Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Asal Usul Desa Alaskandang di Probolinggo, Hutan Rimba yang Disulap Jadi Permukiman

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 3 Januari 2026 | 14:25 WIB
PRODUK UNGGULAN: Seorang warga tengah mengolah kerajinan gerabah di Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk.
PRODUK UNGGULAN: Seorang warga tengah mengolah kerajinan gerabah di Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk.

TAK banyak desa di Kabupaten Probolinggo yang mampu merangkai sejarahnya hingga jauh ke belakang.

Bahkan menembus era Majapahit. Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk, adalah salah satunya.

Desa ini lahir dari sebuah alas rimba, tumbuh dalam lintasan zaman, dan bertahan hingga kini dengan jati diri yang masih terjaga.

Kepala Desa Alaskandang, Mohammad Muhibbur Ridho, menuturkan bahwa kisah desa ini bermula dari hutan lebat yang dahulu menutupi sebagian besar wilayah Besuk. Dari kondisi geografis itulah nama Alaskandang berasal.

“Nama Alaskandang diyakini berasal dari dua kata. Alas yang berarti hutan dan kandang sebagai tempat tinggal atau perlindungan,” kata Ridho.

Menurut cerita turun-temurun yang masih hidup di tengah masyarakat, hutan tersebut bukan sekadar bentang alam.

SUBUR: Selain gerabah, sektor pertanian juga menjadi penopang ekonomi warga. Terutama padi dan jagung.
SUBUR: Selain gerabah, sektor pertanian juga menjadi penopang ekonomi warga. Terutama padi dan jagung.
MEMBANGUN: Jalan lingkungan yang dibangun demi kenyamanan warga.
MEMBANGUN: Jalan lingkungan yang dibangun demi kenyamanan warga.

Hutan Alaskandang menjadi ruang hidup pertama penduduk awal, tempat mereka berladang, berlindung, dan mempertahankan diri dari ancaman hewan buas.

“Hutan itu dulu, menjadi sumber penghidupan sekaligus tempat perlindungan,” ujarnya.

Sejarah mencatat, pembabatan alas dilakukan pada masa Majapahit. Sosok Truno Joyo dipercaya sebagai tokoh yang pertama kali membuka hutan dan membangun permukiman.

“Truno Joyo adalah kepala desa pertama yang membabat Desa Alaskandang. Itu terjadi di era Majapahit,” jelas Ridho.

Dari masa itu, pemerintahan desa berjalan secara turun-temurun. Hingga kini, Alaskandang telah dipimpin oleh sembilan kepala desa.

Bagi masyarakat setempat, kesinambungan kepemimpinan tersebut menjadi simbol kuatnya sistem sosial desa sejak ratusan tahun silam.

Memasuki era kolonial Belanda, Alaskandang tak luput dari perubahan. Wilayah Besuk kala itu, masuk dalam kawasan strategis yang memiliki potensi ekonomi besar.

Pemerintah kolonial mulai membuka lahan pertanian dan membangun infrastruktur sederhana.

“Belanda membangun sarana pendukung untuk perdagangan hasil bumi seperti jagung, padi, dan hasil perkebunan,” tutur Ridho.

Alaskandang pun berperan sebagai desa penopang distribusi hasil pertanian.

Warga hidup dari bercocok tanam dan beternak, dengan gotong-royong sebagai napas kehidupan. Pola hidup agraris itu membentuk karakter masyarakat yang dekat dengan alam.

Pasca kemerdekaan, desa ini memasuki babak baru. Infrastruktur mulai dibangun, jalan desa diperbaiki, fasilitas pendidikan dan tempat ibadah berdiri.

“Setelah Indonesia merdeka, Alaskandang berkembang cukup signifikan. Aktivitas sosial dan keagamaan juga semakin kuat,” beber Ridho.

Di tengah perubahan zaman, tradisi tetap dijaga. Kegiatan bersih desa rutin digelar sebagai bentuk penghormatan pada alam dan leluhur.

“Bersih desa adalah wujud ikhtiar menjaga keharmonisan antara manusia dan alam,” tukasnya.

 

Jadi Sentra Gerabah Terbesar Probolinggo

Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, tak hanya dikenal karena sejarah panjangnya.

Desa ini kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi berbasis kerajinan tradisional.

Dari tangan-tangan warga, tanah liat disulap menjadi gerabah dan cowek yang menopang ekonomi desa.

Kepala Desa Alaskandang, Mohammad Muhibbur Ridho, menyebut Alaskandang sebagai penghasil gerabah dan pemain cobek terbesar di Kabupaten Probolinggo. Produksi terbesar terpusat di dua wilayah.

“Penghasil gerabah dan cowek itu ada di dua dusun, Nangger dan Panpan. Kemungkinan besar ini yang terbesar di kabupaten,” ungkap Ridho.

Kerajinan tersebut telah menjadi denyut ekonomi warga. Hampir setiap rumah di dua dusun itu, terlibat dalam proses produksi.

Mulai dari pengolahan tanah liat, pembentukan, hingga pembakaran. Bagi masyarakat, gerabah bukan sekadar produk, tetapi identitas desa.

Keunggulan ini tak lepas dari karakter masyarakat Alaskandang yang sejak dulu hidup dari alam.

Sejarah agraris dan peternakan membentuk keterampilan mengolah sumber daya sekitar.

“Sejak dulu masyarakat Alaskandang terbiasa memanfaatkan alam dengan kearifan lokal,” kata Ridho.

Kemajuan ekonomi ini berjalan seiring pembangunan desa. Pasca-kemerdekaan, Alaskandang terus berbenah.

Infrastruktur dasar menjadi prioritas. Jalan desa diperbaiki untuk menunjang mobilitas warga dan distribusi hasil produksi.

Fasilitas pendidikan dan tempat ibadah dibangun untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Perkembangan desa sekarang cukup pesat. Infrastruktur terus kami tingkatkan agar ekonomi warga juga semakin lancar,” jelas Ridho.

Selain kerajinan, sektor pertanian tetap menjadi penopang utama. Jagung dan padi masih mendominasi lahan pertanian warga.

Posisi Alaskandang yang strategis di wilayah Besuk membuat desa ini sejak masa kolonial menjadi bagian penting dalam distribusi hasil bumi.

“Dari dulu sampai sekarang, pertanian tetap menjadi kekuatan Alaskandang,” ujarnya. (mu/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Hutan Rimba #kerajinan #desa alaskandang #asal usul