dengan bahasa Jawa. Sisanya, penari.

Dahulu, yang membuat terkenal Desa Nguling adalah seni musik tersebut. Sebab banyak orang yang mengundang. Hampir seluruh Jawa Timur pernah mengundang seni musik ini.

Cara memainkannya, 17 orang memainkan musik dan menyanyi serta memandu penari.

15 orang lainnya menari. Diantara mereka menjadi tokoh lokal, seperti memerankan tokoh Untung Suropati, Gajahmada dan lainnya.

Mereka kemudian menari. Tarian yang sering dibawakan, adalah jenis tarian pamantani kala itu. Kala itu, pemainnya kebanyakan dari kalangan pemuda.

Grup ini semakin larut semenjak lahirnya musik-musik dangdut. Hingga tahun 1980-an grup ini pun sirna. Hilang lantaran tidak ada penerus.

“Sempat redup dan mangkrak. Karena tidak adanya penerus. Anak muda lebih menyuaki musik jenis lain. Padahal musik ini lahir dari budaya lokal sendiri. Sekarang pemain mayoritas berusia antara 60 sampai 70-an tahun,” ujarnya.

 

Bangkit Setelah Sempat Redup

Tidak adanya penerus menjadi sebab musik ini kemudian hampir hilang. Penyebab lainnya, para tokoh-tokoh utama yang melestarikannya sudah banyak yang tutup usia.

Sang penerus lebih cenderung menyukai musik dangdut dan musik modern lainnya.

Hingga masa kepemimpinan Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno, musik ini kemudian dilestarikan.

Musik ini kemudian berubah nama menjadi Kentong Janger. Nama tersebut diambil lantaran alat musik yang digunakan, sebagian terbuat dari bambu.

Namun musik aransemen dan tariannya, serta cara mainnya tidak berubah. Walaupun tidak menggeliat seperti dahulu, Pemdes mengupayakan untuk melestarikannya. Hingga ditampilkan jika Pemkab Pasuruan meminta.

Salah satu pemain musik Kentong Janger, Atim Hariyanyo, 62, menceritakan, sekitar tahun 1980-an musik ini mangkrak total.

Bahkan, tidak ada yang meneruskannya. Sebab generasi penerus lebih menyukai musik yang lebih kekinian.

“Mangkrak. Sudah tidak ada lagi musik ini. Karena ya tidak ada penerus,” ujarnya.

Walaupun ada yang menginginkan untuk tetap melestarikan, satu sampai dua orang tidak cukup memiliki power untuk membangkitkan.

Artinya, ajakan untuk membangkit tidak membuat warga lainnya tergugah.

Sebab sudah kalah dengan musik lain yang berkembang sekarang. Warga beranggapan, musik ini telah redup.

Dan tidak akan ada peminatnya. “Kondisi ini berlangsung sampai tahun 2005,” imbuhnya.

Nah, pada tahun 2005 ada salah satu warga yang merupakan pemain lama Edi membangkitkan. Niat itu kemudian disetujui warga. Dengan kekompakan, akhirnya musik ini kembali hidup.

Namun para pemain, tak mengubah beberapa alat musim yang rata-rata tersebut dari bambu.

Hanya dua alat yang terbuat dari besi dan kayu. Yakni gong dan kentung. Karena mayoritas alat musik terbuat dari bambu itulah, kemudian berubah nama menjadi Kentung Janger.

“Iya kan ditambah alat kentung yang terbuag dari kayu. Kemudian ada angklung dan alat musik bambu lainnya. Karena itulah kemudian berubah nama,” jelasnya.

Kini, pemain alat musik ini, tak sebanyak dahulu. Hanya delapan orang. Mayoritas pemainnya, berusia antara 60 sampai 70-an.

Kebanyakan, mereka merupakan keturunan para pemain Kentong Janger terdahulu.

Upaya untuk melestarikan warisan budaya ini, terus digalakkan. Kasun Padian Untung menyampaikan, musik ini tetap akan dilestarikan.

Pihaknya akan tetap menjaga dan mengembangkan musik ini. “Kami sudah mengajak masyarakat. Namun yang baru terlibat, hanyalah penarinya. Karena mereka dari anak-anak pelajar. Sedangkan pemain musik rata-rata pemain lama,” ujar pria berusia 53 ini.

Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno, memaparkan, langkah pelestarian budaya Kentong Janger ini, dilaakukaan dengan menghadirkannya dalam berbagai acara.

Termasuk menjadikan Balai Desa Nguling sarana latihan.“Kami tetap tampilkan saat acara desa,” sampainya.

Saat ini, Pemerintah Desa Nguling berupaya menjadikan Kentong Janger menjadi ikon desa. Kentong Janger juga terdaftar di dinas terkait, sebagai kesenian karawitan.

“Musik ini tidak boleh redup. Kami akan hidupkan lagi di tengah gempuran digital,” terangnya. (zen/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pasuruan #musik tradisional #nguling #kesenian