Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Legenda Bujuk Shomad, Pengembara yang Menjadi Pembabat Alas Desa Brabe Maron Kabupaten Probolinggo

Achmad Arianto • Sabtu, 15 November 2025 | 19:25 WIB
DI ATAS BUKIT: Makam Kiai Abdus Shomad berada di atas bukit Dusun Beringin. Pengunjung terlebih dahulu harus menapaki puluhan anak tangga menuju makam.
DI ATAS BUKIT: Makam Kiai Abdus Shomad berada di atas bukit Dusun Beringin. Pengunjung terlebih dahulu harus menapaki puluhan anak tangga menuju makam.

DESA Brabe merupakan salah satu desa di Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, yang letaknya tergolong pelosok.

Desa yang lingkungannya masih asri ini, rupanya menyimpan legenda yang tumbuh subur dan mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.

Legenda kedatangan Kiai Abdus Shomad seorang pengembara hingga menjadi leluhur desa yang begitu dihormati.

Sebelum menjadi sebuah desa, Brabe merupakan sebuah kawasan hutan belantara.

Wilayah ini begitu angker. Karena masih didominasi oleh pepohonan besar yang alami dengan berbagai jenis hewan liar menempati hutan.

Lalu datanglah seorang pengembara bernama Kiai Abdus Shomad bersama dua saudaranya dari pulau Madura.

Setelah melakukan perjalanan setapak demi setapak, mereka sampai di hutan belantara yang nantinya menjadi cikal bakal penamaan Desa Brabe.

ASRI: Suasana puncak bukit dimana Kiai Abdus Shomad bersemayam. Kini menjadi jujugan warga untuk berziarah.
ASRI: Suasana puncak bukit dimana Kiai Abdus Shomad bersemayam. Kini menjadi jujugan warga untuk berziarah.
TERAWAT: Kardiyo juru kunci makam berfoto di makam Kiai Abdus Shomad pembabat alas Desa Brabe.
TERAWAT: Kardiyo juru kunci makam berfoto di makam Kiai Abdus Shomad pembabat alas Desa Brabe.

Letih setelah melakukan perjalanan panjang, mereka kemudian beristirahat di lereng bukit.

Setelah beberapa waktu beristirahat, ketiganya merasa cocok dengan lingkungan sekitar.

Lantas memutuskan untuk mendirikan pondokan persis di lereng bukit tersebut sebagai tempat tinggal.

“Bujuk Shomad (Kiai Abdus Shomad, red) merupakan orang pertama kali yang membabat alas desa. Datang bersama saudaranya dari pulau Madura,” kata juru kunci makam Bujuk Shomad, Kardiyo, 78, mengawali cerita.

Tak lama setelah membangun pondokan di sekitar bukit tersebut, rupanya terdapat sebuah rawa yang cukup besar namun angker.

Melihat kondisi itu, Kiai Abdus Shomad kemudian membabat alas sekitar rawa. Sehingga terlihat lebih bersih, terang, dan aman dari serangan bintang liar.

Kondisi lingkungan yang lebih nyaman, membuat orang lain dan warga yang melintas memutuskan untuk mendirikan pondokan untuk tempat tinggal.

Tempat tinggal ini, berada di sisi timur tempat tinggal Kiai Abdus Shomad.

Hingga akhirnya, banyak orang yang menempati wilayah ini. Lalu terbentuklah sebuah pemukiman.

“Setelah hutan dibabat dan dibersihkan, banyak orang lain yang turut mendirikan tempat tinggal. Dengan seizin Bujuk Shomad, akhirnya menjadi cikal-bakal sebuah dusun,” ucapnya.

Perangkat Desa Brabe Syafi’i mengatakan, berdasarkan kisah dari para sesepuh desa yang disaripatikan dalam sejarah desa tempat tinggal, lambat laun dekat rawa banyak yang menetap di sebelah timur kediaman Bujuk Shomad.

Seiring berjalannya waktu, lingkungan semakin ramai dan menjadi jalan utama. Pemukiman ini kemudian dinamakan Blok Krajan.

“Pembabatan hutan tidak berhenti, tetapi terus meluas ke beberapa wilayah lain. Kemudian menjadi cikal-bakal blok-blok lainnya,” katanya.

Pembabatan hutan dilanjutkan di sebelah barat. Jika sebelumnya pembabatan dilakukan hanya sendiri namun kali ini Kiai Abdus Shomad dibantu oleh warga.

Namun, prosesnya tidak semudah sebelumnya. Karena, mereka menemukan pohon beringin yang sangat besar dan angker yang konon dihuni oleh jin dan lelembut.

Pada pohon tersebut, ada mata air jernih yang mengalir deras. Sehingga masyarakat menyebutnya dengan Sumber Beringin.

Sumber Beringin ini kemudian menjadi salah satu sumber pemenuhan air bersih warga desa. Masyarakat memanfaatkannya sebagai tempat mandi dan mencuci cuci.

Mudahnya pemenuhan air bersih, membuat warga banyak yang bertempat tinggal disana. Hingga akhirnya disebutlah Blok Sumber Beringin.

Pembabatan dilanjutkan ke sebelah timur. Di sini Kiai Abdus Shomad dan warga menemukan sebuah jurang yang berukuran lebar 2 deppah jika dikonversi sekitar 4 x 4 meter. Jurang tersebut lalu dibersihkan.

Rupanya, jurang tersebut juga mengeluarkan mata air. Lambat laun, debit air yang dikeluarkan semakin membesar.

“Karena keluar air, akhirnya ada juga yang menetap di sana. Wilayah itu kemudian disebut Somor Tanto. Anehnya, jika musim hujan air yang keluar dari sumur ini begitu kecil. Sebaliknya saat musim kemarau justru airnya besar,” tuturnya.

