DESA Satreyan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, bukan sekadar wilayah administratif.
Desa ini menyimpan jejak sejarah panjang, tradisi budaya yang kuat, serta semangat gotong royong yang masih hidup hingga kini.
Di tengah laju modernisasi, Desa Satreyan terus berupaya menjaga identitasnya sebagai desa yang berakar kuat pada nilai sejarah dan kearifan lokal.
Kepala Desa Satreyan, Imam Muzamil, menjelaskan sejarah desa ini telah berkembang sejak abad ke-16.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, wilayah Satreyan bermula dari sebuah permukiman sederhana yang dibangun oleh seorang tokoh bernama Ki Satreyo.
Ia merupakan seorang panglima perang keturunan Majapahit yang menetap bersama pasukannya di kawasan tersebut.
“Ki Satreyo dikenal sebagai pemimpin yang ramah, bijaksana, dan memiliki kemampuan bertempur yang luar biasa. Beliau sangat dihormati oleh masyarakat setempat karena jasanya menjaga keamanan wilayah,” ujar Imam saat ditemui di Balai Desa Satreyan.
Nama Satreyan sendiri diyakini berasal dari nama Ki Satreyo, sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas jasa dan pengabdiannya.
Dari pemukiman kecil itulah, desa kemudian berkembang hingga akhirnya secara resmi berdiri sekitar tahun 1623, berdasarkan catatan sejarah dan dokumen lama yang ditemukan oleh sejarawan lokal.
“Tahun tersebut menjadi tonggak penting karena menandai awal terbentuknya pemerintahan desa yang lebih tertata dan diakui oleh masyarakat,” lanjutnya.
Tak hanya kaya sejarah, Desa Satreyan juga dikenal sebagai wilayah dengan tanah yang subur dan makmur.
Mayoritas penduduk menggantungkan hidup sebagai petani, sebagian lainnya bekerja sebagai nelayan, peternak dan sektor pendukung ekonomi desa.
Kekayaan alam yang ada di sekitar wilayah Maron dimanfaatkan secara bijak untuk menunjang kesejahteraan warga.
“Alhamdulillah, seiring waktu desa kami terus berkembang. Infrastruktur mulai dari jalan desa, fasilitas umum, hingga balai desa semakin baik dan mendukung aktivitas masyarakat,” kata Imam.
Peran Desa Satreyan dalam sejarah perjuangan bangsa juga tak bisa dipandang sebelah mata.
Dalam catatan sejarah lokal, desa ini tercatat pernah menjadi salah satu basis pergerakan rakyat saat masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Banyak pemuda desa yang bergabung dalam laskar perjuangan dan turut serta dalam pertempuran melawan penjajah.
“Beberapa di antara mereka bahkan dikenal sebagai pahlawan lokal yang namanya masih dikenang hingga sekarang oleh masyarakat desa,” jelasnya.
Selain sejarah perjuangan, Desa Satreyan juga memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang masih dijaga hingga kini.
Salah satu tradisi penting adalah upacara adat tahunan yang digelar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus doa agar desa tetap diberi keberkahan dan kemakmuran.
Biasanya, rangkaian acara dipusatkan di Balai Desa Satreyan dan dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti lodrok dan pelawak rakyat, yang menjadi hiburan sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga.
“Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan, spiritualitas, dan rasa syukur masyarakat Satreyan. Ini warisan yang terus kami jaga,” tuturnya.
Gotong Royong Jadi Identitas Diri
Semangat gotong royong juga menjadi ciri khas masyarakat Desa Satreyan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.
Nilai ini tercermin dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari pembangunan fasilitas umum, perbaikan jalan desa, hingga kegiatan keagamaan yang melibatkan seluruh lapisan warga.
“Gotong royong adalah identitas kami. Warga masih memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan sesama,” ungkap Kepala Desa Satreyan, Imam Muzamil.
Namun demikian, Imam tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi desa di era modern.
Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, khususnya di kalangan generasi muda, membawa dampak sosial yang perlu disikapi dengan bijak.
“Kami menyadari ada tantangan, seperti menurunnya minat terhadap tradisi dan munculnya perilaku negatif di kalangan anak muda. Ini menjadi perhatian serius pemerintah desa,” ujarnya.
Pemerintah Desa Satreyan terus berupaya melakukan pembinaan melalui kegiatan kepemudaan, keagamaan, dan edukasi agar generasi muda tetap memiliki karakter yang kuat dan tidak tercerabut dari akar budayanya.
“Harapan kami, Desa Satreyan bisa terus maju tanpa meninggalkan jati diri. Sejarah, budaya, dan nilai gotong royong harus tetap menjadi fondasi pembangunan desa,” tegas Imam Muzamil.
Dengan sejarah panjang, kekayaan budaya, serta semangat kebersamaan yang masih terjaga, Desa Satreyan menjadi contoh bahwa kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya dalam merawat warisan leluhur dan membangun masa depan secara berkelanjutan. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin