Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Asal Usul Desa Sumberan di Probolinggo, Kawasan dengan Sumber Air Melimpah yang Dulunya Hutan Jati

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 27 Desember 2025 | 20:45 WIB
SAWAH: Kepala Desa Sumberan, Hasyim Said Mansur (kemeja putih) saat berada di lahan pertanian warga yang dulunya dialiri sumber mata air besar di desa tersebut.
SAWAH: Kepala Desa Sumberan, Hasyim Said Mansur (kemeja putih) saat berada di lahan pertanian warga yang dulunya dialiri sumber mata air besar di desa tersebut.

DI balik perkembangan pesat Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, terdapat sebuah kisah panjang yang diwariskan para sesepuh desa.

Dahulu, desa setempat merupakan kawasan hutan jati. Namun, setelah adanya Mbah Merta, lambat laun, kawasan setempat berubah menjadi pemukiman warga.

Kepala Desa Sumberan, Hasyim Said Mansur, menceritakan nama Sumberan tidak lepas dari sosok Mbah Merta.

“Semua cerita tentang nama desa ini, bersumber dari para sesepuh. Mereka menyampaikan turun-temurun, bahwa dulunya desa ini bernama Sumber Jati,” ujar Hasyim.

Konon, wilayah Sumberan pada masa lampau, merupakan hamparan hutan jati lebat.

Di tengah hutan itu terdapat sebuah sumber air besar yang menjadi pusat kehidupan hewan dan pelintas.

Dalam kurun waktu tertentu, kawasan hutan jati itu berubah wujud menjadi rawa besar.

MANFAATKAN: Kepala Desa Sumberan, Hasyim Said Mansur memanfaatkan sumber mata air di Desa Sumberan yang sangat mudah didapatkan untuk berbudidaya ikan koi.
MANFAATKAN: Kepala Desa Sumberan, Hasyim Said Mansur memanfaatkan sumber mata air di Desa Sumberan yang sangat mudah didapatkan untuk berbudidaya ikan koi.

Air sumber meluap dan menggenangi sebagian besar kawasan, membentuk lahan basah alami yang menjadi landmark wilayah tersebut.

Perubahan besar terjadi, ketika muncul figur yang sangat dihormati masyarakat kala itu: Mbah Merta.

Melihat kondisi wilayah yang berubah menjadi rawa dan dikelilingi mata air, Mbah Merta kemudian mengubah nama Sumber Jati menjadi Sumberan.

“Beliau yang menamakan. Sejak saat itulah, nama desa ini dikenal sebagai Desa Sumberan,” jelas Hasyim.

Kisah ini pun, menjadi bagian penting pada identitas desa, yang hingga kini masih terus diceritakan kepada warga, terutama generasi muda.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan mata air itu bukan sekadar kisah, tetapi simbol bahwa wilayah Sumberan memang dianugerahi potensi alam sejak dahulu.

Hasyim menambahkan, hingga kini masih terdapat banyak titik mata air di wilayah Sumberan.

“Kalau hujan, sumber-sumber itu keluar lagi. Rawa di masa lalu memang benar adanya,” tuturnya.

Meski sebagian mata air kini telah berubah fungsi menjadi persawahan, jejak sejarah itu tetap tertinggal pada kontur tanah dan aliran sungai kecil di beberapa dusun.

Desa Sumberan kini berusaha mengangkat kisah ini sebagai bagian dari identitas budaya.

Pemerintah desa berencana mengarsipkan seluruh cerita sesepuh agar hikayat tersebut tidak hilang ditelan zaman.

“Untuk menggali sumur, tidak perlu dalam. Seperti musim hujan saat ini. Hanya dengan menggali 0,5-1 meter, sudah keluar airnya. Sehingga, saking murahnya air ini, banyak juga masyarakat yang memanfaatkan untuk usaha ikan. Seperti ikan koi, lantaran sirkulasi airnya cepat dan baik untuk ikan,” papar Hasyim.

 

Bangkit Berkat Warisan Alam dan Tokoh Ulama Besar

Desa Sumberan di Kecamatan Besuk tidak hanya memiliki kisah panjang asal-usul, tetapi juga perjalanan pembangunan yang terus berkembang pesat.

Kepala Desa Sumberan, Hasyim Said Mansur, menuturkan bahwa banyak kemajuan desa yang terjadi hari ini, merupakan hasil dari pengelolaan sumber air alami dan peran tokoh ulama besar yang pernah memiliki kaitan dengan wilayah ini.

Salah satu figur penting adalah KH Hasyim Mino, pendiri Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton. Ia dikenal luas sebagai ulama kharismatik Kabupaten Probolinggo.

Menurut Hasyim Said Mansur, Kiai Mino memiliki peran besar terhadap pemanfaatan sumber air di Sumberan pada era 1960-an.

“Ada satu sumber besar yang dulu menggenangi lahan. Pada tahun 1960-an, Kiai Mino menutup sumber itu sehingga kemudian bisa menjadi lahan sawah produktif bagi masyarakat,” jelas Hasyim.

Sumber besar yang ditutup tersebut berada di wilayah Dusun Kolor, sebuah dusun yang memiliki sungai dan beberapa titik mata air aktif.

Dahulu, kata Hasyim, wilayah itu sering tergenang karena luapan sumber. Namun setelah penataan oleh Kiai Mino, kawasan itu berubah menjadi sawah subur yang hingga kini menjadi tumpuan ekonomi warga.

Selain sumber besar di Dusun Kolor, terdapat pula sejumlah mata air lain yang masih aktif.

“Banyak sumber. Kalau hujan, sumber-sumber itu keluar lagi. Ini membuktikan bahwa desa kami memang aslinya kaya air,” ungkap Hasyim.

Kandungan air tanah yang melimpah itu, menjadi alasan mengapa Sumberan menjadi salah satu sentra pertanian yang berkembang di kawasan Besuk.

Dalam dua dekade terakhir, Desa Sumberan mengalami peningkatan signifikan dalam pembangunan.

Jalan desa makin baik, pertanian semakin produktif, dan sejumlah fasilitas umum diperkuat.

“Desa ini sekarang bukan hanya tempat sejarah. Sudah berkembang pesat. Masyarakat bertani lebih mudah karena air tersedia, dan infrastruktur juga terus diperbaiki,” kata Hasyim.

Ia menambahkan bahwa karakter alam Sumberan sangat mendukung kemajuan desa.

Tanahnya subur, air melimpah, dan budaya masyarakat yang gotong-royong masih terjaga.

“Kemajuannya sekarang tidak lepas dari sejarah panjang itu. Mulai Mbah Merta yang menamai desa hingga Kiai Mino yang mengelola sumber air. Semua punya peran besar,” akunya.

Hasyim menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen menjaga warisan alam dan budaya tersebut sembari terus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Sumberan itu berkembang bukan karena kebetulan. Tapi karena sejarah dan kerja keras orang-orang terdahulu,” tegasnya. (mu/one)

Editor : Jawanto Arifin
#hutan jati #mata air #pertanian #desa sumberan #asal usul