Pembabatan hutan dilakukan ke sisi sebelah utara. Akan tetapi, kali ini dilakukan tidak nyambung dengan blok yang lain.

Sebab, masih ada pohon pemisah antara blok lainnya. Pohon tersebut salah satunya adalah pohon kemuning.

Pembabatan lalu dilakukan dengan berpindah-pindah. Warga setempat menyebutnya kap tepkap.

Wilayah ini kemudian menjadi Blok Langkap. Tapi seiring bejalannya waktu, penyebutannya diganti dengan Blok Kemuning.

Hal ini sesuai dengan keberadaan pohon kemuning yang ukurannya sangat besar.

Singkat cerita, akhirnya Kiai Abdus Shomad kemudian menikah. Setelah menikah itulah, Kyai Abdus Shomad melakukan musyawarah keluarga.

Apakah pembabatan perlu dilanjutkan apa tidak. Hasil musyawarah tersebut memutuska, bahwa pembabatan tetap dilanjutkan dipimpin langsung oleh Kyai Abdus Shomad.

Akhirnya Kiai Abdus Shomad membabat lagi rawa di wilayah pertama kali saat dirinya datang ke desa.

Namun kali ini, fokus pada sisi sebelah barat. Semenjak itulah Kiai Abdus Shomad menjadi warga yang dituakan.

Setelah pembabatan dilakukan, rawa yang ada cukup besar. Agar lebih bermanfaat, akhirnya rawa tersebut dibuatkan selokan atau saluran irigasi.

Aliran ini dimanfatkan untuk mengairi sawah pertanian masyarakat. Masyarakat setempat menyebut selokan tersebut rawe dengan aliran menuju ke sebelah timur.

Setelah rawe dibuat maka lambat laun orang-orang menyebutnya rawa-rawe. Seiring berjalannya waktu, rawa-rawe berubah menjadi rabe rabi.

Penyebutan ini kemudian menjadi lebih singkat menjadi berabi hingga pada akhirnya penyebutan menjadi brabe.

Wilayah desa yang sebelumnya telah di babat tersebut, kini menjadi wilayah Desa Brabe.

“Asal-usul pembabatan alas hingga legenda penamaan mengakar kuat. Diceritakan turun-temurun, sejak sesepuh dulu dan diyakini sampai sekarang,” kisah Syafi'i.

 

Makamnya Dikunjungi Warga Luar Negeri

Sosok Kiai Abdus Shomad yang karismatik, dihormati oleh masyarakat Desa Brabe.

Setelah meninggal, jenazah Kiai Abdus Shomad dimakamkan di puncak bukit di Dusun Beringin. Makamnya itu, kini ramai dikunjungi oleh warga untuk berziarah.

Juru kunci makam Bujuk Shomad, Kardiyo mengatakan, belum ada cerita yang pasti kapan Kiai Abdus Shomad meninggal dunia.

Terlepas dari semua itu, sosok kiai pembabatan alas Desa Brabe ini, begitu dihormati oleh masyarakat desa sampai lintas generasi.

Bahkan, pada momen-momen tertentu, makamnya ramai dikunjungi oleh warga untuk berziarah maupun untuk meminta keselamatan.

“Banyak yang mengunjungi makamnya. Apalagi saat warga hendak mengadakan acara. Misal pernikahan atau kegiatan yang mengundang banyak orang. Pasti lebih dulu datang ke makam untuk berziarah dan mohon izin, agar acaranya lancar tanpa hambatan,” katanya.

Makam Kiai Abdus Shomad berada diatas bukit. Tidak bisa dijangkau oleh kendaraan.

Sehingga, jika ingin datang ke makam, harus berjalan kaki menapaki sekitar 60 anak tangga semen sampai puncak bukit.

Setelah sampai puncak, terdapat beberapa makam. Makam Kiai Abdus Shomad berada pada sisi tengah.

Kondisinya begitu terpelihara dengan pagar stainless steel yang mengelilingi areal makam. Ditutup kelambu dan dilindungi oleh bangunan berkonstruksi beton.

Kardiyo mengatakan, pengunjung yang datang ke makam tidak hanya berasal dari Desa Brabe atau dari sekitar Kecamatan Maron.

Bahkan, ada beberapa warga luar negeri seperti Hongkong dan Singapura, tertarik untuk datang ke makam setelah datang dan mendengar cerita bahwa ada sesepuh desa yang dimakamkan di atas bukit.

Mereka pun takjub, karena posisi makam tergolong tidak biasa seperti makam pada umumnya.

Di mana, umumnya makam berada pada daerah dataran rendah atau wilayah yang datar, sehingga mudah dijangkau.

Tapi, tidak dengan makam Kiai Abdus Shomad, di mana pengunjung lebih dulu harus mendaki bukit.

“Pengunjung itu banyak. Pernah ada tamu dari luar negeri. Saat datang ke desa, penasaran dengan makam. Akhirnya datang ke sini (makam, red),” tuturnya.

Di usianya yang sudah senja, Kardiyo mengaku sebagai juru kunci makam, dirinya akan terus merawat dan memelihara makam tersebut.

Hal ini sebagai wujud rasa hormat pada sesepuh sekaligus leluhur desa yang telah memiliki jasa membabat alas hingga menjadi sebuah desa yang terus berkembang.

“Makam akan terus saya rawat dan pelihara. Agar warga desa, khususnya pemuda tahu bahwa ada sosok yang perlu dikeramatkan dan dihormati,” tandasnya. (ar/one)

Editor : Jawanto Arifin
#desa #Pembabat Alas #desa brabe #makam #legenda